Berhenti Sejenak

Berhenti sejenak, aku disini
Bukan untuk berlabuh, bukan pula untuk menetap
Sambil berhenti, kusibak kenyataan didepan mataku
Seperti tirai bintang yang membuka celah
Layaknya rongga kecil di dada yang membesar
Aku berhenti sejenak untuk berpikir

Sebenarnya, dimana aku sekarang?
Sebuah persimpangan, kelihatannya
Antara aku dan kenyataan
Antara aku dan ilusi
Antara aku dan engkau, sobat

Dirimu tidak pernah mengatakan aku dekat
Namun engkau tak pernah menjauh
Katamu kau bukan pendengar andal
Namun kau dengar setiap keluh dan setiap senang yang kuucap
Saat kusedih, misalnya
Kau tidak meminjamkanku bahu untuk menangis
Melainkan memberikanku cambuk untuk menjadi kuat
Saat kulelah, apalagi
Ada kalanya kau biarkan aku beristirahat
Tapi lalu kau biarkan kusandarkan tanganku padamu untuk menyusuri jalan setapak

Berhenti sejenak, aku disini
Disebuah kenyataan yang kukira Ilusi
Sementara Ilusi menunggu untuk menjadi kenyataan
Aku berhenti bukan untuk berlabuh
Namun untuk berpikir,
Apabila aku dan kau telah memilih jalan yang sama
Hanya saja kita terlampau jauh didalam ilusi

Dan akupun berhenti sejenak,
Untuk memastikan,
Ya,
Itulah engkau yang patut disebut sebagai Sahabat
Walau kata itu begitu rapuh, dan penuh ilusi untuk kenyataan

Depok, 31 Agustus 2012
Untuk seorang teman yang menunjukkanku arti kebebasan,
bahwa hidupku adalah milikku, dan bukan hidup yang mengaturku,
tapi Aku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s