Ke YARSI yang Kedua Kali Dan Pelajaran Satu Hari

Tidak peduli siapa diri kita, darimana kita berasal, dari keluarga yang seperti apa, berbanggalah. Dan tunjukkan pada dunia bahwa kita bercahaya, bisa menjadi panutan, cerminan dan kebanggaan.

Kurang lebih, dua penggal kalimat itulah yang kudengar di Auditorium Ar Rahman, Universitas YARSI, Cempaka Putih, Jakarta siang ini. Ini adalah kali kedua aku berkunjung ke Universitas YARSI, tempat Laras belajar ilmu kedokteran. Universitas yang membuatku jatuh hati pada kunjungan pertama dari setiap sudut yang telah kujelajahi ketika itu (perjalanan pertamaku ke Universitas YARSI dapat kalian baca disini). Kunjunganku kali ini, masih sama seperti kunjungan pertamaku, bermain-main, menjelajah, dan ‘ikut’ dalam orientasi. Yang membedakan kali ini bukan Laras yang mengundangku untuk pergi kesana. Tapi aku yang minta untuk diajak.

Hari ini lagi-lagi kedatanganku adalah untuk menyaksikan Laras dan LDK KAHFI memperkenalkan diri pada mahasiswa baru Universitas YARSI. Berbeda dengan kunjungan pertamaku, kali ini LDK KAHFI terjadwal agak siang untuk perform yaitu sekitar pukul 2 siang. Jadi aku dan Laras menghabiskan waktu untuk tour kembali keliling kampus. Kali ini tempat pertama yang kami kunjungi adalah perpustakaan YARSI. Disana aku melihat beberapa judul skripsi yang semuanya ditinjau dari sudut pandang Islam. Aku begitu terpana melihat judul demi judul skripsi fakultas kedokteran dan fakultas hukum Universitas YARSI (aku hanya melihat dua fakultas saja 😦 ). Begitu banyak dan beragam dan semuanya ditinjau dari sudut pandang Islam. Bagaimana mendeskripsikannya ya? Seperti mendapat dua keuntungan dalam satu buku bukan? Sesekali aku bertanya pada Laras tentang istilah-istilah kedokteran yang tidak akrab ditelingaku, Laras pun menjelaskan sambil memberikan contoh. Ingin sekali aku membaca jurnal-jurnal itu. Penasaran dengan isinya.

Kami menghabiskan waktu agak lama di perpustakaan. Lalu setelahnya, kami pergi makan dan berkeliling Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih yang letaknya sangat dekat dengan Universitas YARSI. Lagi-lagi Laras membawaku tur paket komplit. Sambil berjalan tak tentu arah kami mengobrol tentang banyak hal. Banyak sekali.

Waktu telah menunjukkan pukul satu lebih ketika aku dan Laras kembali ke Auditorium Ar-Rahman. Laras bersiap diri dengan LDK KAHFI sementara aku duduk dibarisan paling belakang, menonton acara yang sedang berlangsung. Rupanya saat itu seorang Dosen sedang memberikan bimbingan untuk mahasiswa baru. Awalnya aku tidak begitu memperhatikan karena Beliau membahas tentang komunikasi interpersonal dan intrapersonal yang tentu juga dibutuhkan oleh mahasiswa YARSI. Tapi lalu ada kalimat dari Beliau membangkitkan minatku untuk ikut memperhatikan.

Beliau berkata bahwa Mahasiswa YARSI harus menjadi cerminan jiwa yang positif. Inilah yang dibutuhkan oleh industri saat ini. Cerminan perguruan tinggi yang berhasil bukan dilihat dari kondisi fisiknya atau dari banyak mobil mewah yang terparkir dipelataran parkirnya, tapi dari bagaimana mahasiswa-mahasiswanya membawa nama perguruan tinggi tersebut didalam industri. Sebagai contoh menjadi seorang yang jujur, kompeten, dan lain sebagainya.

Kata-kata Beliau sontak menyadarkanku dan memutarbalikkan pikiranku pada masa-masa SMA ku. Salah satu temanku, Afiatun, pernah berkata padaku bahwa muslim itu merupakan cerminan Islam. Kita inilah yang membawa nama Islam, membawa image Islam. Maka jadikanlah diri kita sebaik mungkin agar orang yang tidak paham dapat melihat betapa baiknya Islam.

Tidak habis sampai disana, Beliau kemudian memutarkan sebuah video audisi pencarian bakat. Dalam video itu, ditampilkan seorang ibu bernama Susan Boyle yang berasal dari pedesaan. Desa antah berantah yang bahkan tidak diketahui oleh para juri. Para juri dan bahkan audience memandang remeh ia ketika Susan berkata dirinya ingin menjadi penyanyi profesional. Dan ketika Susan Boyle mulai bernyanyi, sorotan kagum dan terperangah membanjirinya. Suara merdunya berhasil membuat orang-orang yang memandangnya remeh menjadi terkagum-kagum.

Lalu, penggalan kalimat diawal tadi disampaikan oleh Beliau sebagai penutup. Penutup yang berharga bagi aku yang jauh dari sempurna.

Setelah itu, LDK KAHFI tampil dengan menggemakan takbir keseluruh penjuru Auditorium Ar Rahman. Jiwaku pun semakin bergejolak. Rasanya airmataku ingin tumpah saja.

Perjalanan kali ini pun berakhir dengan sangat menyenangkan. Belum habis rasa senangku, aku sudah merindukan tempat dan suasana disana lagi. Mungkin Laras pun bertanya-tanya kenapa aku senang berkunjung ke universitasnya. Sebagai jawaban, hatiku hanya sedang merindu. Rindu untuk merasa sejuk. Dan ketika merindu itu datang, kata-kata saja tidak akan cukup menjabarkan perasaan.

Aku tahu posting kali ini rasanya tidak begitu indah, tapi semoga yang baik yang ingin aku bagikan bisa sampai dengan baik juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s