Terima Kasih, Papa

1514953_1005809182769942_1861416511374958929_nKalau, kebanyakan orang berlomba-lomba pajang foto bersama papanya dan mempersembahkan ini dan itu untuk papanya di hari ayah kemarin aku hanya bisa gigit bibir sambil kepo-kepo foto mereka dan cerita ayah mereka. Sekarang, aku bisa bercerita sedikit tentang papa.

Rasanya, ini bukan pertama atau kedua kalinya aku menulis tentang papa. Betapa papaku adalah orang yang baik, yang sabar, yang membebaskan anak-anaknya, yang melindungi anak-anaknya, yang dengan sabar memberikan bimbingan dan menjadikan anak-anaknya sebagai yang terbaik, setiap pembaca blog ini atau setiap yang kepo dengan kehidupanku sudah pasti pernah membaca posting-postingan tentang papa.

Karena jika aku rindu, memang itulah yang aku lakukan: mengenang segala tentang papa lalu berandai bagaimana jika papa tetap ada di sini. Sekarang.

10622868_1005809102769950_3223432884082512918_n

Papa punya lengan yang panjang, dengan kaki yang panjang, begitu kurus tapi bagi kami begitu kokoh. Tidak seperti mama yang berjalan cepat, papa berjalan lambat, namun pasti, dan matanya selalu mengawasi kami.

Aku masih ingat betul bagaimana ia menggenggam tanganku ketika berjalan di malam hari. Suara televisi dan remote control yang ia tekan untuk mengganti channel sebagai penanda ia belum tidur ketika malam hari. Bagaimana ia membunyikan klakson mobil satu kali setibanya di rumah. Dan bagaimana ia selalu menatap kami hangat dan berkata “ngaji yuk!”, sehabis sholat isya di malam Jumat.

Aku merindukan masa-masa itu dan bertanya-tanya, apakah kehidupanku akan menjadi seperti yang sekarang berjalan apabila papa masih ada bersama kami?

1601060_1005809559436571_3374541223521639543_n

Sungguh pun aku ingin mengungkapkan rasa sayangku, beribu permohonan maafku, rasa cinta dan rinduku yang terlalu membuncah, aku tidak dapat mengungkapkannya. Jadi, yang dapat aku lakukan hanya mengenang dan berandai. Tidak banyak memang yang bisa aku kenang dari sosok papa. Hanya kilasan demi kilasan yang kembali aku ulang dan ulang. Tapi itu saja sudah cukup membuat aku merasa begitu tenang.

Sebingkai kisah, di mana ada satu keluarga utuh dengan cinta yang amat besar, itu kini memang telah berganti bingkai. Namun bingkai itu selalu ada dalam hatiku. Cerita memang meninggalkan sosok hangat papa dibelakang, tapi kenangan indah itu akan selalu kami bawa. Allah mengirimkan aku pada sosok papa dan mama yang terbaik yang ia miliki untukku. Papa, terima kasih atas segala dan semua yang telah papa berikan untuk kami. Untuk aku.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Terima Kasih, Papa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s