Apa yang saya ketahui soal Sudden Deafness?

NAZTA-SAARI-25

Beberapa hari lalu seorang teman bertanya pada saya mengenai sudden deafness. Ia berkeluh, sudah beberapa hari telinganya kedap. Selain telinga kedap, ia juga menderita flu. Kejadian yang sama pernah terjadi pada saya, Februari 2016 lalu. Satu bulan setelah berbahagia karena setelah sekian lama menganggur, akhirnya diterima kerja juga.

11 Februari 2016 jadi hari campur aduk bagi saya. Saya ingat betul, pagi hari saya sempat merasa deg-degan karena untuk pertama kalinya akan izin pulang cepat dari kantor. Hal lain yang saya rasakan hari itu adalah senang. Bagaimana tidak, teman saya membelikan tiket Jakarta-Semarang dan sebaliknya gratis dengan jadwal keberangkatan Jumat, 12 Februari 2016 malam.

Tapi saya tidak bisa terbang tanpa periksa. Pemeriksaan rutin karena saya ingin melakukan penerbangan, sedang flu, vertigo, dan telinga kanan yang mendadak tidak bisa mendengar. Tiga alasan terbelakang sebenarnya sudah saya derita sejak kurang lebih satu minggu lamanya. Saya tidak mengacuhkannya karena saya anggap itu efek flu. Telinga kanan saya punya sejarah buruk, dan itu sudah biasa.

Izin pulang cepat hari itu pun saya khususkan untuk pemeriksaan ke dokter THT langganan di rumah sakit THT di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Malam itu, lama saya menunggu dengan perasaan campur aduk hingga tiba waktu saya masuk ke ruang periksa dokter.

Prosedurnya, sudah saya hapal. Dokter menanyai keluhan saya, dan saya ceritakan maksud tujuan saya. Lalu dokter menyuruh saya untuk berbaring di meja periksa dan sama-sama melihat kondisi “mutiara” dalam telinga yang biasanya menjadi masalah. Mutiara yang dimaksudkan adalah si gendang telinga. Si mutiara begitu cantik, tak ada masalah. Bahkan kotoran telinga pun hari itu tak ada. “Boleh terbang!”, ucap dokter, mantap.

Tapi lalu saya ceritakan keluhan saya yang lain. Bahwa telinga kanan saya mendadak kedap suara sejak beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba dan tanpa rasa sakit. Dokter sedikit heran, tapi lalu kembali memeriksa telinga kanan saya. Dokter kemudian meminta suster menyiapkan ruang periksa intensif. Ruangannya seram seperti ruang bedah. Dan saya disuruhnya menunggu di sana.

Rasanya berdebar-debar sekali. Ada apa? Kenapa dokter yang biasanya bawel mendadak tak bicara apa pun ketika saya bilang keluhan lanjutan saya itu?

Dokter datang tak lama kemudian dan mulai memeriksa kuping saya. Beberapa bagian kepala saya disentuh dan saya disuruh “melacak” arah suara. Beliau kemudian berkata bahwa saya terkena stroke telinga dan dianjurkan rawat inap malam ini juga. Sebagai rujukan, dokter menulis surat rawat inap untuk RS. Bedah THT Proklamasi.

Sebelum membaca lebih lanjut, perlu diketahui bahwa postingan ini hanya berdasarkan apa yang saya alami dan ketahui dari google, dokter umum, dan dokter THT TAPI mungkin tidak rinci. Jadi jika ada kekeliruan, mohon bantuan mengoreksi ya..

Apa itu sudden deafness?

Merujuk arti katanya, sudden deafness itu ya mendadak tuli. Dari pencarian di google, sudden deafness punya nama medis sudden sensorineural hearing loss atau SSNHL. Dikatakan sudden deafness mana kala telinga yang satu atau keduanya kehilangan kemampuan mendengar lebih dari 30 desibel dalam tiga frekuensi berurutan. Ini bisa dilihat dari hasil audiogram. Tuli. Menurut Laras, kata-kata itu digunakan oleh orang awam dan dalam kedokteran, jadi jangan tersinggung dengan penyakit satu ini.

