Buku: Sylvia’s Letters

sylvias-letter-miranda-malonka-pic-by-nazta

Sylvia’s Letter

Penulis: Miranda Malonka
Tebal: 200 halaman
PT. Gramedia Pustaka Utama
2015

Sylvia’s Letter bercerita tentang Citarani Sylvia, seorang siswi kelas 2 SMA yang mengungkapkan rasa sukanya kepada Anggara melalui surat-surat cinta. Tapi surat-surat yang ia tuliskan itu tidak pernah ia kirimkan. Belakangan, Sylvia bahkan tidak hanya menuliskan tentang rasa sukanya saja dalam surat-suratnya. Pemikiran Sylvia terhadap dunia, permasalahan-permasalahan yang dihadapi teman-temannya, dan bahkan pandangannya sendiri terhadap kehidupannya yang begitu menarik.

Menarik. Dikatakan menarik ini sesuai selera ya. Menurutku cukup menarik. Sylvia diceritakan baru duduk di kelas 2 SMA di awal cerita. Ia begitu tertarik dengan seorang Anggara semenjak pertama kali ia melihat lelaki itu mementaskan drama kelas. Keduanya tidak saling mengenal, tapi Sylvia bisa dengan jujur dan terbuka dalam setiap surat-suratnya.

Dari surat-surat Sylvia, aku bisa menangkap bahwa Sylvia adalah seorang yang dewasa dan bijaksana untuk anak seumurannya. Bagaimana cara ia memandang suatu peristiwa, memberikan satu pandangan baru bagi remaja seusianya. Membaca surat-surat Sylvia, aku malah merasa seperti membaca buku harian Sylvia. Tapi harus kembali ditekankan bahwa ini adalah surat-suratnya Sylvia, jadi terserah bagaimana caranya ia menulisnya.

Pada awalnya aku kira konflik yang terjadi adalah antara Sylvia dan Anggara, mungkin karena surat-surat yang ditulis Sylvia atau apapun yang berkaitan dengan surat-surat tersebut. Namun ternyata dugaanku salah besar. Buku ini memang tentang surat-surat Sylvia, dan yang berkaitan dengan Sylvia, tapi konflik yang terjadi justru adalah antara Sylvia dengan dirinya sendiri. Kebiasaan menulis surat-surat ini lah yang di mulai sejak ia jatuh hati pada Anggara. Ia memang menuliskan tentang perasaannya pada Anggara, tapi sejujurnya rasa sukanya itu tidak bisa aku tangkap dengan jelas. Alih-alih meluapnya perasaan remaja yang sedang jatuh cinta, aku malah mendapati diriku terbawa emosi dengan konflik diri Sylvia.

Bagaimana pun dewasa dan bijaksana nya Sylvia, ia tetap saja remaja yang akan mengalami suka duka. Dan caranya menghadapi suka dan duka itulah yang aku rasa menjadi pokok yang diangkat oleh buku ini. Obsesi untuk menjadi kurus (walau tidak dijelaskan dari awal, seberapa gemuknya sosok Sylvia dari diskripsi yang diberikan Miranda Malonka, tapi inilah faktanya) yang menyebabkan Sylvia menderita Anoreksia Nervosa.

Aku sangat suka pandangan Sylvia terhadap senioritas, keadilan, dan bagaimana ia memperlakukan sahabat-sahabatnya dengan sangat berharga. Aku rasa buku ini bukan tentang kisah cinta remaja SMA, bukan pula tentang obsesi untuk menjadi kurus, tapi tentang pikiran-pikiran seorang manusia. Buku ini bagus, menarik, dan memberikan pesan-pesan khusus. Bukan hanya sekedar hiburan di waktu senggang.

Berapa bintang yang mau kubagikan? Tadinya tiga, tiga koma lima sejujurnya. Karena aku pikir awalnya aku tidak bisa meraba kisah cintanya. Tapi belakangan, aku rasa empat bintang pun tidak percuma. Karena aku pikir alangkah bagusnya jika banyak orang yang membaca buku ini. Ambil pesan di dalam buku ini, bukan cerita hiburannya saja.

 

Advertisements

2 thoughts on “Buku: Sylvia’s Letters

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s