Aku dan perasaan “terlalu malas”-ku

Peringatan: posting ini berisi luapan kecewa, gelisah, dan marah yang tidak bisa timbul tapi tidak juga tenggelam. Isinya pun ngalor-ngidul entah apa tujuannya. Benar-benar posting untuk meluapkan apa yang ada di dalam hati, tanpa niat menyinggung siapa pun. Terserah, mau percaya apa tidak.

Suatu hari, aku menonton sebuah video motivasi yang diunggah di Facebook oleh motivator Xandria Ooi. Dalam video, Xandria dengan cerdas memaparkan bahwa setiap manusia punya sudut pandang yang berbeda dan kompleks. Sudut pandang yang berbeda-beda inilah yang pada akhirnya melahirkan pemikiran dan perilaku yang berbeda pula. Sayangnya, kita sering kali lupa dengan perbedaan sudut pandang itu.

Absennya pemahaman soal perbedaan sudut pandang ini, kadang justru berujung pada pertikaian. Sebagai contoh, beberapa tahun lalu di lingkungan tempat tinggal saya sempat memanas antara RT satu dengan RT lainnya akibat portal. Pemasangan palang di jalan utama dinilai penting bagi RT satu demi keamanan. Warga RT satu sepakat kalau jalan utama harus diportal mengingat sebentar lagi libur lebaran dan penjagaan pun semakin longgar. Masalahnya, jalan utama yang ditutup juga menjadi jalan yang dilalui warga RT lainnya untuk lalu-lalang ke depan komplek menuju rumah, dan sebaliknya. Bisa saja lewat jalan lain, tapi tentu menghabiskan waktu dan tenaga karena harus memutar lebih jauh. RT lainnya memandang bahwa pemasangan portal adalah tindak egois karena jalan utama RT satu tidak ingin dilalui oleh banyak orang. Bagi RT lainnya, akses jalan utama penting dibuka, terutama untuk mengantisipasi adanya keadaan darurat, seperti warga yang sakit dan lainnya. Untungnya, masalah bisa teratasi setelah kedua perwakilan RT duduk bersama dan berdiskusi soal kebutuhan satu sama lain terkait jalanan utama.

Topik yang sama juga sering sekali aku temui dalam video-video, bacaan, gambar-gambar di media sosial. Perbedaan sudut pandang ini memang besar sekali dampaknya. Kedua RT tadi hanya contoh kecil, bayangkan jika dua negara bersitegang akibat absennya pemahaman ini. Aku pun termasuk dalam orang yang setuju dengan hal ini. Karenanya, dalam berbagai kesempatan rekonsiliasi, memahami sudut pandang orang lain adalah hal yang penting.

Namun, pemahaman saja tidak cukup. Aku rasa, seseorang harus punya kadar empati yang minimal “cukup” untuk mengurai kerumitan perbedaan sudut pandang itu. Saling mengalah dan berbesar hati juga jadi “pelengkap” yang mesti hadir agar tidak terjadi kesalahpahaman. Yang paling sering mama katakan adalah: “coba kamu bayangin kalo jadi dia”. Menurut mama, dengan begitu minimal kita bisa tahu posisi mereka, paham, dan mau bertindak.

Sayangnya, empati saat ini sepertinya sangat mahal. Untuk sekadar merelakan bangku kereta pada mereka yang bertulang renta saja masih banyak kaum muda yang enggan. Entah bagaimana empati ini bisa hadir untuk memahami perbedaan sudut pandang.

Lalu yang terakhir, menurut ku pun harus ada kemauan. Kemauan untuk menjelaskan, kemauan untuk mendengar. Beda sudut pandang tidak akan serta merta jadi sama, atau orang lain tidak akan bisa tiba-tiba paham dengan apa yang kamu lakukan hanya dengan melihat apa yang kamu lakukan saja. Kadang, penting untuk menjelaskan dengan baik mengapa kamu berpikiran demikian, berkata seperti itu, dan lain sebagainya. Pun, lawan bicara harus punya kemauan untuk mendengarkan penjelasan itu. Kenapa kemauan bukan kemampuan? Karena semua orang mampu jika mereka mau.

Aku tahu, posting kali ini hanya sebatas “menurutku, menurutku, dan menurutku”. Tidak ada dasar yang kuat. Tapi mungkin inilah satu-satunya cara aku menjelaskan dan mengingatkan kepada aku dan mungkin mereka (atau kalian, terserah) yang terlalu sibuk menilai hingga kadang lupa telinga itu untuk mendengar dan juga tak ingat di mana mereka menyimpan empati itu, jadi tak paham-paham. Atau paham, tapi lalu apa?

Atas absennya dua hal tersebut, satu hal yang baru aku sadari dan sesali adalah mereka yang masih punya orang tua lengkap kemungkinan besar tidak akan paham kekhawatiran dan ketakuan orang-orang yang hanya memiliki satu orang tua. Terdengar kejam? Tapi itulah yang aku rasakan. Tapi apa itu penting sekarang? Toh, aku bahkan sedang tidak punya kemauan untuk menjelaskan secara rinci. Sudah tidak ada keinginan untuk membuat orang lain paham.

