Hey, Cantik!

IMG_3387

Hey, Cantik!

Ada beberapa kata yang, meski memiliki definisi yang jelas, namun memiliki makna yang tidak mutlak. Salah satu kata itu adalah ‘Cantik’. Definisi cantik bagi setiap orang itu berbeda-beda. Tergantung dari sudut pandang mana mereka beropini. Bagiku, kata cantik berarti kita. Karena kita semua itu pada dasarnya cantik. Yang membuat definisi cantik pada kita itu berubah juga tergantung dari kita. Bagaimana kita berprilaku, bagaimana kita bertutur kata, bagaimana kita bersikap, sampai bagaimana kita berpenampilan. Terlepas dari fisik, kata cantik bagiku lebih kepada apa yang tidak terlihat namun membuat yang terlihat semakin memikat untuk dipandang.

Usiaku 13 tahun ketika pertama kali aku dibelikan baju renang one piece untuk pelajaran renang. Saat itu aku merasa sangat senang, karena ini kali pertama aku akan berenang bersama teman-teman satu kelasku. Tapi ada sesuatu yang membuat kedua orangtuaku memicingkan matanya lebih tajam, yaitu punggungku yang tidak simetris. Ada benjolan besar pada pinggul kiriku dan benjolan lain pada punggung sebelah kanan. Yang lalu kami ketahui sebagai skoliosis.

Ketika itu, aku rasa tidak masalah aku skoliosis. Ini bukan penyakit yang harus aku ratapi, kata papa, aku hanya sedikit berbeda dan itu bukan masalah. Jadi selama aku tidak menganggapnya masalah, maka orang lain tidak akan menjadikannya masalah. Alhamdulillah, teman-temanku adalah orang yang menerima segala kekuranganku. Memperlakukan aku sama dengan yang lainnya sehingga aku lupa bahwa aku punya skoliosis dalam tubuhku.

Tapi tidak semua orang berpikiran sama. Ada beberapa orang juga yang menatap punggungku seolah itu adalah hal yang paling aneh. Mata mereka itu penuh selidik, dan setiap kali mata mereka memandang ke punggungku, setiap kali itu juga aku rasanya mau menangis. Kata dokter, jalanku sedikit pincang. Papaku juga berkata seperti itu, tapi mamaku bilang itu juga bukan masalah, karena aku sangat lincah dan nggak akan ada satu orang pun yang sadar kalau aku jalan pincang. Tapi rupanya itu salah lagi. Sewaktu pelajaran olahraga, karena lariku lamban, seorang siswi berbicara cukup kencang sampai beberapa orang termasuk aku mendengarnya. Katanya “Liat kakinya pincang, larinya aneh” sambil memperagakan caraku berlari.

Aku tahu bagaimana rasanya dilihat dengan tatapan yang aneh. Aku juga tahu bagaimana rasanya ketika orang-orang membicarakan keanehan dalam tubuhku. Rasanya sakit. Sakit bukan seperti ditusuk atau tergores pisau, bukan juga seperti terbentur atau tersandung. Tapi sakit seperti kamu sendirian.

Ini bukan tentang aku, tapi tentang adikku yang pemberani bernama Kiza. Tubuhnya sangat tinggi, melebihi tinggiku. Dan orang-orang kerap kali berbisik, memandang, bahkan terang-terangan menunjuk Kiza ketika ia berjalan disekitar mereka. Lalu apa yang Kiza perbuat? Kiza jauh lebih tegar daripada aku yang hanya bisa menangis. Dia tetap saja berjalan, tersenyum kepada mereka yang memandang, bahkan mungkin say “hello” kepada mereka. Kalau kesal, dia akan terang-terangan menghadapi orang-orang itu.

Tapi post ini juga bukan sepenuhnya tentang Kiza, tapi tentang diri kita sendiri. Siapapun yang membaca. Jauh dalam lubuk hati kita, pasti kita juga tahu kalau di dunia ini tidak ada satupun manusia yang sempurna. Mereka pasti punya kelebihan dan kekurangan, kecantikan dan keganjilan. Tapi tentu itu semua berbeda bagi setiap orang. Ada yang terang-terangan terlihat seperti aku dan adikku, ada pula yang fisiknya tidak terlihat keganjilan satupun. Aku pun tahu, kalau pada dasarnya kita akan ‘takjub’ ketika ada hal yang aneh disekitar kita. Kita memandang, membicarakannya, memandang lagi, dan apapun yang kita lakukan seakan tertuju pada keganjilan itu saja.

Aku rasa itu hal yang wajar. Tapi bukankah akan lebih baik kalau kita bisa menyampaikan kekaguman kita pada keganjilan itu dengan cara yang lebih halus dan lebih sopan? Sehingga tidak ada yang sakit hati nantinya. Toh, bukankah setiap orang juga punya kekurangan? Bukankah tidak baik membicarakan keanehan orang lain sementara diri sendiri pun memiliki hal yang aneh?

Ada alasan mengapa aku dan adikku memegang teguh sebuah prinsip. Kami percaya, dengan tidak membicarakan keganjilan orang lain, maka tidak akan ada yang membicarakan, memandang dengan penuh selidik, dan menunjuk-nunjuk keganjilan pada diri kita. Tapi tetap saja orang-orang memiliki hak nya untuk berkomentar. Dan kadang, ketika mereka melontarkan komentar mereka rasanya sangat menyakitkan.

Adikku, Kiza, yang cantik. Tetap tegar ya. Mereka semua saat ini memang hanya bisa memandangmu karena perbedaan yang ada, tapi jangan kuatir, Tasya percaya Kiza nantinya pasti bisa membuat pandangan penuh selidik itu berubah menjadi tatapan kagum karena kelebihan yang Kiza miliki. Tetap berani ya, ingat: semua orang itu pada dasarnya cantik, jadi berprilakulah layaknya orang cantik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s