Lima Monster Penghancur Tim

WhatsApp Image 2018-11-05 at 14.50.37(1)

salah satu cuplikan Lima Monster Penghancur Tim, Edisi Manga

Lima Monster Penghancur Tim, Edisi Manga

Penulis: Patrick Lencioni, Kensuko Okabayashi
Tebal: 178 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Maret 2009

Mungkin ada di antara kita yang pernah merasa karir dalam tim kok kurang menanjak tapi tak bisa berbuat apa-apa. Atau mungkin ada uneg-uneg yang tidak bisa dikeluarkan dari dalam hati sehingga menumpuk dan jadi beban. Ada juga yang mungkin pernah merasa tidak klop dengan rekan kerja tapi cuma bisa mengeluh dalam hati saja.

Bisa jadi, kita sedang dikuasai satu atau bahkan lebih dari satu monster penghancur tim.

Sekitar bulan lalu, seorang rekan kerja memberikan saya sebuah buku berjudul Lima Monster Penghancur Tim, Edisi Manga. Komik yang dibuat oleh Kensuke Okabayashi bedasarkan buku populer The Five Dysfunctions of a Team karya Patrick Lencioni. Sambil merekomendasikan, teman saya itu bilang, “yah gambarnya gitu sih, cuma isinya bagus”.

Teman saya ini memang sering sekali merekomendasikan dan meminjamkan buku pada saya. Kebanyakan komik, mungkin karena beliau adalah seorang komikus. Dan kebanyakan buku komik yang saya pinjam dari beliau, gambarnya “lucu-lucu”. Maka ketika saya dapat peringatan soal gambarnya itu, saya agak “nyuekin” buku ini.

Buku ini lama tersimpan di rak buku. Padahal sudah disampul dan siap dibaca, tapi kok rasanya malas ya. Hingga suatu hari saya mulai membaca halaman demi halaman. Ternyata teman saya itu benar. Memang gambarnya kurang menggairahkan dan emosional, tapi kisah didalamnya sungguh sangat berisi.

Penulis menyajikan inti permasalahan yang umumnya dialami oleh perusahaan, atau lebih tepatnya sebuah tim, melalui studi kasus, yaitu berupa contoh cerita yang dialami oleh perusahaan Decision Tech.

Ceritanya tentang sebuah perusahaan bernama Decision Tech. Perusahaan software yang sukses di San Fransisco. Decision Tech dipimpin oleh para eksekutif yang memiliki jaringan luar biasa, dengan rencana kerja yang berbeda serta dukungan investor ternama. Dengan segala kelebihan itu, patutlah Decision Tech menjadi perusahaan impian bagi para pencari kerja. Namun, kini Decision Tech mengalami kemunduran. Bukan hanya dari segi bisnis, tapi juga moral karyawan yang mengakibatkan kinerja merosot.

Di tengah keterpurukan, Decision Tech kini punya pemimpin baru yang berupaya membedah dan membentuk tim solid di antara para eksekutif Decision Tech.

Kerja tim memang bukan perkara mudah. Dalam satu tim, besar maupun kecil, pasti ada perbedaan pendapat. Perbedaan tersebut sebenarnya dapat menjadi kelebihan mana kala tim solid dan tetap berpegang pada prinsip serta tujuan akhir kelompok. Perbedaan dalam tim, dapat memberikan kaca mata yang lebih luas dalam menyelesaikan suatu masalah dalam sebuah kelompok. Sayangnya, perbedaan itu sering menjadi bumerang penghancur mana kala setiap orang dalam kelompok membiarkan dirinya terlena bersama monster penghancur tim tersebut.

