Dipersimpangan

Dipersimpangan ia berdiri,
Dua yang tak sama, dipapah tongkat
Wajah berpeluh, meski dingin masih menggigit tulang
Kerutan wajahnya memancarkan cahaya
Ialah matahari dari setiap matahari

Dipersimpangan ia bediri,
Yang terbaik yang ia miliki, tak lebih dari sehelai kain usang
Sebuah topi menutupi kepalanya,
Agar terik matahari tidak membakar ubun-ubunnya,
Sudut bibirnya terangkat
Senyumnya memancarkan kebahagiaan

Dipersimpangan ia berdiri,
Tangan terbuka, mencoba meminta
Tapi enggan kadang tampak diwajahnya
Seperti bergelut dalam hatinya
Bukankah ia adalah yang paling beruntung?
Meski sebelah kaki tiada berguna,
Meski saku tak selalu terisi,
Ia adalah sahabat mentari pagi

Dipersimpangan ia berdiri,
Mencari dan mencari
Dan kepada setiap yang didapat
Ia tak henti mengucap syukurnya
Berkawan tugu pemancar waktu,
Dipersimpangan ia berdiri

Depok, 28 Oktober 2012
Untuk ia yang selalu berdiri disisi jalan itu,
Tetaplah bersinar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s