Apa penyebabnya?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Dokter saya pun berkata, ada banyak hal yang menyebabkan sudden deafness terjadi tapi tidak pasti. Kalau googling sih, penyebabnya bisa karena tekanan darah, trauma, penyakit dalam telinga, pengaruh obat, dll. Saat terapi hiperbarik, beberapa pasien yang senasib dengan saya bercerita soal sebab mereka mendapatkan sudden deafness. Ada yang karena menyelam lalu tiba di darat malah tak bisa mendengar, ada yang oleh-oleh dari pendakian terakhir, ada yang karena demam, ada juga yang karena benturan.

Pada kasus saya, sejujurnya saya tidak tahu penyebabnya. Karena awalnya yang  saya rasakan hanya kedap suara di sebelah kanan dan hidung yang agak tersumbat. Tidak ada rasa sakit sama sekali. Maka saya kira awalnya hanya flu. Beberapa hari sebelum periksa, saya sempat merasakan vertigo maha dahsyat sampai-sampai mual dan panas-dingin. Menurut dokter, harusnya ketika vertigo itu saya buru-buru cek..

Bagaimana pengobatannnya?

Laras pernah bilang ke saya kalau sakit itu, yang diobati penyebab sakitnya. Jadi kalau pusing karena gigi berlubang yang diobati sebenarnya bukan kepalanya, tapi gigi berlubangnya. Bagaimana dengan sudden deafness? Yang saya lalui adalah terapi syaraf. Dari infus, suntik, dan obat minum. Saya dirawat selama sembilan hari, selama itu juga saya diinfus dan suntik. Selain itu, di rumah sakit saya juga tidak diperbolehkan makan makanan bergaram. Lalu terakhir, ada terapi hiperbarik.

Hiperbarik adalah terapi oksigen murni di mana saya dan beberapa pasien lainnya masuk ke dalam chamber (kamar kecil) yang di dalamnya sudah ada seperangkat alat hisap oksigen murni. Chamber itu spesial, karena selain duduk-duduk sambil bernafas, di dalam sana nantinya tekanan udara akan berbeda. Dibuat bertahap dari sedang ke dalam, seperti saat menyelam atau terbang. Jadi ketika terapi hiperbarik itu yang saya rasakan adalah telinga yang begitu sakit seperti ketika di pesawat. Tapi tentu, saya harus bisa mengendalikan rasa sakit. Makanya di dalam tersedia minuman, majalah, permen, dan teman ngobrol. Karena jika telinga kedap karena ketinggian, sebenarnya obatnya sederhana saja, membuka rongga telinga dengan cara menggerakan mulut. Saya melewati 10 kali sesi terapi hiperbarik. Terapi harus dilakukan bersambung, sekali setiap harinya, dan tidak boleh dibarengi dengan jadwal terbang di hari yang sama.

Bisakah kembali normal?

Dokter yang menangani saya mengatakan kemungkinan sembuh pasti ada, tapi berapa persen pendengaran saya yang kembali itu yang tidak bisa dipastikan. Terlebih saya sudah melewati masa emas. Masa emas yang dimaksud adalah dua-tiga hari setelah telinga mendadak tuli. Jika saya memeriksakan telinga dalam waktu paling lama tiga hari itu, maka kemungkinan pendengaran kembali semakin besar. Dari google, saya juga menemukan bahwa ada beberapa kasus sudden deafness yang mendapatkan kembali pendengarannya secara tiba-tiba, tapi ada juga yang tidak kembali.

