Puisi Lama dan Kekasih

Nazta Saari's Journal

Puisi Lama dan Kekasih

oleh: Nazta Saari

Kekasih,
Tulis secarik surat untukmu

Betapa rindunya hati kepadamu,
betapa tak bisa lagi hati menahannya.

Berapa lama hati harus duduk diam?
Berapa lama lagi hati harus menunggu?
bukankah menunggu itu meletihkan?
Bukankah kaupun tak suka menunggu?

Diujung mawar kau bilang kau akan menunggu,
tapi hati tak dapat menemukanmu
Padahal hati sudah terluka.
Tertusuk duri-duri mawar

Kekasih,
Tulis secarik surat untukmu

Sebait puisi kupersembahkan untukmu.
Puisi lama,
Bait lama,
Kata-kata lama,
yang berulang kali telah kau dengar.

Kekasih,
taukah kau hati telah lama menggantimu?
Tapi ia tidak bisa, ia tidak terbiasa..
Maka hati menggantinya lagi, menjadi sebait yang dipersembahkan.

Kekasih,
Puisi lama itu adalah sayang.
Puisi lama itu adalah hati.
Hati menunggumu, kembali, atau pergi.
Tapi kau selalu diam

Kekasih,
kini puisi itu telah sepenuhnya terganti,
bukan lagi sebait, bukan lagi sayang.
Tapi bukan benci, bukan akhir
Puisi lama tetap puisi lama.
Hati menyimpannya…

View original post 2 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s