Sebuah Pelarian Singkat

1432966880542

Jumat biasanya menjadi hari yang paling aku tunggu-tunggu. Karena Hari Jumat aku pulang ke rumah ku Depok, yang artinya, aku bisa beristirahat dengan tenang dan bertemu mama. Tapi Jumat, 29 Mei 2015 lalu merupakan hari yang paling aku tunggu-tunggu. Sangat aku tunggu-tunggu. Karena para rekan kerjaku dan aku berencana untuk melakukan pelarian singkat usai jam kerja hari itu ke Puncak. Kami tidak sepenuhnya merencanakan hari itu, dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan oleh kami. Kami bahkan tidak merencanakan ingin pergi ke mana. Tapi yang jelas, Jumat, 29 Mei 2015 sampai Sabtu 30 Mei 2015 kami akan pergi ke Puncak. 8 orang, 1 mobil, di penginapan yang entah belum kami siapkan. Dihiasi canda dan tawa, pelarian singkat kami pun dimulai.

Aku tidak akan bercerita tentang bagaimana kami melalui pelarian ini bersama. Makan di mana, dan melakukan apa. Biarlah itu menjadi cerita kami. Tapi aku ingin memamerkan pada dunia, wajah-wajah cantik dan rupawan yang tersenyum lepas, seolah Senin itu tidak ada.

Hari itu, masing-masing dari kami membawa perbekalan kecil yang kami butuhkan selama 1 malam. Baju ganti, sih, dan gitar yang sayangnya tidak dapat mengalunkan irama merdu karena putus dawainya diperjalanan. Dan akhirnya sekitar pukul 8 malam, kami pun berangkat dari kantor kami di Palmerah Utara menuju puncak. Perjalanan kami sungguh-sungguh dihiasi canda dan tawa.

1433001772515

1433001774624

1433039828028

1433039837645

20150530_152737

20150530_141639

 

Normalnya aku akan menolak perjalanan ke Puncak atau tempat-tempat tinggi. Karena telingaku pasti akan terganggu. Tapi ini pengecualian. Kami tertawa, berteriak, bercanda, berbincang-bincang. Banyak sekali hal yang kami bicarakan selama pelarian itu. Dan posting ini aku persembahkan untuk wajah-wajah ceria kami yang bercerita tentang kebahagiaan kami. Semoga jiwa-jiwa kami selalu membawa wajah dan tawa yang terekam dalam foto-foto ini ke dalam kenangan yang baik.

Aku akan selalu mengingat babak per babak pelarian singkat kami karena semuanya membawa kebahagiaan. Kata ‘kelinci’ akan selalu mengingatkan ku pada lagu konyol Nadia tentang kelinci yang ia nyanyikan selama perjalanan pulang. Sumpah, nada lagu itu salah.

Dan ketika pelarian singkat kami berakhir di Sabtu malam, rasa sedih mendadak membuncah di dadaku. Terima kasih, pelarian singkat ini sangat menyenangkan, kawan 🙂

Mimpi itu bukan kembang tidur.
Ia terjadi dan tidak akan terlupakan.
Tawa itu menggema dalam telinga-telinga kenangan.
Senyum itu terbayang dalam setiap pejaman.
Canda itu bukan harapan.
Tawa itu bukan kenangan.
Ia adalah sejarah yang terukir,
bersama air yang mengalir deras di sungai.
Ia ada, pernah ada, walau tidak meninggalkan jejak.
Ia lah tawa yang bercerita tentang kebahagiaan,
tanpa suara dan kata.

Semua gambar diambil dari kamera ponsel ku, kamera ponsel Marvin, dan kamera ponsel Pak Frenky.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s