Suicide Squad (2016): Parade Lagu Asik

suicide-squad-poster-2

Sejujurnya, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Mengkritik film bukan keahlianku, ulasan pun hanya kulakukan untuk beberapa film yang ku suka saja. Biasanya kutulis mendalam hingga tetek-bengek yang tidak penting pun kadang ikutan.

Tapi Suicide Squad ini menarik. Setahun sudah aku menantinya. Bukan karena aku penggemar DC, aku bahkan bisa dikatakan bukan penikmat film super hero. Tapi karena rasa penasaran. Bagaimana tidak, jauh sebelum rilis berbagai artikel sudah muncul. Seolah-olah seluruh dunia menanti rilisnya film ini. Belum lagi trailer dengan lagu-lagu yang sangat ku kenal bermunculan: Bohemian Rhapsody, I Started a Joke (dinyanyikan dalam versi lain). Oh ya, itulah salah satu yang membuat aku jatuh cinta, soundtrack!

suicide-squad-poster-3

Suicide Squad becerita tentang kumpulan supervillains yang disatukan oleh pemerintah untuk satu misi rahasia. Namun sayangnya, belum lagi misi dilaksanakan, satu penjahat super membelot. Dan sialnya, penjahat yang satu ini benar-benar memiliki kekuatan super, Enchantress (Cara Delevingne). Mereka yang tidak terbiasa dengan team work harus bersedia bekerja dalam satu tim. Di bawah pengawasan Rick Flag (Joel Kinnaman), mereka tidak bisa melarikan diri. Sementara itu, Joker (Jared Leto) di tempat lain merencanakan misinya sendiri untuk menjemput pujaan hatinya, Harley Quinn (Margot Robbie).

Suicide Squad ini sebenarnya diangkat dari salah satu seri komik DC. Tidak heran jika film ini begitu dinantikan oleh penggemar DC. Banyak bintang ternama seperti Will Smith, Viola Davis, dan Margot Robbie yang menjadi daya pikat film ini. Salah satu temanku sebenarnya pernah memperingatiku tentang film yang dibintangi selebriti kekinian. Ia bilang, patut dicurigai jika dalam satu film banyak sekali bintang terkenalnya. Jangan-jangan, cerita tidak sekuat para pemeran. Tapi aku mencoba menepis anggapan itu. Sebagai catatan, temanku ini memang lebih menyukai film indie yang kuat di cerita dan minim investasi.

3 Agustus 2016 lalu, hari pertama Suicide Squad rilis di indonesia akhirnya aku bisa melunasi rasa penasaranku. Walau kepuasan tidak mencapai klimaks, tapi aku menikmati Suicide Squad. Mungkin perkataan temanku ada benarnya soal cerita yang tidak kuat, tapi aku suka bagaimana setiap karakter Suicide Squad dimainkan dengan penokohan yang begitu kuat.

Bagiku, ada terlalu banyak waktu untuk cerita yang begitu acak, namun terlalu sedikit waktu untuk mendalami tiap-tiap tokoh. Mengingat tidak hanya satu tokoh yang menjadi pusat perhatian, aku rasa intronya kurang menyentuh. Ada pula humor yang tidak selucu di trailer dan gagal membuat orang tertawa.

Dan satu hal yang membuatku sedikit kecewa adalah ekspektasiku terhadap Joker. Bukan, bukan mengenai bagaimana karakter ini terbentuk dengan Jared Leto sebagai pemeran. Tapi karena kemunculanya yang rupanya memang bukan bagian dari cerita inti. Sementara di trailer dan beberapa artikel, tokoh Joker seperti menjadi pusat perhatian.

Rotten Tomatoes memberi rating 27% hingga aku mengetik kalimat ini. Sementara aku, aku lebih menikmati soundtrack dari pada ceritanya. Cerita loh ya, bukan tokoh.

Ini serius. Sepanjang film, deretan lagu yang begitu ku kenal mengalun. Bohemian Rhapsody dan I Started A Joke rupanya hanya “appetizer”. Mulai dari lagu Without You oleh Eminem yang dimainkan hampir seperempat lagu, hingga intro Seven Nation Army oleh The White Stripes yang mengalun ketika para penjahat super berkumpul pertama kali begitu menghipnotisku. Bahkan, hanya di credit, aku yakin seratus persen ada lagu Come Baby Come oleh K7. Ini lagu favorit ku sejak aku balita, bagaimana bisa aku melewatkanya? DAN, ada Sympathy for the Devil oleh The Rolling Stones juga. Jika dibuat daftar, mungkin sebagian besar lagunya adalah lagu lawas yang aku kenal. Hanya saja aku masih tidak rela mendengarka Bohemian Rhapsody versi Panic! At the Disco. Meski tidak ada perubahan berarti dalam versi Panic! At the Disco, tapi aku sangat-sangat-sangat merindukan suara Freddy Mercury karena mendengarnya.

Tidak hanya jadi ajang nostalgia, soundtrack yang lebih baru pun menyertai film dengan begitu apik. You Don’t Own me oleh Grace dan G-Eazy yang begitu seksi misalnya (aslinya dinyanyikan oleh Lesley Gore pada tahun 1963, versi baru ditambah lirik rap oleh G-Eazy). Lagu ini selalu berhasil mengingatkanku pada sosok Harley Quinn. Ada pula Heathens oleh Twenty One Pilots dan Standing in the Rain oleh Action Bronson dkk yang menjadi favoritku.

Hampir ketika tiap lagu yang akrab ditelinga muncul, aku bernyanyi. Ketika itu aku bahkan tidak bisa memutuskan diriku berada di bioskop atau bilik karaoke. Yang jelas, sepanjang film aku terhibur dengan tokoh dan lagu yang menyertainya.

Album soundtrack-nya sendiri rilis di Spotify dan iTunes serentak dengan penayangan film perdananya di Amerika Serikat. Jadi untuk medengar full 14 track aku harus menunggu beberapa hari terlebih dahulu. Namun demikian, tentu saja tidak semua lagu yang aku tuliskan di atas ada dalam album resminya.

Banyak kritik mengarah pada film ini. Seburuk itu kah? Bagiku, dari segi cerita mungkin kurang, tapi dengan parade lagu asyik dan tokoh yang dimainkan dengan sangat rapi, ku rasa masih bisa dinikmati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s