Saya sempat berpikir lama ketika akan menulis posting ini. Buat apa? Tidak semua orang bisa menerima keadaan ini. Tapi saya teringat teman saya yang bertanya soal sudden deafness. Saat dia bertanya pada saya, jujur saya takut teman saya mengalami hal yang sama. Saya tidak mau ada “saya” yang lain, karena mengabaikan kesehatan telinga. Bagaimana pun, kesehatan telinga sama pentingnya dengan kesehatan tubuh yang lain. Jadi jika ada keluhan, ada baiknya segera diperiksakan dan tidak usah sok jadi dokter sendiri.

Advertisements

Mereka yang pergi, dan tetap di sini

NAZTA-SAARI-BLOG-2

Kata orang, di dunia ini cuma ada satu hal yang pasti. Kematian. Setiap orang pasti akan merasakan mati. Tapi tanpa disadari, kematian juga jadi hal yang nggak pasti. Karena nggak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu kapan dirinya akan berpulang.

Beberapa tahun lalu, dokter gigi adikku pernah bercerita tentang pengalaman dirinya yang menjadi saksi malaikat maut menghunuskan pedangnya tanpa diduga-duga. Tanpa peringatan, tanpa bisa dicegah, tanpa bisa ditunda. Aku tidak ingat persisnya cerita sang dokter. Tapi aku ingat betul pesan sang dokter pada kami.

“Hidup itu ibarat ruang tunggu dokter. Kita ada di dalam ruang tunggu itu, bedanya nggak ada yang tau kita dapat nomor antrean ke-berapa. Bisa jadi saya duluan yang dipanggil, bisa jadi kamu duluan yang dipanggil”, ucapnya ketika itu.

Aku sependapat dengan sang dokter. Nggak ada yang tahu kapan kamu dipanggil, aku dipanggil. Waktu boleh berputar, tapi usia sama sekali bukan penentu nomor antreanmu nomor berapa.

Sebuah kabar mengejutkan datang dari salah satu teman. Pemuda itu usianya di bawah aku. Dia pintar dan baik, senang berbagi dan ramah. Aku tak pernah kenal dengannya di dunia nyata. Marfan Syndrome, dan mungkin rasa sepenanggungan yang mempersatukan kami dalam satu grup pesan instan. Dirinya banyak berbagi soal pengalamannya dengan penyakit yang kami derita.

Grup pesan instan itu berdiri sebenarnya dengan satu tujuan: menjadi wadah sesama kami berbagi dan menyebarkan informasi dan kepedulian kepada orang banyak. Kami berencana membuat Instagram sebagai “majalah dinding”. Kami bercita-cita melakukan pertemuan singkat suatu hari nanti.

Tapi sayangnya, kami tidak banyak menghabiskan waktu bersama. Grup lebih banyak diam. Mungkin karena sebagian besar dari kami pemalu. Atau apalah. Entah.

Hingga kabar mengejutkan datang, tentang salah satu di antara kami yang berpulang.

Mendengar kabar itu, aku hancur. Mungkin aku tidak mengenal sosok si pemuda cukup dekat. Tapi bagaimana kabar tersebut datang, cukup menghantamku. Sekali lagi aku seolah diingatkan tentang waktu yang tidak bisa diputar kembali. Tentang hidup yang telah sia-sia terbuang bersama waktu yang menjadi mainan.

Untuk pemuda itu, aku hanya bisa berdoa. Tulus dari dalam hatiku. Semoga dirinya ditempatkan di tempat terindah oleh Allah SWT. Keceriaannya dan hal-hal yang telah ia bagi kepada kami sungguh sangat berharga dan membekas dalam ingatan. Meskipun perkenalan kami singkat, tapi aku tahu dirinya adalah orang yang baik. Itulah mengapa “Allah lebih sayang sama dia”.

Untuk kita yang masih di dunia (aku khususnya), bersemangatlah. Jangan lagi permainkan waktu, karena waktu itu sebenarnya bukan punya kita. Kita cuma bisa menunggu. Tapi saat kita menunggu itu bisa kita manfaatkan dengan baik. Sebaik-baiknya, sekuat tenaga.