Foto: Merindu

sosok yang sudah sepatutnya kau syukuri

sosok yang selalu kurindukan, kehadirannya

Aku tidak tahu, siapa tepatnya yang mengambil foto indah itu. Foto papa, berdiri, dan dapat ku tebak ketika itu ia sedang bersenda-gurau dengan temannya, ia tersenyum. Nuansa merah dari pakaian yang ia kenakan dan telephone box yang membanjiri foto membuatnya begitu cantik. Dapat kupastikan foto itu diambil berbelas-belas tahun silam. Terlepas dari itu, foto ini membuatku merindu. Dua hal yang kurindukan dari foto itu adalah papa, dan kehadirannya.

Saat akan tidur, sejak aku masih sangat kecil, lampu kamar selalu dimatikan. Aku ingat betapa setiap malam datang aku selalu menangis. Apalagi ketika akan tidur. Aku tahu, aku tidur bersama kedua orangtuaku. Bersama papa dan mama, dan bahkan adikku. Tapi tetap saja aku menangis. Saat lampu kamar dimatikan dan gelap datang, dan bayangan-bayangan dari balik jendela menyusup kedalam kamar, mataku justru terbuka lebar, telingaku terjaga, dan setiap saat aku berusaha kuat untuk tertidur, setiap saat itu juga jantungku berdegup tidak karuan, saat itu pula aku akan menangis.

Aku ketakutan.

Suatu hari, aku katakan kepada papa bahwa aku takut gelap. Tapi Beliau bilang jangan takut gelap. Beliau berkata bahwa ada papa dan mama disana. Aku tahu, tapi aku katakan lagi padanya bahwa tetap saja rasanya takut dan aku tidak bisa tidur sampai rasanya malam sekali. Semenjak itu, papa selalu bersabar menungguiku hingga terlelap. Jika ia terlelap disampingku, tidak peduli betapa lelahnya ia, ketika kupanggil namanya, ia selalu memberi jawaban. Berpura-pura tidak tidur.

Lalu, aku benci matematika. Aku selalu dihukum oleh guru matematikaku, direndahkan dan selalu disinggung. Guru matematikaku melewatkan aku karena aku tidak bisa menjawab pertanyaannya! Aku kesal. Kuceritakan hal itu kepada papa, bahwa aku ingin menjawab pertanyaan dan menjadi yang terpintar di kelas, bahwa aku ingin menangis setiap kali guruku melewatkan aku. Dan papa memberitahuku sebuah rumus rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh anak-anak terpintar di kelasku.

Keesokkan harinya, aku menjadi murid yang terpintar di kelas. Aku ajukan cara penyelesaian dengan rumus rahasia yang diberikan ayahku kepadaku, dan guruku memujiku. Sejak itu, guru matematikaku mengandalkanku, sejak itu aku belajar dengan giat dan lebih giat lagi matematika. Belakangan kuketahui bahwa rumus rahasia itu adalah rumus faktorial (n!), semua orang mengetahuinya. Tapi papa membuatnya seakan itu adalah milikku.

Dan seorang teman di SMA ku mengajakku ikut lomba karya tulis. Rasanya tidak mungkin ikut lomba jajak pendapat itu walaupun aku memiliki tim dengan orang-orang terpintar dari kelasku dan memiliki waktu setidaknya dua minggu untuk mengerjakannya. Tapi kami sangat ingin ikut lomba itu. Dan tempat kemana kami mencari bantuan adalah papa. Beliau adalah dosen statistik terpintar yang pernah aku temui.

Tidak peduli berapa usiaku, ia tetap menggenggam tanganku ketika kami berjalan dalam gelap. Suatu saat, ia berkata padaku bahwa ia sangat menyayangiku, ia takut kehilanganku. Saat ia mengatakan itu, aku merasa hal yang sama, tapi aku tidak pernah menyangka bahwa ia akan meninggalkanku lebih cepat. Bahwa yang kukira, ia akan menunggu hingga aku memiliki rumah berhalaman luas ku sendiri.

Tidak ada satupun yang memiliki kecerdasan melebihi papa. Kebaikkan hatinya, keteguhan hatinya, kecerdasan dan kehangatannya. Yah, aku rasa, semua ayah adalah yang terbaik yang dimiliki anak-anaknya kan? Papa selalu tahu apa yang menjadi pertanyaanku, ia memang dikirimkan Allah swt untuk melindungiku, membantuku menemukan jalanku, membimbingku menuju jalan Allah, dan membantuku menemukan segala kebingunganku.

Kau tahu, beberapa orang berkata bahwa aku tinggal di daerah yang sangat jauh. Beribu-ribu kilometer dari kota. Tapi bagiku itu tidak jauh. Sekalipun aku ada di lain benua sekali pun, itu tidak jauh. Tempat terjauh, bagiku adalah ketika aku tidak dapat menemui orang-orang tercintaku lagi. Tempat terjauh, bagiku adalah ketika seseorang yang kurindukan terbujur kaku di peristirahatannya yang terakhir, di mana aku tidak dapat lagi memeluknya, menciuminya, bahkan untuk memandang mata hangatnya.

Saat ini, begitu banyak pertanyaan dalam hatiku, begitu banyak hal-hal yang mungkin tidak mampu kupecahkan sendiri. Saat ini, dengan tidak memedulikan kata-kata orang lain, tidak mengindahkan nasihat yang selalu membentengi hatiku, tidak menghiraukan air mata yang coba selalu kubendung setiap saat, aku rindu kehadirannya..

Advertisements

2 thoughts on “Foto: Merindu

  1. bagus syaaa tulisannya. Allah sayang papa. Allah mau tasya kuat berdiri sendiri tanpa bantuan papa. karena papa udah terlalu banyaaak jadi ‘cover’ tasya. tasyaaa hebaaaattt ayoo bikin bangga mama papa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s