Jalan-Jalan

Didepanku, berdiri kokoh jeruji besi, rapat-rapat
Menakut-nakuti aku dengan seruan yang terdengar melalui hatiku
Mengenai dunia dan kejamnya manusia
Dan setiap belati yang terselip diantara fajar dan keringat dingin
Dan gunjingan dari lidah-lidah akrab di pagi hangat bersama para bayam
Namun kuenyahkan segala kerisauan dalam hatiku
Kubuka dengan lebar selasar-selasar besi itu
Kulangkahkan kakiku menuju udara bebas
Aku besar, sebesar dunia, di dunia
Ku langkahkan kakiku dari pijakkanku
Terasa berat diawal, seolah mereka memperingatiku akan tenggelamnya kesombongan
Dan kisah-kisah angkuh milik mereka yang bermimpi untuk terbang
Namun lagi-lagi aku sisihkan pikiran-pikiran itu
Dan mulai kutapaki setapak jalan yang kulihat
Tidak indah, memang
Terlihat cantik dari dalam jeruji besi
Mawar indah menghiasi tepian jalanku
Namun ketika kudekati, ngengat, nyamuk, cacing dan duri-duri menyakiti kulitku
Duri dan perih, manis nan indah, semua ada dalam setiap langkahku
Namun ini jalanku. Jalan-jalan, ku.

Depok, 7 September 2012
Untuk diriku yang selalu merisaukan hal kecil,
“Kau tau ini adalah waktumu, tidak perlu risau”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s