Luaskan, Luaskan, Luaskan!

Tempat aku tinggal adalah suatu daerah dipinggiran Kota Depok. Lebih dekat ke Kabupaten Bogor, karena disebelahnya, tidak sampai sepuluh kilometer dari rumahku adalah Kecamatan Cibinong. Cibinong sendiri merupakan daerah kecil yang damai. Sepengingatanku, kemanapun kau pergi, selama masih di Cibinong, masih bisa dicari. Karena daerahnya ‘disitu-situ-aja’ jadi seperti berputar disatu tempat saja. Tapi aslinya Cibinong itu luas, wilayah cakupannya luas.

Terlepas dari seberapa luasnya Cibinong, saat aku masih kecil, aku merasa dunia ini sangat kecil. Kau tahu kan, kalau ingin bertemu nenek, pergi ke Cibinong, lalu ke Citeureup jalan terus hingga menemukan jalanan yang panas dan penuh sesak kendaraan bermotor dan masuk sebuah gang yang dapat membuat orangtuaku mengerutkan dahi ketika memasukkan mobil kami kedalamnya, dan disitulah nenek tinggal. Atau ketika aku ingin bertemu umeh, aku tinggal pergi ke Cibinong, lalu ke Citeureup, jalan lurus terus hingga menemukan jembatan dan jalan layang besar dan berjalan diatas gundukkan yang bisa ber ‘tepuk pramuka’, lalu akan ada lumba-lumba dilautan dan jalanan berbukit yang aku senangi; karena dari bukit-bukit bebatuan itu aku bisa melihat laut yang indah dan garis kecil yang mama bilang adalah Jakarta! Saat itu aku belum pernah melihat Jakarta. Lalu akan ada jalanan lebar dengan rumah-rumah disisi-sisi jalan. Rumah dengan halaman lebar sekali, tidak seperti dilingkungan kami dimana rumah selalu mensesakkan jalan-jalanan dan disitulah rumah umeh, disebrang sebuah teater yang tidak terpakai lagi.

Kalau dipikir-pikir, tentu saja dunia ini begitu sempit. Bagi aku kecil, aku hanya mengenal Depok-Cibinong-Citeureup-Tanah Abang-Lampung, tapi aku tidak mengenal jarak yang memisahkan kesemuanya. Aku tidak mengenal jalan tol, pelabuhan dan apapun yang kulalui, karena selepas Citeureup, aku akan tertidur pulas. Sempit yang terlihat disini tidak hanya sempit ruang tapi juga pikiran, bukan?

Aku kecil, sungguh memiliki pengetahuan yang sempit. Tapi meski begitu, aku kecil selalu belajar dan mengetahui hal yang baru, sehingga pengetahuanku bertambah dan bertambah seiring berjalannya waktu hingga saat ini. Pengetahuan menjadikan seseorang dapat pergi kemana saja, melakukan apa saja, dan lebih penting, menjadi siapa saja. Namun pengetahuan disini tidak berarti kau harus mengetahui apapun yang ada di dunia ini. Untuk menjadikan pikiranmu luas kau bisa membaca, bertanya, melihat, atau mungkin mengalaminya sendiri. Aku rasa, setidaknya ada dua bidang pengetahuan yang harus selalu digali dan didalami. Agama dan bidang yang kau tekuni.

Kenapa agama? Agama adalah tiang kehidupan. Agama menuntunmu menuju jalan yang sebenar-benarnya. Ini hanya pikiranku saja, tapi kita menerima agama sejak kita masih sangat kecil, dan aku rasa menerima saja bukanlah hal yang baik. Aku rasa, kita harus mencari tahu, apakah hukum ini benar adanya atau hanya tradisi, karena agama tidak dapat disandingkan dengan tradisi. Setelah mencari tahu, tentu harus dipraktikkan, didalami dan diamali. Tidak hanya perihal apakah rutinitas agama yang sering kita lakukan adalah tradisi atau bukan, tapi juga dalam hal pengetahuan baru. Di Al Qur’an, kita dapat menemukan beragam jenis pengetahuan. Kedokteran, hukum alam, dunia-akhirat, dan sebagainya, yang perlu kita lakukan hanya menggali lebih dalam (dengan bimbingan yang tepat tentu saja) dan mengamalinya.

Lalu bidang yang kau tekuni. Ini mendukungmu dalam kegiatan yang kau sukai dan pekerjaanmu. Pengetahuan yang banyak dalam bidang yang kau tekuni akan membawa kemakmuran di dunia, dan kemakmuran dunia itu dapat dimanfaatkan untuk keperluan akhirat. Kira-kira begitu yang disampaikan oleh pamanku. Dan satu lagi, bumbui semuanya dengan pengetahuan umum.

Aku memang masih belum menjadi siapa-siapa, dan tidak punya andil sedikitpun untuk menasihati siapapun. Ini hanya pemikiranku, karena ilmu yang sempit tidak akan membawamu kemana-mana melainkan pada kesesatan. Bahkan membaca merupakan perintah pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw.

Jangan tertekan duluan. Kalau kata pengetahuan saja begitu membosankan dan dapat membuatmu malas, maka buat pengetahuan itu menjadi menyenangkan.

Setiap hari dalam keluargaku, ada saat dimana kami dapat menceritakan hal-hal yang terjadi dalam hari kami. Saat-saat seperti itu biasanya digunakan untuk berkeluh kesah, bertanya dan memecahkan permasalahan, membuat hal yang dapat membuat kami jenuh menjadi hal yang dapat diselesaikan dengan mudah. Tapi disamping itu, selalu ada pengetahuan baru yang kami gali masing-masing. Saat menonton, berinternet, membaca dan ketika menemukan kosakata baru, kami mencarinya bersama dan saling memberitahu apabila salah satu dari kami memiliki pengetahuan dalam hal itu. Saat berkumpul bersama, kami jadikan saat untuk berbagi pengetahuan. Ini adalah cara keluargaku, tradisi keluarga yang menyenangkan bagiku.

Advertisements

2 thoughts on “Luaskan, Luaskan, Luaskan!

  1. hai salam kenal… aku kiki.
    mau tanya dong seputar cibinong.. lebih tepatnya karadenan. itu daerah macet ga ya? plz answer it to my email. makaciii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s