Yang ingin aku tekankan dalam posting ini adalah, kita memandang sesuatu dari sudut yang berbeda. Sudah.

Advertisements

Apa saja yang bisa disimpan

naztasaari-2018-1

Botol minyak angin itu tak lagi berisi. Isinya sudah habis bukan karena dipakai, melainkan merembes entah ke mana. Kertas merek-nya sudah koyak. Saya yang memasukannya ke kantong jaket jeans tapi lupa hingga si botol harus ikut tercuci esok harinya. Adalah Ezzy, sahabat saya di sekolah dasar yang memberikannya pada saya. Itu adalah ketika perpisahan SD di Kota Bunga, Puncak, Bogor. Sejak dulu, saya selalu bermasalah dengan perjalanan jauh. Hampir selalu masuk angin. Dan Ezzy “meminjamkan” saya si minyak angin karena tahu, saya adalah satu dari sedikit anak yang akan pulang sendirian tanpa orang tua, naik bus. Ezzy takut, saya muntah di jalan. Lepas SMA, saya sempat menelepon Ezzy ke rumahnya. Ezzy masih ramah. Ia juga hanya tertawa saat saya membahas tentang minyak angin itu. Ah Ezzy, saya rindu.

Setumpuk surat dengan tulisan “Untuk: Tasya” dan dilipat-lipat kecil juga menjadi penghuni kotak ini. Suratnya beragam. Surat-surat dari penggemar rahasia? Bukan. Kebanyakan, dari sahabat pena yang entah di mana sekarang dan ditulis mulai SMP hingga SMA. Ada juga kertas-kertas yang berisi percakapan di dalam kelas. Tentang rencana makan mie ayam sepulang sekolah, rencana main ke rumah siapa setelah pelajaran olahraga, dan tentang artis Korea yang dulu belum sepopuler sekarang. Ada pula kartu-kartu ucapan selamat ulang tahun yang ditulis dengan indah oleh teman-teman SMP hingga kuliah. Di antara kertas itu, ada sebuah kertas berisi deretan angka, nilai Antropologi, dengan tulisan “Naztasya O.K.” di bagian atas. Nama itulah yang tertera di buku absen guru SMA saya. Salah ketik.

Lalu ada tiket-tiket. Tiket pertama kali saya naik kereta bisnis ke Yogyakarta. Perjalanan yang sangat berkesan. Disusul dengan tiket perjalanan lain yang saya lakukan sendiri-sendiri. Lalu ada tiket festival-festival yang dulu saya kunjungi. Festival budaya Jepang, Matsuri banyaknya. Dulu, penjual takoyaki hanya bisa ditemui di festival ini. Makanya saya tergolong yang rajin datang hanya untuk melihat cosplay dan beli takoyaki. Di Hotel Salak, di Kemayoran, di UI, entah di mana lagi. Karcis bus Transjakarta. TMII, Monas, perpustakaan-perpustakaan. Tiket nonton. Waktu saya sekolah, saya tidak banyak nonton di bioskop. Tapi setiap tiket bioskop yang saya tonton, dengan atau tanpa teman selalu saya simpan. Yang berkesan adalah tiket nonton film berjudul The Final Destination. Saya masih ingat bagaimana saya takut naik eskalator gara-gara film ini.

Ada jepitan rambut pertama dan terakhir yang diberikan mama pada saya. Jepitan yang cantik dan sangat saya sayangi. Hingga sekarang sudah rusak, tetap saya simpan. Mama tidak pernah suka kalau saya “memacam-macamkan” rambut saya. Maka, adalah hal yang tak biasa jika mama membelikan jepitan rambut.

Bintang pertama yang dibuatkan Shinta untuk saya.

Kartu telat masuk kelas pertama yang saya dapat sepanjang bangku kuliah.

Gantungan kunci dengan ukiran nama yang dibeli papa di Ferry menuju ke Lampung tahun 2004 lalu.

Dan yang terakhir masuk ke dalam kotak adalah jarum infus pertama saya. Saya benar-benar tidak mau dirawat di rumah sakit lagi, ya Allah. Saya benar-benar tidak ingin melewati malam-malam sendiri saya di tempat asing itu. Tempat itu begitu dingin dan menakutkan.

Hari ini saya kembali memasukkan beberapa benda ke dalam kotak. Salah satunya, karcis dan gelang masuk The World of Ghibli. Meski demikian, rasanya berbeda menyimpan benda-benda itu dulu dan sekarang. Terlalu banyak hal-hal berharga yang tidak sempat diabadikan. Terlalu banyak kenangan serupa pelajaran yang hanya sempat menjadi renungan.

Entah apa yang akan saya lakukan dengan kotak ini. Mungkin sudah saatnya melepaskan satu-per-satu benda dalam kotak. Mungkin sudah saatnya mengisi kotak dengan hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Atau mungkin, saya diamkan saja kotak itu teronggok di sudut kamar sampai di suatu hari nanti saya kembali membukanya dan bernostalgia. Seperti hari ini.