Dalam buku, ada lima monster penghancur yang mereka coba taklukkan. Kelimanya adalah:

  1. Tidak adanya rasa percaya
  2. Ketakutan pada konflik
  3. Tidak adanya komitmen
  4. Penghindaran tanggung jawab
  5. etidakpedulian pada hasil

Banyak hal dalam buku ini yang membuat saya tercengang. Misalnya saja seperti membiarkan kelompok dalam keadaan “tenang”. Tenang di sini adalah tidak adanya konflik produktif dalam kelompok. Loh, bukannya bagus ya kalau kita nggak berkonflik? Saya pun awalnya berpikiran demikian.

Namun, saya salah. Konflik produktif justru menjadi hal yang dibutuhkan tim untuk berkembang. Bukan sekadar “bumbu” untuk menjadikan hubungan antar tim semakin kuat, konflik produktif dibutuhkan tim untuk melihat suatu permasalahan dalam kaca mata yang lebih luas. Bagaimana tidak? Dalam satu tim ada beberapa orang dengan pemikiran yang berbeda-beda, bukan? Tapi konflik tidak boleh dibiarkan menjadi konflik. Ketika itu terjadi, sebaiknya segera cari penyelesaian sehingga konflik tidak berlarut-larut.

Hal lain yang saya rasa mungkin sering ditemui adalah tidak adanya rasa percaya. Saya pun bertanya-tanya, bagaimana mungkin ada sebuah kelompok bertahan jika tidak ada rasa percaya? Dan memang itulah yang terjadi, tim mungkin akan bertahan, tapi tidak dalam waktu yang lama. Bagaimana pun juga, kepercayaan adalah fondasi, dasar, pangkal suatu hubungan.

Monster-monster itu menggerogoti tim dengan satu dan lain penyebab hingga akhirnya muncul ego pribadi, tujuan pribadi, di atas kelompok yang menjadikan satu per satu dari tim tidak lagi peduli dengan hasil akhirnya.

Membaca buku ini sebagai seorang karyawan, saya seperti disodori kaca. Mana saja dalam diri saya yang dirasa harus diperbaiki dalam kerja sama tim. Untuk pemimpin tim pun saya rasa buku ini memberikan kelebihan tersendiri. Karena kebetulan, contoh kasus dalam buku ini adalah mengenai kepemimpinan. Cocok lah ya. Buku ini juga dilengkapi analisis monster penghancur dan kiat-kiat menghadapinya.

Cerita dalam buku memang berlatar sebuah perkantoran, tapi kerja sama tim sebenarnya tidak hanya dialami di kantor saja. Dalam membangun hubungan, rumah tangga misalnya atau persahabatan, dibutuhkan “tim” yang kokoh untuk membuatnya tetap maju dan berkembang untuk mencapai tujuan akhirnya.

Advertisements

Quick Review: 3 Mentai Don di Jakarta

WhatsApp Image 2018-10-26 at 18.47.30

Setelah poke bowl (rice bowl asal Hawai) populer, kini giliran mentai don. Sebenarnya mentai don bukan makanan baru. Kalau diamati, komposisi mentai don serupa dengan jenis sushi dengan saus mentai. Pun, beberapa gerai sushi punya varian don atau rice bowl dengan toping mentah maupun matang serta siraman saus mentai di atasnya.

Belakangan mentai don menjadi populer di media sosial, terutama di Jakarta. Dan saya, sebagai salah satu korban “laper mata” Instagram, termasuk yang rajin mencoba mentai don. Di Jakarta sendiri, saya menemukan tiga tempat yang menawarkan menu mentai don. Harga mereka bervariasi, dapat ditemukan di Instagram, because yes I found them out through Instagram as well, dan rasanya juga so yumm! So, here’s the review.
Sugashi

WhatsApp Image 2018-10-26 at 18.47.30 (2)

When it comes to mentai don, I referred to Sugashi. Meskipun Sugashi adalah mentai don terakhir yang saya coba dari ketiganya, saya justru ngiler dengan mentai don pertama kali dari akun Sugashi. Sejak pertama mengikuti saya sangat-sangat-sangat penasaran mencicipi Sugashi. Beberapa teman bilang, saus mentai Sugashi mirip saus mentai sebuah gerai sushi kesohor. And I must admit it, yes they both taste similar!

