Rindu Mudik

Tidak sampai hitungan minggu, kita sudah akan menutup bulan Ramadhan. Padahal sepertinya baru kemarin saja mama bangunin sahur hari pertama dengan gegabah dan menyetel televisi dengan volume keras agar kami bangun. Aku yakin, rutinitas penghujung Ramadhan pun telah mengantre, menunggu-nunggu untuk dibubuhi tanda centang. Biasanya penghujung Ramadhan dikeluarga kami selalu disibukkan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Semakin giat buka-buka Al-Qur’an, semakin banyak acara temu kangen dan buka bersama, semakin giat bangun pagi-pagi untuk bersih-bersih rumah, bongkar sana-sini, lalu siangnya selepas sholat dzuhur kami duduk lesehan di dapur sambil membuat kue.

Terlepas dari itu, ada tradisi yang sudah lama sekali keluarga kami tinggalkan. Tradisi mudik. Ayahku berasal dari Palembang dan Ibuku berasal dari Jakarta. Setiap dua tahun sekali, keluarga kami pulang ke Lampung (meski orang Palembang, aku sendiri tidak pernah langsung pulang ke Palembang karena keluarga papa rata-rata sudah merantau ke Lampung) sekitar lima hingga tujuh hari untuk berlebaran disana. Biasanya papa dan mama sudah siap-siap cuti untuk packing.

Tidak banyak perlengkapan yang kami bawa, dua buah koper super besar untuk pakaian kami dan beberapa makanan ringan untuk camilan selama diperjalanan. Oleh-oleh seperti biskuit dalam parsel pun kami bawa serta. Biasanya aku membawa satu buah tas jinjing yang kuisi dengan walkman dan berbagai kaset, dompet dan dua buah buku cerita. Kami berangkat pagi-pagi sekali. Sebelum berangkat, papa pasti memberikan kami secarik kertas kecil berisi doa bepergian untuk dibaca oleh kami.

Meski kami tidak terlalu sering ke Lampung, tapi harus aku akui kalau pulang kampung saat Ramadhan berbeda dengan pulang kampung biasa. Suasana yang menyertai kami tentu berbeda. Beberapa kali aku pernah pulang kampung dalam keadaan lain selain Ramadhan, dan rasanya tentu jauh lebih nikmat ketika berlebaran. Meskipun perjalanan mudik lebaran selalu diliputi oleh kemacetan dan tidak jarang kebosanan, tapi kebersamaan ketika lebaran dengan keluarga jauh inilah yang menjadi nilai lebihnya. Dan kali ini, aku pun merindukan suasana mudik lebaran.

Sudah lamaaaaa sekali rasanya terakhir kali aku mudik lebaran ke Lampung. Yang aku ingat sewaktu kecil, Cak Dewi menggandeng tanganku melewati jembatan sungai kecil selepas sholat tarawih. Kita harus bergegas karena teman-teman Cak Dewi telah menunggu kami untuk bertakbiran bersama. Namun sayangnya, begitu sampai di rumah, Uwak Laki malah menyuruh kami untuk diam dirumah mendengarkan sayup-sayup takbir dari surau tak jauh dari rumah. Lebih khidmat dan syahdu rasanya jika melewati malam takbiran dengan keluarga, katanya.

Semoga Allah menghendaki umur ini untuk dapat singgah kembali dan berlebaran kembali di Lampung bersama saudara-saudara disana 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s