Tasya, ingat ya..

naztasaari2

Duduk dengan nyaman, baca dengan tenang. Mari kembali ke masa lalu..

“Katanya, Allah itu suka mendengar doa umat-Nya. Makanya kalau doa kita belum dijawab, jangan putus asa”.

Aku tidak tahu, kapan dan dari mana tepatnya aku mendengar kalimat itu pertama kali. Rasanya sudah bertahun-tahun lalu. Entah dari televisi, buku yang ku baca, atau malah salah seorang teman berkata demikian. Tapi kata-kata yang sama ku dengar kembali dari salah seorang temanku, Laras.

Ketika itu kami sedang duduk di rumahnya. Berbincang tentang kehidupan yang penuh kejutan. Tidak mudah ditebak, tapi memaksa kita untuk siap.

Tahun 2016 lalu, Laras membawa aku dan patah hatiku karena kehilangan semangatku ke Yangti di Purwokerto. Ya, Yangti yang ku sebut di postingan lalu adalah nenek Laras. Beliau kehilangan penglihatannya, tapi tidak pernah bosan dan lelah menimba ilmu. Menajamkan telinga, mulai mendengar suara, dan mencari tahu.

Yangti bilang, “Allah menciptakan manusia ini sempurna, mbak Tasya. Penglihatan hilang ya memang sedih, tapi bukan berarti harus sedih terus. Masih ada telinga, masih bisa meraba”

..dan masih banyak hal lain di dunia ini yang bisa kamu syukuri, Tasya
Jangan lupa nikmat lain yang diberikan Allah kepada kamu, saat satu doa belum terjawab atau saat berhadapan dengan satu musibah. Masalahmu itu kecil, jangan dibesar-besarkan. Kamu punya pegangan, genggam erat. Allah mau kamu berusaha lebih, Allah mau mendengar doa mu lebih banyak, Allah mau kamu mendekat, lebih dekat..

Laras boleh jadi salah satu sahabat terbaik yang aku punya. Seseorang yang mungkin banyak ku sebut dalam cerita-ceritaku, meski tanpa menyertakan namanya. Seseorang yang sangat ku syukuri kehadirannya. Laras yang tidak pernah lelah mengembalikan aku ke dunia saat aku berada di atas awan, dan tidak pernah ragu menarikku ke daratan saat aku tenggelam. Yang berani mengingatkan aku bahwa aku salah, bahwa aku tidak benar, bahwa aku sudah benar, bahwa aku sebaiknya bangkit.

“Kepercayaan diriku susut, Ras. Mengecil sampai lebih kecil dari guntingan kuku”, aduku pada Laras.

“Jangan lah, Tas. Jangan minder. Nggak ada yang salah dari lu, lu percaya gue, kan?”

Aku percaya. Sepercaya Laras padaku, meski tidak perlu ku ceritakan apa masalahku.

 

 

“Siapa pun penyebabnya, nggak boleh dendam. Mesti ikhlas. Semua terjadi kan karena izin Allah”

Kata-kata itu ku dapat dari papa. Orang yang paling tegas sekaligus paling lembut yang ku kenal. Aku ingat, dulu ketika aku harus pulang malam, beliau yang sedang tidak enak badan akan menungguku di depan pagar rumah. Beliau akan menunggu aku sampai mematikan lampu dan tidur, karena tahu aku sangat takut gelap. Beliau akan memanggilku ke ruang tamu, menyalakan lampu paling terang dan menyuruhku mengaji walau terbata-bata selepas Isya.

Beliau yang mengajarkan untuk melepaskan diri dari rantai dendam. Biar saja orang lain melukai hatimu, tapi jangan sekali-kali jadi orang yang melukai hati orang lain. Biar saja idemu dicuri, cari ide lain dan jangan dongkol, jangan dendam, jangan rusak hati karena hal-hal seperti itu.

Aku merindukannya. Aku merindukannya menjemputku di malam hari selepas les bahasa Inggris. Aku rindu pa..

Tidak pernah sekali pun ada niat untuk mengecewakan papa dan mama. Kepercayaan mereka lah yang ku jaga. Karena senyum mereka adalah kebahagiaan bagi ku.

Semoga sampai saat ini, tidak ada satu pun kepercayaan mama yang luntur akibat apa pun ya, Sya.

Soal luka di hatimu, siapa pun penyebabnya, relakan. Jangan dipikirin terus, nggak ada guna, Sya. Coba senyum pada mereka, berdamai dengan mereka, berdamai dengan diri sendiri. Mereka mungkin tidak berniat jahat. Ingat kamu masih punya Allah, kamu masih punya waktu untuk menyembuhkan hati.

 

 

Lagi pula, untuk apa kamu memulai? Untuk siapa kamu memulai? Maka selesaikan.

Ingat, niatmu memulai dan terus berjalan bersama niatan itu ya, Sya.

Jangan lupa, senyum.

 

 

Tapi boleh nggak aku nangis sekali aja? :’)