Welcoming Ramadan

naztasaari-2018-2

Foto di atas diambil pada suatu hari menjelang magrib di Jakarta. Bukan di bulan Ramadan, tapi tetap meninggalkan kesan yang menyenangkan. Alasannya tak lain karena segores pelangi yang menampakan dirinya malu-malu di atas sana.

Saya ingat, saat itu saya sedang berjalan menuju sebuah masjid dekat kantor, tempat saya berjanji temu dengan salah seorang teman untuk salat magrib dan mendengar kajian bersama sambil menunggu isya. Satu hari yang sungguh sangat melelahkan telah saya lalui di kantor membuat langkah saya semakin berat. Namun, lelah dan sedih hilang saat saya melihat pelangi yang begitu cantik. MasyaAllah.

Bagi saya, menyambut Ramadan pun serupa dengan melihat pelangi yang munculnya hanya sesaat, tapi begitu menyenangkan. Dirasakan saja, Ramadan membuat saya berdebar-debar. Dulu, saya ingat betapa saya senang sekali menyambut Ramadan karena banyak hal-hal yang “menguntungkan”. Sekolah banyak libur dan jamnya berkurang, saya bisa berkumpul kembali dengan teman-teman dan saudara saya, orangtua saya pulang kantor lebih cepat, uang jajan lebih banyak terkumpul. Banyak ya keuntungannya.

Namun, ternyata “keuntungan” bulan Ramadan itu memang banyak sekali. Sampai-sampai tidak bisa dihitung dengan jari, karenanya Ramadan adalah bulan yang istimewa. Keistimewaan yang paling dirasa adalah manfaat puasa bagi tubuh dan hati kita. Memang sih puasa adalah hal yang lekat erat dengan Ramadan, tapi ada hal lain yang tak kalah istimewanya di bulan Ramadan (dan yang akan saya bahas dalam postingan kali ini. Yaitu, turunnya Alquran pada bulan Ramadan.

Sabtu,  4 Mei 2019 lalu, saya mendengarkan satu kisah menyentuh tentang bagaimana Allah SWT menurunkan Alquran pada nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat dan pedoman hidup untuk selanjutnya dibagikan pada seluruh umat manusia.

Alquran, sebagaimana yang kita tahu, adalah kitab mulia yang diturunkan langsung pada nabi Muhammad SAW tanpa perantara. Sangat istimewa, karena di dalamnya terdapat bimbingan yang dibutuhkan seluruh umat manusia. Alquran menjawab berbagai pertanyaan dari yang berkaitan dengan agama, norma kehidupan, bagaimana bersosialisasi, ilmu pengetahuan, hingga hal-hal yang di luar kapasitas pikiran manusia. Alquran juga sangat bisa menjadi obat bagi siapa saja yang membacanya.

Alquran diturunkan pada suatu malam di bulan Ramadan, yaitu malam lailatul qadar, yang dikatakan lebih baik dari 1000 malam. Mengutip kata-kata guru agama saya dulu, “Bayangkan, jika kita beribadah semalaman penuh saja sudah berlimpah pahala yang didapat, bagaimana jika kita beribadah 1000 malam lamanya?”. Inilah yang menjadikan Ramadan menjadi bulan yang sangat istimewa.

Kisah diturunkannya Alquran pada bulan Ramadan dan keistimewaannya terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 185.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

[شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ  [البقرة/185

Artinya: Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, (Al-Baqarah : 185)

Inilah yang menjadi alasan banyaknya anjuran untuk lebih mendekatkan diri dengan Alquran dan ibadah sunnah di bulan Ramadan. Salah. Harusnya saya tulis, inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa kita HARUS mulai lebih mendekatkan diri dengan Alquran. Kita sudah berada di bulan yang istimewa, insyaAllah kita bisa bermanja-manja dengan bulan Ramadan selama satu bulan penuh, maka bukan kah akan lebih baik jika kita memulai kebiasaan yang istimewa dan berkaitan dengan bulan ini juga?

Mengenai keistimewaan membaca Alquran sendiri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.”

(HR. Tirmidzi)

Menguntungkan? Bukan lagi. Banyak ya “untung”-nya.

