Mereka yang pergi, dan tetap di sini

NAZTA-SAARI-BLOG-2

Kata orang, di dunia ini cuma ada satu hal yang pasti. Kematian. Setiap orang pasti akan merasakan mati. Tapi tanpa disadari, kematian juga jadi hal yang nggak pasti. Karena nggak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu kapan dirinya akan berpulang.

Beberapa tahun lalu, dokter gigi adikku pernah bercerita tentang pengalaman dirinya yang menjadi saksi malaikat maut menghunuskan pedangnya tanpa diduga-duga. Tanpa peringatan, tanpa bisa dicegah, tanpa bisa ditunda. Aku tidak ingat persisnya cerita sang dokter. Tapi aku ingat betul pesan sang dokter pada kami.

“Hidup itu ibarat ruang tunggu dokter. Kita ada di dalam ruang tunggu itu, bedanya nggak ada yang tau kita dapat nomor antrean ke-berapa. Bisa jadi saya duluan yang dipanggil, bisa jadi kamu duluan yang dipanggil”, ucapnya ketika itu.

Aku sependapat dengan sang dokter. Nggak ada yang tahu kapan kamu dipanggil, aku dipanggil. Waktu boleh berputar, tapi usia sama sekali bukan penentu nomor antreanmu nomor berapa.

Sebuah kabar mengejutkan datang dari salah satu teman. Pemuda itu usianya di bawah aku. Dia pintar dan baik, senang berbagi dan ramah. Aku tak pernah kenal dengannya di dunia nyata. Marfan Syndrome, dan mungkin rasa sepenanggungan yang mempersatukan kami dalam satu grup pesan instan. Dirinya banyak berbagi soal pengalamannya dengan penyakit yang kami derita.

Grup pesan instan itu berdiri sebenarnya dengan satu tujuan: menjadi wadah sesama kami berbagi dan menyebarkan informasi dan kepedulian kepada orang banyak. Kami berencana membuat Instagram sebagai “majalah dinding”. Kami bercita-cita melakukan pertemuan singkat suatu hari nanti.

Tapi sayangnya, kami tidak banyak menghabiskan waktu bersama. Grup lebih banyak diam. Mungkin karena sebagian besar dari kami pemalu. Atau apalah. Entah.

Hingga kabar mengejutkan datang, tentang salah satu di antara kami yang berpulang.

Mendengar kabar itu, aku hancur. Mungkin aku tidak mengenal sosok si pemuda cukup dekat. Tapi bagaimana kabar tersebut datang, cukup menghantamku. Sekali lagi aku seolah diingatkan tentang waktu yang tidak bisa diputar kembali. Tentang hidup yang telah sia-sia terbuang bersama waktu yang menjadi mainan.

Untuk pemuda itu, aku hanya bisa berdoa. Tulus dari dalam hatiku. Semoga dirinya ditempatkan di tempat terindah oleh Allah SWT. Keceriaannya dan hal-hal yang telah ia bagi kepada kami sungguh sangat berharga dan membekas dalam ingatan. Meskipun perkenalan kami singkat, tapi aku tahu dirinya adalah orang yang baik. Itulah mengapa “Allah lebih sayang sama dia”.

Untuk kita yang masih di dunia (aku khususnya), bersemangatlah. Jangan lagi permainkan waktu, karena waktu itu sebenarnya bukan punya kita. Kita cuma bisa menunggu. Tapi saat kita menunggu itu bisa kita manfaatkan dengan baik. Sebaik-baiknya, sekuat tenaga.

Advertisements