Senyum Manis Laila

Zebra saja senyumnya lebar, senyum mu mana?

Zebra saja senyumnya lebar, senyum mu mana?

 

Awal Desember 2015 lalu saya berkesempatan mengunjungi Safari Prigen di Pasuruan, Jawa Timur. Perjalanan yang benar-benar menjadi pengalaman berharga sekaligus menakjubkan bagi saya. Perjalanan yang memberikan pelajaran yang tidak ada habis-habisnya bagi saya. Bagaimana tidak, biasanya saya menghindari dataran tinggi, lalu saya berkunjung ke daerah pegunungan. Hebohnya lagi, saya naik pesawat tanpa pendamping untuk pertama kalinya! Bagi orang-orang yang baru pertama membaca blog saya pasti heran, naik pesawat sendiri saja kok reaksinya heboh, norak sekali, ya? Tapi begitulah saya yang diharuskan pergi dengan pendamping karena masalah kesehatan.

Sebenarnya saya sudah menyiapkan satu postingan khusus tentang Safari Prigen. Betapa menakjubkannya kunjungan saya setelah sekian lama tidak mengunjungi Taman Safari. Terakhir kali mungkin waktu saya masih di Sekolah Dasar. Itu sudah lama sekali dan banyak momen yang sudah saya lupakan. Tapi posting kali ini mungkin tidak ada kaitannya dengan fasilitas dan tempat wisata seperti apakah Safari Prigen itu.

Posting ini adalah kisah tentang Laila, seorang anak manis yang saya temui di Jembatan menuju Zona Baby Zoo, Safari Prigen. Bukan, Laila bukan Zebra yang ada di gamba posting ini. Foto itu sekedar gambar pendukung saja. Laila adalah seorang gadis manis pemilik senyum yang begitu memikat.

Saat itu adalah hari terakhir kami berada di Prigen. Saya sengaja memisahkan diri dari rombongan untuk keperluan ‘rekreasi’. Zona Baby Zoo adalah tujuan saya. Saya mau lihat-lihat bayi-bayi satwa lucu sambil memotret momen-momen ceria pengunjung hari itu.

Untuk mengunjungi Zona Baby Zoo, saya harus melalui sebuah jembatan yang terbentang di atas sungai yang penuh dengan Buaya. Buaya yang diam seperti batang kayu itu cukup menarik perhatian saya, saya berhenti sejenak di jembatan untuk sekedar melongokkan kepala saja. Tanpa disangka, berhenti sejenaknya saya di sana mempertemukan saya dengan seorang gadis kecil yang ceria.

Ia adalah Laila. Dengan celoteh manja khas anak-anak nya, Laila mencoba berbicara kepada saya dengan Bahasa Jawa yang kental dan tidak bisa saya pahami. Awalnya saya tidak sadar gadis kecil yang lugu itu mengajak saya berbicara, hingga tangan mungilnya menyentuh tas kamera saya dan menarik-nariknya dengan lembut.

Perhatian saya lantas tertuju pada gadis kecil yang sedang berdiri bersama Ayah, Ibu, dan adik kecilnya yang digendong Sang Ayah. Karena bingung, saya lantas bertanya kepada Sang Ibu, apa yang ditanyakan oleh gadis kecil berkuncir dua itu. Dengan senyum ramah, Sang Ibu membantu menerjemahkan hingga kami mengerti apa yang satu sama lain ucapkan.

Namanya Laila, usianya baru menginjak 3 tahun dan senangnya adalah berbicara. Tidak putus-putusnya ia menanyakan kepada saya, benda apa yang terbaring di dasar sungai itu? Buaya kah? Mengapa Buaya itu tidak bergerak? Apakah dia lelah? Apa pekerjaan Buaya itu sampai-sampai ia tidak bisa bergerak? Kurang lebih itu adalah beberapa pertanyaan yang diajukan Laila pada saya.

Sejujurnya, saya bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Apa lagi Laila tetap berbicara dengan Bahasa Jawa yang tidak saya mengerti sepenuhnya. Tapi ada hal yang membuat saya terpesona dengan setiap celotehannya hingga saya pun meladeni ocehannya.

Tentang keberanian Laila memulai. Bagi saya, keberanian memulai percakapan itu adalah hal yang besar. Dengan memulai percakapan, saya pastikan orang itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Bagaimana dengan ramahnya ia mencari kata-kata yang bisa saya mengerti dengan bertanya kepada Ibunya membuat saya lebih kagum lagi. Bu, tahukah Anda, gadis kecil itu terlihat seperti dian dalam kegelapan? 

Lalu senyum Laila yang seolah tak ada habisnya. Hingga saya pun rasanya tidak tega meninggalkannya yang masih ingin bertanya ini dan itu kepada saya. Ya, meskipun saya tidak bisa menjawab pertanyaannya, dengan ramah Laila menanyakan lagi pertanyaan lainnya hingga saya berbicara banyak dan hampir mendongeng tentang Buaya yang kelelahan. Itulah anak kecil, saya pikir, keponakan saya pun suka bertanya, kalau bertanya tidak ada habisnya. Tapi senyum Laila sangat manis hingga matanya seperti memancarkan cahaya berkelap-kelip.

Ketika itu saya berpikir, jika anak kecil bisa begitu ramahnya kepada orang lain; menebar senyum dan sapa dengan sopannya dan tak habis-habisnya, kenapa orang dewasa justru saling menghindar dan berprasangka? Tapi lalu saya ingat, orang dewasa telah melalui banyak peristiwa yang membuat dirinya semakin waspada. Tidak terkecuali saya, saya akui saya pun terkadang menghindari beberapa orang yang baru saya kenal. Tapi anak kecil itu begitu lugu dan manis, bukan? Sekedar senyum yang tulus saya rasa tidak akan menyakiti dan merugikan siapapun.

Maka itulah salah satu pelajaran yang saya dapatkan dari Laila, tersenyum. Tersenyum seperti anak usia 3 tahun yang tulus dan tanpa prasangka akan membuat orang di sekitarmu merasa lebih baik.

Advertisements

One thought on “Senyum Manis Laila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s