Jika doa adalah media kita meminta, Alquran adalah tempat kita memahami dan “mendengarkan” langsung firman Allah SWT.

Mumpung semangat masih besar-besarnya menyambut Ramadan, tidak ada salahnya kita mulai dekat dengan Alquran bahkan untuk khatam dalam sebulan. Rumusnya adalah, dalam 1 Alquran terdapat 30 juz. 1 juz ada 10 halaman. Maka untuk khatam dalam 1 bulan, setidaknya setiap kali selesai salat wajib kita harus bisa membaca minimal 2 lembar atau 4 halaman Alquran. Mudah-mudahan kebiasaan yang dibawa dari rutinitas ini bisa berlanjut di kemudian hari.

Memulai kembali sesuatu yang sudah lama tidak ditekuni adalah hal yang sulit. Memang. Contohnya saja saat ini, saya merasakan betapa sulitnya kembali mulai menulis. Bagaimana sulit mencari kata pembuka yang tepat, lalu menyusunnya hingga menjadi satu paragraf utuh yang menarik untuk dibaca, sampai pada akhirnya bisa menyampaikan kisah yang ingin dibagikan dalam satu posting. Tapi kebiasaan tidak akan menjadi mudah jika kita belum memulainya.

Saya harap, postingan kali ini dapat diterima dengan baik dan memberikan manfaat bagi semua yang membaca ya. Jika menemukan kesalahan, jangan ragu untuk mengirimkan saya email atau balasan melalui kolom komentar.

Sumber:

Alquranul Karim

Ramadhan Bulan al-Qur`an

Cara Khatam Al Quran Selama 30 Hari, di Bulan Ramadhan

Advertisements

Buku Kumpulan Cerpen: Nadira

Processed with VSCO with  preset

Nadira

Penulis: Leila S. Chudori
Tebal: 308 halaman
Gramedia Pustaka Utama
2015

Beberapa hari lalu, akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca buku fiksi pertama di tahun 2019. Saya memang mulai membaca lebih lambat dari sebelumnya. Selain itu, pada awal tahun 2019 saya sempat dilanda kegalauan ingin mulai dengan buku apa.

Adalah buku berjudul “Nadira” yang saya selesaikan sebagai fiksi pertama di 2019. Nadira diceritakan sebagai seorang perempuan yang tak mudah meluapkan emosi. Usianya sudah cukup dewasa, ia pun adalah seorang yang tegar. Ia tertutup dan melalui hidupnya setelah tahun 1991 seperti robot. Seperti raga yang tak berjiwa.

Pekerjaannya sebagai jurnalis bukan menjadi satu-satunya latar yang membentuk karakternya seperti itu. Tapi juga masa kecilnya sebagai bungsu dari tiga bersaudara dalam keluarga dengan budaya yang berbeda. Sang ayah dan keluarga dari sisinya yang merupakan penganut Islam yang taat, sementara sang ibu berasal dari keluarga sekuler liberal. Serta kematian sang ibu, Kemala, yang menyisakan tanda tanya besar dalam hati Nadira, “Mengapa?”

Nadira menemukan tubuh ibunya tergeletak tak bernyawa di lantai rumah mereka. Kemala meninggal karena kemauannya, setelah menenggak banyak-banyak obat tidur. Setelahnya, kehidupan Nadira berubah.

Ya, buku ini seolah “menelanjangi” sosok Nadira. Menariknya, alih-alih novel, sosok Nadira diceritakan dalam kumpulan cerita pendek dari berbagai sudut pandang tokoh-tokoh yang ada di dalam buku.

Salah satu cerita berjudul “Nina dan Nadira” merupakan memoar kakak pertama, Nina. Dalam cerita pendek tersebut, dikisahkan Nina mengenang masa lalunya dengan Nadira. Bagaimana ia memperlakukan Nadira dengan ketidakakraban keduanya dan menyisakan perselisihan tak berujung hingga keduanya dewasa.

