Buku: Herr Der Deibe (Pangeran Pencuri)


pangeran-pencuri

Herr Der Diebe (Pangeran Pencuri)

Penulis: Cornelia Funke
Alih Bahasa: Hendarto Setiadi
Tebal: 419 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Paperback, Cetakan II, Maret 2011

Bermodal dongeng malam hari yang diceritakan mendiang Sang Ibu, Prosper dan Bo, melarikan diri dari paman dan bibi mereka, suami-istri Hartlieb, yang kejam dan ingin memisahkan mereka selepas meninggalnya sang ibu, ke Venezia, Italia. Kota yang megah dan mempesona itu membawa mereka kekehidupan yang menyedihkan; tanpa tempat tinggal, tanpa makanan. Beruntung mereka bertemu dengan anak-anak lainnya yang memiliki nasib yang sama dengan mereka. Tawon; seorang gadis kecil yang rambutnya dikepang lancip sehingga menyerupai sengat lebah, Riccio, Mosca, dan tentu saja, Sang Pangeran Pencuri.

Pangeran Pencuri. Adalah sesosok anak laki-laki yang terkenal lihai memasuki celah demi celah bangunan di Venezia, Italia, serta mengenal seluk beluk kota tersebut. Namanya saja sudah pangeran pencuri, tentu ia terkenal karena kelihaiannya menyusup serta mencuri barang-barang dibangunan indah yang ia masuki. Dalam aksinya, Sang Pangeran selalu mengenakan pakaian gelap serta topeng hitam pekat yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

Dibalik topeng hitam itu, adalah Scipio Massimo, bocah berusia tak lebih dari 13 tahun yang selalu bergaya selayaknya pria dewasa. Berbeda dengan Peter Pan yang tidak ingin beranjak dewasa, Scipio justru ingin cepat-cepat menjadi dewasa. Ia melakukan pencurian itu untuk membantu teman-temannya yang tinggal di STELLA, bangunan bekas bioskop yang kerap mereka sebut sebagai Istana Bintang. Scipio sangat terkenal dengan gelarnya, ia juga disegani banyak orang, setidaknya begitulah yang diketahui oleh  bocah-bocah penghuni Istana Bintang. Sampai suatu ketika, identitasnya yang ia tutup rapat-rapat terbongkar oleh seorang detektif bernama Victor Getz. Victor bukan dengan sengaja membongkar identitas Scipio yang sebenarnya kepada teman-temannya. Ia hanya tidak sengaja mengetahui identitas Scipio saat ditugaskan suami-istri Hartlieb untuk mencari keponakan mereka yang melarikan diri.

Satu persatu kebohongan Scipio pun terungkap. Seiring dengan terbongkarnya identitas asli Sang Pangeran, Scipio pun mulai kehilangan kepercayaan dari teman-teman yang biasa menghormatinya. Terlepas dari siapa sebenarnya Scipio, keenam anak tersebut sebenarnya sedang terikat perjanjian dengan Sang Conte, lelaki misterius yang menugaskan mereka mencuri sayap kayu di Cassa Spavento dengan imbalan uang yang sangat banyak. Pertanyaan demi pertanyaan membelit serta membangkitkan rasa keingintahuan mereka, apa pantas satu ransel besar uang ditukar dengan sebuah sayap kayu curian? Misteri apa sebenarnya yang tersimpan dibalik sayap kayu itu?

Herr Der Diebe jelas adalah salah satu cerita fantasi terbaik yang ada dan layak dibaca semua kalangan, yang menjadi salah satu favoritku. Cornelia Funke berhasil menciptakan imajinasi yang nyata dengan setiap detail yang dideskripsikan secara jelas. Ia membuat kota Venezia menjadi lebih hidup bagi pembacanya dengan menjelaskan seluk beluk, setiap sudut bahkan setiap senti keindahan kota tersebut. Meski lebih dikenal sebagai penulis trilogi Inkheart, namun bukunya yang berjudul Herr Der Diebe ini sungguh memikat hati. Terdapat banyak pelajaran yang dapat dipetik dari buku ini. Didalamnya terdapat cerita tentang kasih sayang seorang kakak kepada adiknya, kebersamaan dan kepercayaan, persahabatan, serta yang begitu menonjol adalah pengaruh lingkungan sekitar terhadap pola pikir seorang anak, seperti  yang dialami oleh Scipio.

Resensi oleh: Naztasya Oktariana (@naztasaari)
Dipostkan pertama kali pada: 23 Februari 2012 di Nazta’s Jurnal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s