Sebuah Catatan Dalam Perjalanan Pulangku

Hujan turun membasahi Kampung Melayu, suatu sore. Bus Kampung Melayu – Cibinong yang biasa kutumpangi saat itu masih bersantai dibawah hujan di terminal Kampung Melayu. Seperti biasa, aku naik keatas bus dan bersantai sejenak. Bus kosong, hanya ada aku, seorang bapak yang duduk dua bangku didepan bangku yang kududuki, seorang bapak lagi yang duduk dipaling belakang, dan kenek bus yang sedang sibuk membersihkan bangku-bangku yang basah akibat air hujan.

Aku memilih bangku berdua dan duduk dipinggir. Sebenarnya favorit ku adalah pojokkan, tapi aku khawatir ditengah perjalanan panjang menuju Cibinong nanti hujan akan kembali mengguyur kami dan mungkin air hujan akan masuk melalui celah jendela bus. Aku duduk dan menikmati suara ringan rintik hujan.

Setiap suara hujan adalah suara lain yang menenangkan bagiku. Rintik hujan membisikkan sebuh nyanyian yang berbeda-beda dalam hatiku. Kali ini adalah lagu bahagia, lagu bahagia yang seperti lupa bahwa derita kadang tengah mengintai. Tapi lagu hujan kali ini benar-benar membuat hatiku ingin melonjak saking gembiranya. Beberapa adegan berkelebat dalam benakku seiring dengan lagu indah yang mengalun. Kejadian beberapa saat lalu lah yang membuatku bahagia.

Haruskah aku ceritakan kejadian apa itu? Karena sejujurnya, hatiku selalu ingin membuat pengumuman karena senangnya. Tapi mungkin tidak benar jika rasa terlalu senang itu diumbar-umbar.

Menit-menitku berjalan bahagia hingga sebuah suara memecah damainya suara hujan. Suara seorang ibu yang memaki, memarahi, membentak dalam tekanan rendah, berbisik kepada gadis kecilnya yang menahan tangis melalui celotehnya. Ingin naik bajaj, ucapnya berulang kali hingga tangisnya pecah akibat bentakan tertahan dari si ibu muda.

Pertengkaran antara ibu dan anak itu tidak berlangsung lama, begitu pula tangis si gadis kecil. Segera setelah sang ibu memberinya buah-buahan manis, gadis kecil itu berdiri dibangku yang ditempatinya sambil menikmati buah-buahan tersebut. Kesederhanaan tampak diwajahnya, rasa khawatir seperti tidak pernah hinggap dalam dirinya, sedih yang baru saja ia rasakan terganti dengan manisnya buah, sambil menggoyangkan kepalanya, senyumnya yang mengembang dan mata bulatnya segera memikat orang-orang disekitar gadis kecil. Ia bersenandung meski tidak mengenal lagu yang diputar supir bus ketika itu. Sedih itu berganti menjadi gembira. Gembira yang menular.

Beberapa orang yang ku kenal juga dapat menularkan gembira dan sedihnya pada orang lain. Melihat si gadis kecil, aku jadi ingat kepada mereka. Kepada sosok yang tertawa menggoda dan sosok yang menangis, kepada sosok yang jika sedih seperti tidak terganti sedihnya. Seandainya rasa sedih, gundah, kesal dan muram itu dapat terganti dengan cepatnya oleh buah-buahan manis, tentu aku akan membawakan buah-buahan itu untuk menghibur sosok-sosok itu. Tidak ada yang ingin ku lihat dari mereka yang tersayang selain senyum dan tawa bahagia mereka.

Lalu gadis kecil itu terus menularkan senyumnya lagi dan lagi disepanjang perjalanan kepada orang-orang disekitarnya. Perjalanan pulangku saat itu, lengkap sudah.

Alhamdulillah

Kampung Melayu, 9 November 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s