Dalam cerita lain berjudul “Sebilah Pisau” sosok Nadira diceritakan dengan diksi yang lebih indah dan manis. Bagaimana tidak, cerita pendek ini dikisahkan dari sudut pandang seorang rekan kerja Nadira, bernama Kris, yang rupanya tertarik dengan sosok misterius Nadira. Meski bukan akhir yang manis dan kisah cinta mesra-mesra, “Sebilah Pisau” boleh jadi cerita pendek favorit saya dalam buku ini. Di dalam cerpen ini, Kris menambahkan berbagai ilustrasi yang khusus ia buat dalam rangka mengingat Nadira. Kepalan tangan, gigitan apel, kaki yang menyembul dari kolong meja. Ah, begitu indahnya jika hati mulai main mata.

Nadira adalah buku ketiga Leila S. Chudori yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca Pulang dan Laut Bercerita. Keduanya berbentuk novel. Dan sama seperti dua karya yang saya baca terdahulu, Nadira berisi deretan paragraf penuh detail yang memacu adrenalin dengan diksi yang boleh dikatakan aduhai. Entah bagaimana proses menulisnya, saya selalu kagum dengan cara Leila S. Chudori bercerita. Sangat indah. Bahkan setiap tokoh dalam bukunya pun memiliki nama yang luar biasa. Dalam buku ini, Nadira Suwandi, Kemala, lalu Utara Bayu.

Cara berceritanya pun masih sama, kadang alurnya maju teratur, kadang maju-mundur. Menarik. Hanya saja, kadang saya harus melempar diri saya jauh ke cerpen-cerpen sebelumnya untuk mendapatkan momen yang pas. “Di belahan waktu mana tepatnya peristiwa dalam cerpen ini terjadi?”, misalnya. Bagi saya, tidak semua alur maju-mundur klop dengan konsep cerita pendek. Begitu pula dalam buku ini. Namun, saya cukup menikmati antologi kumpulan cerita pendek, yang boleh dikatakan tidak sebegitu pendek juga sih.

 

Lima Monster Penghancur Tim

WhatsApp Image 2018-11-05 at 14.50.37(1)

salah satu cuplikan Lima Monster Penghancur Tim, Edisi Manga

Lima Monster Penghancur Tim, Edisi Manga

Penulis: Patrick Lencioni, Kensuko Okabayashi
Tebal: 178 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Maret 2009

Mungkin ada di antara kita yang pernah merasa karir dalam tim kok kurang menanjak tapi tak bisa berbuat apa-apa. Atau mungkin ada uneg-uneg yang tidak bisa dikeluarkan dari dalam hati sehingga menumpuk dan jadi beban. Ada juga yang mungkin pernah merasa tidak klop dengan rekan kerja tapi cuma bisa mengeluh dalam hati saja.

Bisa jadi, kita sedang dikuasai satu atau bahkan lebih dari satu monster penghancur tim.

Sekitar bulan lalu, seorang rekan kerja memberikan saya sebuah buku berjudul Lima Monster Penghancur Tim, Edisi Manga. Komik yang dibuat oleh Kensuke Okabayashi bedasarkan buku populer The Five Dysfunctions of a Team karya Patrick Lencioni. Sambil merekomendasikan, teman saya itu bilang, “yah gambarnya gitu sih, cuma isinya bagus”.

Teman saya ini memang sering sekali merekomendasikan dan meminjamkan buku pada saya. Kebanyakan komik, mungkin karena beliau adalah seorang komikus. Dan kebanyakan buku komik yang saya pinjam dari beliau, gambarnya “lucu-lucu”. Maka ketika saya dapat peringatan soal gambarnya itu, saya agak “nyuekin” buku ini.

Buku ini lama tersimpan di rak buku. Padahal sudah disampul dan siap dibaca, tapi kok rasanya malas ya. Hingga suatu hari saya mulai membaca halaman demi halaman. Ternyata teman saya itu benar. Memang gambarnya kurang menggairahkan dan emosional, tapi kisah didalamnya sungguh sangat berisi.

Penulis menyajikan inti permasalahan yang umumnya dialami oleh perusahaan, atau lebih tepatnya sebuah tim, melalui studi kasus, yaitu berupa contoh cerita yang dialami oleh perusahaan Decision Tech.

