Fiksi: Mimpi

Ini semua mimpi.

Dalam mimpiku, aku berlari kencang. Nafasku memburu, jantungku berdegup kencang seakan ingin keluar menembus dadaku. Mataku perih, tangis yang tertahan itulah yang membuatnya perih. Walaupun mantap, kurasakan kakiku melangkah dengan ragu. Separuh hati ingin menunda agar lebih lama, namun separuhnya lagi ingin aku berlari lebih cepat, lebih cepat bahkan dari kilatan cahaya. Anak tangga yang berdiri kokoh itupun ia lahap dua-dua dalam selangkah.

Lalu tibalah aku dipuncak tangga. Tempat sebuah pintu putih berdiri kokoh dan menatapku dengan iba. Dengan raung tangis dan warna duka yang menyelimutinya, ia membuka. Seolah menyuruhku untuk masuk kedalamnya.

Kakiku melangkah. Rasa takut, pedih, dan bingung bercampur menjadi satu. Kakiku sepenuhnya terpaku didepan pintu. Tepat ketika sosok berkerudung itu memalingkan wajah penuh airmatanya kepadaku. Tangisnya semakin menjadi. Walau jauh, aku bisa melihat dengan jelas dua sungai kecil yang membelah pipi berkeriputnya. Ia lalu merengkuh sosok yang tertidur tenang dihadapannya.

Seketika itu juga, tubuhku hilang kendali. Tubuhku seakan kehilangan tulang-tulangnya. Kepalaku berputar hebat. Dan yang kutahu, pagi ini ia masih membelai lembut pipiku dan mengecupku dipuncak kepalaku. Berucap sayang dan memberikanku kekuatan dengan kata-katanya. Lalu sosok berjubah hitam menyelimutiku sepenuhnya. Membawaku terjatuh kedasar lubang gelap yang seakan-akan tak berujung. Lubang dingin yang berkabut, dan menelantarkanku dalam kesendirian.

Aku terjerembap penuh kekacauan. Kepalaku berputar-putar menahan rasa sakit dan mataku pun terlalu perih untuk membuka. Aku berlari dalam dasar lubang itu. Tapi tak ada yang lain yang kulihat selain kabut yang membutakan. Lalu entah bagaimana aku kembali terjerembap. Dan terbangun dengan sayup-sayup suara yasin yang membisik dari balik dinding.

Aku bangun terduduk, ini semua adalah mimpi.

Lalu sosok berkerudung itu masuk kedalam ruangan. Meraihku kedalam pelukannya. Seakan aku telah selesai bercerita, ia pun menjawab,

“Tidak sayang, ini semua bukanlah mimpi.”

Jadi disanalah mimpi itu berakhir, menjadi kenyataan yang kucoba ubah menjadi mimpi.

Sosok berkerudung itu pergi meninggalkanku dengan kedukaan. Lalu aku mencoba kembali untuk tertidur, dan berlari kembali kelubang itu, agar aku bisa setidaknya memanjatnya, kembali ke pagi tadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s