Dua Pertanyaan

Kalau diberikan pertanyaan: Apakah kamu orang baik, apakah kamu orang buruk? Bagaimana caramu menjawabnya?

Sebuah pertanyaan yang sulit ya. Karena pada kenyataannya, tidak ada satupun orang di dunia ini yang mau dibilang jahat. Bahkan suatu waktu aku pernah berpikir kalau ada alasan dibalik ‘jahat’ nya seseorang. Mungkin alasan itu saja yang tidak bisa diterima dan berlawanan dengan nilai-nilai yang telah ada. Jadi, sah kan saja anggapan bahwa semua orang pada dasarnya baik.

Tapi kalau harus menjawab pertanyaan: Apakah kamu orang baik, apakah kamu orang buruk? Dan ini adalah pertanyaan yang wajib dijawab, bagaimana caramu menjawabnya?

Aku pun masih bingung jika disodori pertanyaan ini. Karena sejatinya, manusia itu ada baiknya dan ada buruknya. Tergantung bagaimana seseorang melihat, bukan? Ambil contoh kecilnya, ketika kamu menyela antrean orang dan membuat orang kesal dan bertemu lagi dengan orang yang disela tersebut, apakah ia akan berpikir bahwa kamu adalah orang baik?

Sama halnya jika kamu memberi pertolongan pada seorang ibu yang membutuhkan pertolongan dipinggir jalan. Ketika suatu saat bertemu kembali dan ia mengingat dirimu, apakah ibu itu berpikiran bahwa kamu adalah orang jahat?

Jadi, mungkin jawabanku adalah tergantung bagaimana orang yang memandang.

Tapi jawaban ini rasanya kurang bertanggungjawab. Karena aku seperti hanya sedang mencari-cari alasan dan meninggalkan pertanyaan yang tanggung dengan jawaban yang separuh.

Dan jika aku kembali disodori pertanyaan: Apakah kamu orang baik, apakah kamu orang buruk? Aku pun kembali dibuat bingung.

Pertanyaan ini cukup mengecoh, bukan? Aku akan selalu menilai diriku baik. Tapi aku juga tidak lepas dari keburukan. Mungkin aku lalai, mungkin aku lupa. Atau bahkan, bisa jadi aku jahat karena sengaja. Karena hidup itu bukan hanya perkara hitam dan putih. Bukan perkara baik dan buruk. Bukan perkara iya atau tidak. Karena terkadang, hidup itu seperti hal nya yin dan yang. Tidak perlu ku jelaskan lah ya, pasti semua sudah tahu benar tentang ini, bukan?

Lalu, timbul satu pertanyaan: Mengapa rasa percaya bisa berubah? Pertanyaan satu ini sepertinya mudah untuk dijawab ya. Karena sebenarnya rasa percaya itu memang bisa berubah sewaktu-waktu setelah kita mengenal seseorang atau sesuatu.

Pernah melihat mengkudu? Mengkudu yang di atas pohon, bukan yang sudah jatuh ke tanah dan terinjak-injak. Saat memandang mengkudu, kamu tidak akan menyangka betapa pahitnya rasa mengkudu itu, bukan? (Kalau sudah mengira, berarti mungkin aku saja yang seperti itu, ya) Lantas, kamu jadi membenci mengkudu karena rasanya. Tapi lebih dari itu, kemudian ada lagi fakta yang berkata bahwa mengkudu memiliki banyak sekali manfaat bagi tubuh. Dan secara ajaib, kamu jadi rutin mengonsumsinya.

Ini, bisa kamu bayangkan bukan, bagaimana rasa percaya itu?

Pusing? Tidak perlu diambil pusing. Post ini hanya materi ketik-ketik saja. Bahkan aku tidak memasukkan kesimpulan sama sekali atas jawaban dari kedua pertanyaan itu. Keduanya seperti hanya masuk begitu saja ke dalam kepalaku: meminta untuk dijawab tapi tidak tahu dijawab pada siapa. Pada akhirnya, beginilah post ini terjadi. Bahwa setiap orang adalah orang baik, masih menjadi prinsipku. Dan rasa percaya itu berubah-ubah, itu pula pandanganku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s