Saya memesan Sugashi dari aplikasi Go-Jek. Just search “Sugashi” through go-food. Tiga menu utama Sugashi dengan tampilan foto yang menggiurkan akan langsung muncul.

Sugashi menawarkan premium salmon mentai don yang tersedia dalam dua ukuran, reguler dan besar, serta salmon kani mentai don yang hanya tersedia dalam ukuran reguler. Saya memesan premium salmon mentai don ukuran reguler, harganya Rp60.000. Untuk porsi besar harganya Rp95.000. Anda juga bisa meminta ekstra salmon atau saus mentai dengan biaya tambahan.

Di dalam satu bowl alumunium foil berdiameter sekitar 13 cm, ada nasi pulen khas sushi, salmon aburi dengan kematangan yang pas, serta siraman saus mentai yang dibakar bagian atasnya. Masih dalam bowl yang sama, sebagai pelengkap Sugashi menambahkan potongan nori dan tobiko di tengah, juga secuil wasabi di pinggir. Selain satu porsi mentai don, pesanan saya juga dilengkapi saus shoyu, bubuk cabai, dan semacam remah-remah tempura dalam kemasan terpisah.

Sugashi punya dua outlet yang keduanya terdaftar di aplikasi Go-Jek:

  1. Intercon Plaza, Blok F No.15 Jl. Meruya Ilir Raya No. 14, Meruya, Jakarta
  2. Apatemen Madison Park, Kios No.C 16, Jl. S. Parman, Kav.28, Tanjung Duren, Jakarta

 

DinDon’s Mentai Don

WhatsApp Image 2018-10-26 at 18.47.31

Another tasty mentai-don. DinDon’s Mentai Don adalah satu-satunya di antara ketiga gerai mentai don yang belum terdaftar di aplikasi Go-Jek. Tapi, yang paling sering saya pesan hahahaha. Karena seorang teman di media sosial, akhirnya saya mencoba mentai don untuk pertama kali dari DinDon’s Mentai Don. Pertama kali mencoba, saya langsung jatuh cinta.

DinDon’s Mentai Don menawarkan variasi toping yang lebih banyak dari dua mentai don lain yang saya coba, yaitu crab stick, salmon, dan wagyu. Crab stick dan salmon dapat dipesan dalam satu porsi. Selain toping, pilihan ukuran setiap porsi-nya pun lebih beragam. Selain itu, bagi penggemar mie, nasi pun bisa diganti dengan mie. Bisakah Anda bayangkan, bagaimana mie yang lembut dan selalu jadi favorit berpadu dengan salmon, saus mentai, dan tobiko? Yumm yumm yumm!

Saya sendiri pernah mencicip ketiga toping dengan nasi. Ketiganya saya suka! Favorit saya wagyu. Sangat lembut, wagyunya gemuk dan berlimpah. Awalnya saya pikir akan aneh memadukan saus mentai dengan wagyu, tapi saya salah. Mereka berjodoh!

Menulisnya saja, saya jadi terbayang wagyu gemuk yang mampir di setiap suapan. Dalam satu sendok, saya bisa merasakan nasi pulen yang meski tak mirip dengan nasi sushi tapi sungguh nikmat dengan siraman saus shoyu samar-samar, wagyu empuk, saus mentai dengan telur ikan terbang berlimpah yang dibakar di bagian atasnya. Wah-wah, sangat suka!

Sayangnya, seperti yang saya bilang tadi, DinDon’s Mentai Don belum terdaftar di aplikasi Go-Jek. Pemesanan dilakukan melalui aplikasi LINE, satu hari sebelumnya (made by order). Itulah mengapa, bisa saja memesan dalam ukuran selain yang tersedia.

