Buku: Pulang

Pulang karya Leila S. Chudori

Pulang

Penulis: Leila S. Chudori
Ilustrasi: Daniel “Timbul” Cahya Krisna
Tebal: 464 halaman
Penerbit: Kepustakaan Gramedia Populer
Cetakan I, Desember 2012

Membuka halaman pertama buku ini, aku disuguhkan oleh banyak sekali testimoni dari beberapa pihak ternama yang membuat aku kagum terhadap buku ini. Ada satu komentar yang sempat membuat aku ragu karena disitu dituliskan bahwa buku ini kental dengan politik. Seketika setelah aku membaca komentar itu aku diam sejenak. Bagaimana kalau benar-benar kisruh politik yang dibahas disini membuat kepala ku pusing? Aku sedang tidak ingin buku yang seperti itu! Tapi lalu aku membalik-balik halaman dan mendapatkan ilustrasi-ilustrasi yang seolah ingin bercerita. Dan ilustrasi-ilustrasi itu pun bercerita, tapi tidak lengkap. Saat itulah aku putuskan, aku akan membaca buku ini.

Semula, kupikir Pulang adalah kisah kerinduan seorang eksil politik bernama Dimas Suryo, yang terasing dan tidak dapat kembali ke Indonesia bersama beberapa temannya: Risjaf, Mas Nug, dan Tjai. Awal kali aku membaca bagian ‘Dimas Suryo’. Petak demi petak sejarah yang diceritakan oleh Dimas Suryo yang begitu sporadik (mengutip kata tokoh Vivienne dan Lintang tentang bagaimana Dimas Suryo menceritakan sejarahnya, tapi memang benar begitulah adanya. Kisahnya ia ceritakan secara sporadik, acak,tak tentu arah dan alurnya bagiku) tapi dapat dimengerti dengan mudah membuat aku menyimpulkan Dimas Suryo benar-benar ingin kembali ke Indonesia. Saat itu aku bertanya-tanya, apa sebabnya ia begitu ingin kembali ke Indonesia melebihi keinginan teman-temannya?

Tapi disinilah justru makna ‘Pulang’ itu ada.

Dimas Suryo sejatinya tidak memihak pada kubu politik manapun pada masa sebelum 1965. Dari yang aku simpulkan, Dimas Suryo tidak begitu tertarik harus berada disisi mana, namun memilih untuk merangkul mana saja kawan yang baginya membuatnya nyaman. Siapa sangka sikapnya ini malah membuat ia menjadi salah satu nama yang sangat dicari. Dan perjalanan yang awalnya hanya pertemuan jurnalistik di Peking berakhir dengan perjalanan tanpa rencana, sebuah pelarian, dimana ia dan kawan-kawannya tak bisa kembali lagi ke tanah air. Lalu berakhirlah perjalanan Dimas Suryo dan kawan-kawannya di Paris, ketika kota itu tengah diliputi dengan revolusi mahasiswa. Namun tetap, bukan itu tujuan terakhir Dimas. Dimas Suryo tetap bersikeras ingin kembali ke tanah air.

Namun cerita tidak hanya mengenai rasa rindu Dimas Suryo. Cerita baru benar-benar dimulai ketika Lintang Utara, putri Dimas Suryo, berkeinginan mengangkat topik 1965 dalam tugas akhirnya yang dengan kata lain, Lintang ingin pergi ke Indonesia.

Ada tiga setting utama yang akan kamu temukan dalam buku ini. Masa revolusi mahasiswa di Paris, Perancis, lalu ada kisruh menyeramkan dan penuh darah pada tahun 1965, dan semangat reformasi tahun 1998.

Dan ya, aku merasakan gejolak politik yang begitu mengena dalam cerita. Namun demikian, kesemua sejarah itu dikemas begitu apik sehingga tidak hanya ‘sejarah’ saja tapi perasaan aku sebagai pembaca ikut-ikutan diusik. Ini bukan buku sejarah, itu jelas terpampang pada cover buku. ‘Sebuah Novel’ begitu tulisnya diatas judul yang terpampang besar dan membara. Novel berlatar sejarah yang unik dan menyentuh.

Ada beberapa surat yang ditujukan untuk Dimas Suryo dalam buku ini. Semua suratlah yang begitu memainkan hatiku. Dan ketika aku menutup buku, selesai membaca halaman terakhir cerita, aku menyadari satu hal. Bahwa ‘Pulang’ bukan sekedar cerita rasa rindu pada tanah air, dan ketika rindu dan cinta itu bersatu, tidak perlu alasan pasti untuk seseorang ingin pulang.

Advertisements

One thought on “Buku: Pulang

  1. Pingback: Recap! Buku Favorit 2015 | interlude

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s