Mengenai puisi “Di Restoran” dalam kepala ku.

naztasaari-blog-22-05-2016

Cerita yang sama selalu aku ceritakan pada teman-temanku. Aku tahu, mereka pasti sudah bosan dan selalu bisa menebak jalan pikiranku. Karena mulutku tidak bisa berhenti sekalinya aku bercerita tentang hal yang sama, orang yang sama, peristiwa yang sama, lelucon yang sama, semuanya yang sama.

Maka kali ini aku mau berbagi sebuah puisi indah yang berputar-putar di kepala ku seribu kali banyaknya setiap hari. Sebagai upaya menceritakan cerita yang sama itu kepada kalian yang membaca. Sebuah puisi karya Sapardi Djoko Darmono berjudul Di Restoran.

Di Restoran
karya Sapardi Djoko Darmono

Kita berdua saja, duduk
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput
kau entah memesan apa
Aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras

kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja, duduk
Aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya
memesan rasa lapar yang asing itu.

Ada ‘aku’, ‘kau’, dan ‘kita’ pada puisi ini. Jika cerpen, maka sudah pasti sudut pandang orang pertama lah yang digunakan. Begitu singkat, aneh, tapi bagiku begitu jelas.

Puisi berkisah tentang ‘aku’ dan ‘kau’ yang sedang duduk berdua di sebuah restoran. Seperti banyaknya orang yang ada di restoran, mereka memesan apa yang bisa mereka pesan. Ini unik, karena semua yang dipesan oleh ‘aku’ adalah hal-hal yang tidak lazim ditemui di restoran. Tapi itulah puisi dan itulah mengapa orang menganalisisnya.

Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput.

Dalam puisi Di Restoran, aku sebagai pembaca tidak menemukan penjelasan “ada apa” di restoran. Tidak ada latar lain yang aku tahu selain keduanya duduk di restoran. Mungkin saling berhadapan, atau mungkin bersisian. Tidak ada penjelasan. Maka, naluri sok tahu ini menyimpulkan bahwa puisi Di Restoran adalah tentang apa yang ‘aku’ dan ‘kau’ pesan, yang mungkin mereka inginkan.

Aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras

Setidaknya tiga kali ‘aku’ memaparkan apa yang ia pesan. Penekanan di kata memesan bagiku menggambarkan ketahuan, pemahaman, dan kesadaran ‘aku’ atas apa yang ia inginkan. ‘Aku’ memesan ilalang panjang, bunga rumput, batu di tengah sungai terjal, rasa sakit yang tak putus, dan rasa lapar yang asing. Sama sekali bukan pilihan bagus untuk dipesan di restoran. Ketika seharusnya setiap orang di restoran bebas memesan, ‘aku’ memesan rasa sakit yang tak putus.

Aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya
memesan rasa lapar yang asing itu.

Terlepas dari apa yang ‘aku’ pesan, jelas ‘aku’ sadar atas apa yang akan ia dapatkan. Namun sayangnya,

kau entah memesan apa.

‘Aku’ tidak tahu apa yang sedang dan akan dipesan oleh ‘kau’.

Tapi ‘aku’ dan ‘kau’ dalam puisi ada di dalam sebuah restoran. Duduk berdua. Yang mana dapat aku simpulkan (oke, sok tahu lagi, kan) keduanya berada dalam situasi yang sama. Berhadapan dengan satu peristiwa atau kejadian atau permasalahan yang sama, namun dihadapkan oleh berjuta pilihan yang hanya diketahui masing-masing dari mereka, apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Puisi ini pernah direkam dalam komposisi musik indah M. Umar Muslim dan dinyanyikan oleh duet AriReda, Ari Malibu dan Reda Gaudiamo.

 

Cerita lain dari di Restoran

Puisi ini pertama kali aku baca ketika masih SMA. Ketika itu, teman-teman sekelas ku begitu tergila-gila dengan puisi Sapardi Djoko Darmono berjudul ‘Aku Ingin’. Aku pun begitu. Tapi puisi lain karya Sapardi Djoko Darmono begitu menyita perhatianku. Di Restoran.

Puisi ini terlewat karena silaunya ‘Aku Ingin’ ketika itu. Tidak ada analisis puisi resmi di kelas kami. Yang ada hanya aku dan seorang teman yang berdiskusi mentah tentang puisi ini. Analisis ini pun amat mentah dan prematur terbawa baper tapi aku tulis juga karena begitu inginnya aku bercerita. Jadi, bacanya nggak usah serius.

Meski sudah pernah membacanya ketika SMA, kisah di Restoran ku baru bermula bertahun-tahun setelahnya. Timbul tenggelam. Dan kembali dibangkitkan lagi sesaat sebelum lampu terakhir ku padamkan.

Setelah sekian lama, puisi ini kembali hadir dalam ingatanku ketika sekitar dua minggu lalu seseorang membuat pertanyaan konyol “kenapa” itu muncul kembali di kepala ku. Sialnya, pertanyaan konyol itu beranak-pinak dan mempermainkan amygdala ku. Menginap pula hingga detik ini. Tidak puas sampai di situ, perilaku yang lebih konyol pun jadi aku lakukan. Seperti menulis kata demi kata ini. Lucu, kan?

Tapi aku sadar, berada dalam situasi apapun, aku hanya bisa mengetahui apa yang aku tahu. Pikiran yang sama akan terus bermain di kepalaku karena aku memikirkan apa yang aku ketahui. Aku hanya bisa menerka-nerka, apa yang ia inginkan tanpa tahu apa yang benar-benar ia inginkan. Lalu pertanyaan ‘kenapa’ yang beranak-pinak itu tetap tidak terjawab.

Seperti puisi ‘Di Restoran’, sekarang aku hanya bisa berharap bahwa kita benar-benar berada di restoran yang sama. Apapun kenyataannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s