Dari ketiganya, DinDon’s Mentai Don dapat dinikmati dengan harga yang ramah kantong. Mulai dari Rp25.000 untuk seporsi kani mentai don ukuran kecil hingga Rp95.000 untuk salmon mentai don ukuran terbesar 20×20 cm! Dan rasanya tak kalah sedap dari mentai don lain.

 

ByAnind

WhatsApp Image 2018-10-26 at 18.47.30 (1)

Penyuka makanan berkeju dan meleleh-leleh, dipastikan akan ngiler begitu masuk ke Instagram ByAnind. Karena tidak hanya mentai-don, ByAnind juga menyajikan banyak sekali variasi makanan yang looks so tempting. Terbaru, ada dimsum dengan saus mentai di atasnya.

Dalam akun Instagramnya, ByAnind mengklaim dirinya sebagai “First Mentai Shirataki”, karenanya menu utama ByAnind kebanyakan diolah dengan dasar shirataki sebagai pengganti nasi. Semisal casserole, shirataki tek-tek, dan tentu mentai don-nya. Karena menu utamanya shirataki, jadi bisa dipastikan ByAnind menjadi gerai mentai-don yang tepat untuk penikmat makanan sehat. Dan ya, mentai don bukan satu-satunya spesialisasi dari ByAnind.

Saya sendiri baru mencicipi menu salmon kani mentai don dengan nasi di ByAnind. Yang menarik dari mentai don olahan ByAnind adalah, nasi dan shiratakinya tidak polos. Ada semacam nori flakes yang membuat santapan dasar-nya, entah itu nasi atau shirataki, terasa lebih gurih. Pun, saus mentai ByAnind lebih kental dan lebih pedas dibanding dua yang lainnya. ByAnind juga menyajikan variasi mentai don dengan keju di tengahnya. Oh so yumm!

ByAnind bisa dipesan melalui aplikasi Go-Jek. Carilah “ByAnind” tanpa spasi di fitur Go-Food, dan siapkan uang Rp40.000 hingga Rp85.000 untuk menikmati santapan lezat dari ByAnind. Dapur ByAnind sendiri ada di Jl. Duren Tiga Indah 5 I No.9, Pancoran, Jakarta.

Dapur ByAnind juga sempat diliput oleh Net.TV, silakan dilirik..

Saya sudah mencicipi ketiganya. Saus mentai ketigannya punya rasa yang gurih, nikmat, dan lezat dengan caranya masing-masing. Sangat menggoda lidah. Yang mana yang saya rekomendasikan? KETIGANYA!

Aku dan perasaan “terlalu malas”-ku

Peringatan: posting ini berisi luapan kecewa, gelisah, dan marah yang tidak bisa timbul tapi tidak juga tenggelam. Isinya pun ngalor-ngidul entah apa tujuannya. Benar-benar posting untuk meluapkan apa yang ada di dalam hati, tanpa niat menyinggung siapa pun. Terserah, mau percaya apa tidak.

Suatu hari, aku menonton sebuah video motivasi yang diunggah di Facebook oleh motivator Xandria Ooi. Dalam video, Xandria dengan cerdas memaparkan bahwa setiap manusia punya sudut pandang yang berbeda dan kompleks. Sudut pandang yang berbeda-beda inilah yang pada akhirnya melahirkan pemikiran dan perilaku yang berbeda pula. Sayangnya, kita sering kali lupa dengan perbedaan sudut pandang itu.