Ceritanya tentang sebuah perusahaan bernama Decision Tech. Perusahaan software yang sukses di San Fransisco. Decision Tech dipimpin oleh para eksekutif yang memiliki jaringan luar biasa, dengan rencana kerja yang berbeda serta dukungan investor ternama. Dengan segala kelebihan itu, patutlah Decision Tech menjadi perusahaan impian bagi para pencari kerja. Namun, kini Decision Tech mengalami kemunduran. Bukan hanya dari segi bisnis, tapi juga moral karyawan yang mengakibatkan kinerja merosot.

Di tengah keterpurukan, Decision Tech kini punya pemimpin baru yang berupaya membedah dan membentuk tim solid di antara para eksekutif Decision Tech.

Kerja tim memang bukan perkara mudah. Dalam satu tim, besar maupun kecil, pasti ada perbedaan pendapat. Perbedaan tersebut sebenarnya dapat menjadi kelebihan mana kala tim solid dan tetap berpegang pada prinsip serta tujuan akhir kelompok. Perbedaan dalam tim, dapat memberikan kaca mata yang lebih luas dalam menyelesaikan suatu masalah dalam sebuah kelompok. Sayangnya, perbedaan itu sering menjadi bumerang penghancur mana kala setiap orang dalam kelompok membiarkan dirinya terlena bersama monster penghancur tim tersebut.

Dalam buku, ada lima monster penghancur yang mereka coba taklukkan. Kelimanya adalah:

  1. Tidak adanya rasa percaya
  2. Ketakutan pada konflik
  3. Tidak adanya komitmen
  4. Penghindaran tanggung jawab
  5. etidakpedulian pada hasil

Banyak hal dalam buku ini yang membuat saya tercengang. Misalnya saja seperti membiarkan kelompok dalam keadaan “tenang”. Tenang di sini adalah tidak adanya konflik produktif dalam kelompok. Loh, bukannya bagus ya kalau kita nggak berkonflik? Saya pun awalnya berpikiran demikian.

Namun, saya salah. Konflik produktif justru menjadi hal yang dibutuhkan tim untuk berkembang. Bukan sekadar “bumbu” untuk menjadikan hubungan antar tim semakin kuat, konflik produktif dibutuhkan tim untuk melihat suatu permasalahan dalam kaca mata yang lebih luas. Bagaimana tidak? Dalam satu tim ada beberapa orang dengan pemikiran yang berbeda-beda, bukan? Tapi konflik tidak boleh dibiarkan menjadi konflik. Ketika itu terjadi, sebaiknya segera cari penyelesaian sehingga konflik tidak berlarut-larut.

Hal lain yang saya rasa mungkin sering ditemui adalah tidak adanya rasa percaya. Saya pun bertanya-tanya, bagaimana mungkin ada sebuah kelompok bertahan jika tidak ada rasa percaya? Dan memang itulah yang terjadi, tim mungkin akan bertahan, tapi tidak dalam waktu yang lama. Bagaimana pun juga, kepercayaan adalah fondasi, dasar, pangkal suatu hubungan.

Monster-monster itu menggerogoti tim dengan satu dan lain penyebab hingga akhirnya muncul ego pribadi, tujuan pribadi, di atas kelompok yang menjadikan satu per satu dari tim tidak lagi peduli dengan hasil akhirnya.

Membaca buku ini sebagai seorang karyawan, saya seperti disodori kaca. Mana saja dalam diri saya yang dirasa harus diperbaiki dalam kerja sama tim. Untuk pemimpin tim pun saya rasa buku ini memberikan kelebihan tersendiri. Karena kebetulan, contoh kasus dalam buku ini adalah mengenai kepemimpinan. Cocok lah ya. Buku ini juga dilengkapi analisis monster penghancur dan kiat-kiat menghadapinya.

Cerita dalam buku memang berlatar sebuah perkantoran, tapi kerja sama tim sebenarnya tidak hanya dialami di kantor saja. Dalam membangun hubungan, rumah tangga misalnya atau persahabatan, dibutuhkan “tim” yang kokoh untuk membuatnya tetap maju dan berkembang untuk mencapai tujuan akhirnya.