The Bachelor Weekend (The Stag): Cerita Lain Tentang Perjalanan Persahabatan

You are my sunshine, my only sunshine~

Penggemar Jhonny Cash pasti tidak asing lagi dengan lirik lagu ini bukan? Tapi kali ini, bukan lirik lagu itu yang mengantarku untuk menulis blog kali ini. Melainkan sebuah film yang dirilis tahun 2013 lalu berjudul The Bachelor Weekend (The Stag)

the bachelor weekend (the stag)Judul aslinya adalah The Stag, tapi karena permasalahan terjemahan dan sebagainya, The Stag dirilis dengan judul The Bachelor Weekend di Amerika. Ada yang menarik dari film ini? Ya! Lagi-lagi aku dapat film ini dari temanku, Laras. Dia rekomendasikan film ini karena salah satu karakter di film ini sangat suka dengan U2 (Laras bilang, “Gue langsung inget lo Tas! Lo harus nonton pokoknya”).

the stag movie

Ceritanya adalah tentang ‘pesta bujangan’ yang disengaja dan dirancang khusus untuk seorang ‘not-a-stag-person’. Fionan yang diperankan oleh Hugh O’Conor tidak pernah merencanakan stag atau bachelor party menjelang pernikahannya dengan tunanganya, Ruth (Amy Huberman). Tapi karena Ruth merasa Fionan kelewat tegang menyambut hari bahagia mereka, Ruth akhirnya memaksa Davin (Andrew Scott), sahabat Fionan, untuk merancang pesta bujangan. Setelah dibujuk, dirayu, dipaksa dan ditantang, akhirnya Fionan setuju untuk merencanakan pesta bujangannya.

Namun tidak disangka-sangka, Ruth mengundang kakaknya untuk pergi merayakan pesta bujangan Fionan bersama Fionan dan sahabat-sahabatnya. The Machine, panggilan untuk sang kakak, adalah seorang dengan pikiran yang aneh, atraktif, dan emosional. Seseorang yang sangat tidak diharapkan Fionan untuk ikut dalam rombongan sekaligus seseorang yang membawa perubahan besar bagi kelima sahabat ini.

the stag

Tapi The Stag tidak hanya bercerita tentang pesta bujangan Fionan yang tiba-tiba berjalan tidak sesuai rencana karena adanya The Machine. Tapi juga bercerita tentang persahabatannya dan bagaimana setiap orang itu sejatinya punya masalah yang berbeda-beda, penyelesaian yang berbeda-beda, dan cara yang berbeda-beda untuk menghadapinya. Disini pemeran utamanya bukan Fionan, melainkan Davin.

Diceritakan Davin adalah orang yang sendiri dan terbiasa sendiri. Ia adalah anak tunggal yang terbiasa hidup sendiri dan tidak mudah jatuh cinta. Maka ketika ia memiliki sahabat seperti Fionan, ia akan menganggap sahabatnya tersebut sebagai keluarga yang sangat ia cintai.

Perjalanan keenamnya sangat mengasyikan. Apalagi dengan adanya sosok The Machine. Mungkin di bagian awal hingga ke tengah film kalian akan merasa kesal dengan sosok The Machine yang selalu sok tahu, sok berkuasa, diluar akal sehat dan lain sebagainya. Tapi ternyata, sosok The Machine memeberikan warna sendiri dalam ‘kelompok’ ini. Pikiran dan ulah menakjubkan The Machine akan membawa “Oooh..” pada akhir film (dan yah, yang suka U2 ini adalah The Machine).

Yang membuat aku suka film ini adalah bagaimana film ini kembali mengingatkanku bahwa terkadang sedekat apapun kita dengan seseorang belum tentu kita tahu apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Karena itu, adalah hal yang sangat tidak bijaksana jika kita menilai seseorang sebaik apapun kita mengetahuinya.

Andrew Scott

Bagi mereka yang menyukai serial Sherlock di BBC pasti kenal dengan sosok Andrew Scott bukan? Scott berperan yang sebagai Moriarty di serial itu memberikan kesan yang sama sekali berbeda di film ini. Scott yang memiliki sejarah teater memerankan perannya dengan sangat baik. Sementara Amy Huberman.. aku nggak bisa banyak komentar sih, karena aku terkesan sama suaranya (Amy pernah mendapatkan peran di Death of A Superhero, salah satu film sakit (literary). Dimana di film ini, ia mengisi suara sebagai karakter suster yang diciptakan si tokoh utama).

Kalau ditanya dapat berapa bintang? Well 3.5 dari 5 bintang aku rasa cukup. Dan jika dibandingkan dengan Third Star yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch, jelas keduanya punya porsi berbeda, tapi aku lebih suka segi cerita The Stag daripada Third Star, hanya saja lebih menyentuh perjalanan geng di Third Star daripada The Stag (review Third Star selengkapnya, klik disini).

Anything else? Well, I think that’s enough! Aku juga baru selesai baca buku Jodie Picoult yang menanti untuk di review.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s