Absennya pemahaman soal perbedaan sudut pandang ini, kadang justru berujung pada pertikaian. Sebagai contoh, beberapa tahun lalu di lingkungan tempat tinggal saya sempat memanas antara RT satu dengan RT lainnya akibat portal. Pemasangan palang di jalan utama dinilai penting bagi RT satu demi keamanan. Warga RT satu sepakat kalau jalan utama harus diportal mengingat sebentar lagi libur lebaran dan penjagaan pun semakin longgar. Masalahnya, jalan utama yang ditutup juga menjadi jalan yang dilalui warga RT lainnya untuk lalu-lalang ke depan komplek menuju rumah, dan sebaliknya. Bisa saja lewat jalan lain, tapi tentu menghabiskan waktu dan tenaga karena harus memutar lebih jauh. RT lainnya memandang bahwa pemasangan portal adalah tindak egois karena jalan utama RT satu tidak ingin dilalui oleh banyak orang. Bagi RT lainnya, akses jalan utama penting dibuka, terutama untuk mengantisipasi adanya keadaan darurat, seperti warga yang sakit dan lainnya. Untungnya, masalah bisa teratasi setelah kedua perwakilan RT duduk bersama dan berdiskusi soal kebutuhan satu sama lain terkait jalanan utama.

Topik yang sama juga sering sekali aku temui dalam video-video, bacaan, gambar-gambar di media sosial. Perbedaan sudut pandang ini memang besar sekali dampaknya. Kedua RT tadi hanya contoh kecil, bayangkan jika dua negara bersitegang akibat absennya pemahaman ini. Aku pun termasuk dalam orang yang setuju dengan hal ini. Karenanya, dalam berbagai kesempatan rekonsiliasi, memahami sudut pandang orang lain adalah hal yang penting.

Namun, pemahaman saja tidak cukup. Aku rasa, seseorang harus punya kadar empati yang minimal “cukup” untuk mengurai kerumitan perbedaan sudut pandang itu. Saling mengalah dan berbesar hati juga jadi “pelengkap” yang mesti hadir agar tidak terjadi kesalahpahaman. Yang paling sering mama katakan adalah: “coba kamu bayangin kalo jadi dia”. Menurut mama, dengan begitu minimal kita bisa tahu posisi mereka, paham, dan mau bertindak.

Sayangnya, empati saat ini sepertinya sangat mahal. Untuk sekadar merelakan bangku kereta pada mereka yang bertulang renta saja masih banyak kaum muda yang enggan. Entah bagaimana empati ini bisa hadir untuk memahami perbedaan sudut pandang.

Lalu yang terakhir, menurut ku pun harus ada kemauan. Kemauan untuk menjelaskan, kemauan untuk mendengar. Beda sudut pandang tidak akan serta merta jadi sama, atau orang lain tidak akan bisa tiba-tiba paham dengan apa yang kamu lakukan hanya dengan melihat apa yang kamu lakukan saja. Kadang, penting untuk menjelaskan dengan baik mengapa kamu berpikiran demikian, berkata seperti itu, dan lain sebagainya. Pun, lawan bicara harus punya kemauan untuk mendengarkan penjelasan itu. Kenapa kemauan bukan kemampuan? Karena semua orang mampu jika mereka mau.

Aku tahu, posting kali ini hanya sebatas “menurutku, menurutku, dan menurutku”. Tidak ada dasar yang kuat. Tapi mungkin inilah satu-satunya cara aku menjelaskan dan mengingatkan kepada aku dan mungkin mereka (atau kalian, terserah) yang terlalu sibuk menilai hingga kadang lupa telinga itu untuk mendengar dan juga tak ingat di mana mereka menyimpan empati itu, jadi tak paham-paham. Atau paham, tapi lalu apa?

Atas absennya dua hal tersebut, satu hal yang baru aku sadari dan sesali adalah mereka yang masih punya orang tua lengkap kemungkinan besar tidak akan paham kekhawatiran dan ketakuan orang-orang yang hanya memiliki satu orang tua. Terdengar kejam? Tapi itulah yang aku rasakan. Tapi apa itu penting sekarang? Toh, aku bahkan sedang tidak punya kemauan untuk menjelaskan secara rinci. Sudah tidak ada keinginan untuk membuat orang lain paham.

Yang ingin aku tekankan dalam posting ini adalah, kita memandang sesuatu dari sudut yang berbeda. Sudah.