Buku: The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang-Bintang)

the fault in our stars

The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang-Bintang)

Penulis: John Green
Alih Bahasa: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Tebal:422 halaman
Penerbit: Penerbit Qanita, PT. Mizan Pustaka
Cetakan I, Desember 2012

PERINGATAN:

Sebelum membaca ulasan buku ini, kuperingatkan bahwa ini bukan sepenuhnya ulasan. Ini adalah catatan hatiku yang menuntut untuk ditulis dan di publish setelah membaca The Fault in Our Stars. Tidak seperti ulasan buku yang kutulis sebelumnya, ulasan ini akan lebih banyak mengungkapkan perasaanku. Lebih banyak disini adalah LEBIH BANYAK!

Buku ini mungkin bukan lah satu-satunya buku ‘sakit’ yang pernah kubaca. Tapi buku ini adalah satu-satunya buku ‘sakit’ yang berhasil membuatku tertawa dilanjutkan menangis ketika membaca halaman demi halamannya.

Dalam buku ini, berceritalah Hazel Grace Lancaster, seorang gadis berusia 16 tahun dengan potongan rambut bob yang mengidap tiroid dan metastasis atau penyebaran sel kanker pada paru-parunya, mengenai kehidupannya sebagai pengidap kanker. Sel kanker pada paru-parunya membuat ia harus berjalan sambil menyeret-nyeret tangki oksigen yang diberi nama Philip kemanapun ia pergi. Paru-parunya tidak mampu bekerja cukup untuk menghasilkan udara bagi seluruh tubuhnya dan terkadang terendam air begitu saja. Hazel menyebut paru-parunya payah.

Hazel seringkali dipaksa untuk bergabung dengan kelompok pendukung penderita kanker oleh ibunya. Meski malas, namun ia mengikuti juga saran dari ibunya untuk banyak-banyak berteman, walaupun tidak banyak teman juga yang ia dapatkan dari kelompok itu. Tapi setidaknya dari sanalah ia mengenal Augustus Waters, usia 17 dan menderita osteosarkoma (sejenis kanker yang menyerang tulang). Sebelah kaki Augustus Waters sudah diamputasi dan digantikan dengan kaki palsu. Augustus bukan anggota tetap kelompok pendukung, ia datang hanya karena Isaac sahabatnya yang merupakan anggota tetap dari kelompok itu. Mengenal Augustus Waters membuat Hazel lebih bersemangat, ia banyak membaca, dan bahkan mereka mencoba mencaritahu akhir dari buku favorit Hazel dengan bertualang menemui penulisnya, Peter Van Houten langsung di Amsterdam.

Aku dipinjami buku ini oleh Aci, adik sahabatku. Buku ini sudah berada didalam tumpukkan buku ‘yang dipinjami’ di kamarku hampir dua bulan dan aku baru mulai membacanya tiga hari lalu. Awalnya aku rasa buku ini akan sama dengan buku ‘sakit’ lainnya yang kubaca, tapi buku ini jelas berbeda. Buku ini menjungkirbalikkan perasaanku hanya dalam hitungan beberapa halaman. Maksudku disini, aku benar-benar tertawa dan tersipu-sipu dengan kebersamaan Augustus dan Hazel, tapi kemudian hatiku hancur berkeping-keping sesaat setelah Augustus kembali mengalami sakit dan setelahnya dan setelahnya.

John Green tidak hanya berhasil menciptakan semacam kegalauan diatas euforia pembaca (baca: aku) saja, tapi juga berhasil menciptakan dua karakter kuat pengidap kanker dalam buku ini. Hazel dan Augustus rasanya seperti hidup. Apalagi dengan sudut pandang orang pertama, yaitu Hazel, yang membuat pembaca akan lebih mudah dalam menelanjangi pikiran dan perasaan Hazel sebagai remaja pengidap kanker. Pikiran-pikiran keras, malu-malu, kasmaran, senang, bingung, ketidaksepahaman, juga marah dan berduka yang ada dalam diri Hazel dapat begitu terasa hanya dengan membaca tulisan John Green. Bahkan untuk suatu waktu aku berpikiran tidak ada John Green, melainkan Hazel Lancaster sungguhan lah yang bercerita.

Anyway, karakter favoritku adalah Augustus Waters (mungkin pikiran Hazel Lancaster yang sangat menyukai Augustus Waters mempengaruhiku untuk menyukainya juga, tapi aku sunguh-sunguh menyukai karakter Gus). Gus dalam buku ini diceritakan sebagai anak remaja lelaki yang suka bermetafora. Memandang hampir semua hal yang ada dengan metafora, termasuk didalamnya kematian. Gus adalah seseorang yang setia kawan, ini terlihat dari bagaimana ia memperlakukan Isaac sahabatnya yang harus kehilangan penglihatannya dan pacarnya dalam jangka waktu yang berdekatan. Ia juga seseorang yang berpikiran terbuka dan cerdas. Aku rasa, seribu kata untuk menggambarkan Augustus Waters tidak akan cukup, maka aku sarankan untuk membacanya saja.

Aku suka kebersama Augustus Waters dan Hazel Lancaster dan aku tidak suka mereka harus berpisah. Itu mematahkan hatiku berkeping-keping.

Dalam beberapa kasus dibuku ini, aku sempat teringat masa-masa ketika aku sakit dulu. Sakitku memang berbeda kasus dengan Hazel Lancaster, tapi papa jelas adalah orangtua yang mencintai aku, anaknya. Ini terlihat karena Mom dan Dad Hazel mencintai putrinya dan mereka semua berperilaku selayaknya orangtua yang mencintai anaknya yang sakit, begitupula dengan papa.

Kembali ke buku, film dengan berjudul yang sama akan diluncurkan pada pertengahan 2014. Aku sudah mengintip beberapa pemainnya dan sangat penasaran dengan filmnya. Aku harap aku bisa menontonnya sesegera mungkin.

source: google.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s