Biarkan Mereka Berbicara

“Dasar pincang!”

Seseorang berteriak sesaat setelah aku melewati sekumpulan orang yang memadati halte bus. Selalu seperti sebelumnya, perjalananku menyelinap diantara orang banyak tidak berjalan semulus yang kuharapkan. Pasti ada beberapa diantara mereka yang kuinjak kakinya, atau cara berjalanku yang mengganggu mereka yang berdesakkan.

Aku menoleh sekilas, menatap sekumpulan orang di halte yang memandangiku dengan beragam tatapan. Ada tatapan yang penuh rasa iba, ada juga mata yang memandangku dengan penuh kebengisan dari ujung kaki keujung rambutku. Ada mereka yang mencuri-curi pandang melalui sudut matanya. Ada juga mereka yang tidak peduli. Tapi aku dapat menemukan dengan cepat siapa yang meneriakiku tadi. Seorang perempuan bertatapan bengis yang menatapku penuh jijik.

Kedua temannya ikutan menatapku, tapi tidak sebengis tatapan si perempuan berambut kuncir kuda itu.

Aku mengangguk sambil berucap maaf dan berlalu.

Hujan rintik-rintik tidak kuhiraukan. Kubiarkan tetesan demi tetesan membasahi tubuhku, bukan karena mauku. Tapi karena tak mampu aku mengeluarkan uang lebih untuk sebuah payung. Namun demikian tetesan demi tetesan itu mulai melunturkan sakit dalam hatiku.

Aku berjalan menyusuri jalanan. Ini kerajaanku, biar bagaimanapun juga, akulah penguasanya. Tapi tidak ada orang yang tahu.

Perempuan tadi tidak tahu, disudut jalan bagian mana seseorang menunggunya untuk menjadi mangsa dibalik bayangan. Atau dua-tiga orang diantara mereka di halte mencuri-curi pandang, menyelinap dan mencoba menghakmilikkan harta benda orang lain. Tapi aku tahu.

Kakiku adalah anugrah. Biar sepahit apapun mereka mencemooh ku, atau meratapiku, memakiku, mengibai aku. Tapi ini adalah anugrah yang membawa tubuhku sejauh ini. Hanya kedua kaki yang tak sama tinggi inilah yang mampu menopangku.

Ini aku syukuri.

Tanpa mereka ketahui.

Suatu hari ketika ibuku meninggalkanku sendiri didalam kamar kecil berbilik kardus, ia berkata dalam deru kendaraan diluar kamar.

“Biarkan mereka berbicara,

Mengenai apa yang tidak mereka mengerti,
Mengenai apa yang mereka yakini,
Mengenai apa yang tidak mereka sadari,
Meskipun tidak benar adanya,
Biarkan mereka berbicara,

Mengenai mu dan kehidupanmu yang tidak mereka ketahui,
Mengenai asal usulmu dan sifatmu yang mereka lihat tanpa dikuliti,
Mengenai paham-paham yang dapat berbuah perdebatan dan kesalahan,
Mengenai apapun yang dapat membuatmu menangis,

Dan ketika kau membiarkan mereka berbicara,
Tegakkan kepalamu tinggi-tinggi,
Dan mintalah pada Allah, kekuatan untuk melalui segalanya
Kekuatan untuk menampungnya
Kekuatan untuk menghadapinya
Sekumpulan orang yang berbicara tapi tidak mengetahui apa yang dibicarakan”

Depok, 7 Juni 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s