Apa yang ‘KAMU’ Pikirkan?

Terkadang, aku berpikir panjang setelah membaca buku dan mendapatkan satu konklusi yang sebenarnya tidak final. Maksudnya begini, ketika aku selesai membaca buku, dan buku tersebut diakhiri dengan pesan moral dan sebagainya, aku sering kali menemukan diriku berpikir keras. Tentang bagaimana kehidupanku seandainya aku adalah si tokoh yang ada di buku. Tentang bagaimana semestinya hidup, versi si penulis, berjalan ketika kita ditempatkan pada satu posisi.

Aku banyak membaca buku ‘sakit’. Aku pernah membahas hal ini. Kebanyakan buku dengan tokoh utama penyandang sakit atau difabel akan memberikan pesan moral tentang kehidupan yang bertubi-tubi. Biasanya, si tokoh yang sakit akan membawamu masuk ke dalam dunianya yang penuh dengan kesakitan. Obat, rumah sakit, infus, teman sesama sakit, pacaran ala orang sakit, pemikiran orang sakit, dan yang paling sering adalah memasuki mimpi-mimpi si orang sakit yang tidak bisa terwujud semudah jika mereka tidak sakit. Ini menyenangkan, karena dari sini aku jadi tahu berbagai hal mengenai sakit.

Kebanyakan tokoh yang sakit atau temannya si tokoh utama yang sakit akan meninggal. Sangat jarang buku yang tokohnya penyandang leukimia lalu sembuh karena cinta dan sebagainya. Intinya selain bercerita, penulis juga mau menyampaikan pesan moral. Jangan banyak menyerah, itu sih biasanya. Lalu ketika selesai membaca buku, yang kulakukan pertama adalah menilai isi buku dengan helaan nafasku. Lalu selanjutnya aku akan merenungkan isi buku. Bagaimana jika yang terjadi di buku adalah nyata? Apa benar ada orang yang akan bertahan dengan si sakit? Bagaimana kehidupan mereka setelahnya? Dan berjuta-juta renungan lainnya.

Suatu hari aku membaca sebuah novel karya Daniel Ehrenhaft, judulnya 10 Things To Do Before I Die. Diceritakan seorang remaja dengan kedua temannya menyadari bahwa dirinya telah memakan makanan beracun dan segera akan meninggal. Itu berarti, waktunya hanya sedikit dan ia ingin melakukan hal-hal tertentu sebelum meninggal. Aku tidak sampai habis membaca buku itu, tapi yang aku tahu saat itu adalah: Buku itu konyol. Kenapa? Karena jika aku punya 10 hal yang dapat aku  lakukan sebelum meninggal tentunya bukan bersenang-senang dan melakukan hal konyol dengan teman-temanku seperti di buku. Tapi ketika aku merenungkan lagi barusan, buku itu tidak sepenuhnya konyol. Karena itulah kehidupan remaja. Itulah yang terjadi dengan pikiran-pikiran remaja.

Sekarang, jika si tokoh hidup dan kembali mengalami hal yang sama, mungkin ia akan melakukan hal yang lebih bermoral atau lebih berharga, bukan? Karena begitulah pola pikir bekerja. Ia tumbuh dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Setiap orang disisi lain, punya banyak sekali perbedaan meski katanya dimata Tuhan kita semua sama. Pada dasarnya memang sama, tapi jika kita lihat lebih mendasar ternyata berbeda. Allah memang memberikan kita otak dengan massa yang sama, kemampuan dan kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah bagaimana kita menjalani hidup dan bertahan. Seperti kata Pak Yosi, yang membedakan adalah dimana kita di’tebar’. Inilah yang membuat pola pikir setiap orang berbeda.

Kita, disisi lain, pasti memiliki pikiran yang berbeda. Jangan takut, tidak ada yang salah dengan dirimu jika apa yang kamu suka berbeda dengan kebanyakan orang suka. Karena itulah kamu. Itulah yang kamu pikirkan dan sukai.

Advertisements

One thought on “Apa yang ‘KAMU’ Pikirkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s