The Greatest Showman, bolak-balik kisah di balik layar sirkus

greatest_showman

No one ever made a difference by being like everyone else
– P.T. Barnum

Bagi sebagian besar orang, khususnya yang berada di bangku penonton, sirkus tak lebih dari sekadar pertunjukkan. Segerombolan orang dengan penampilan aneh dan atraksi unik di depan “sana” yang entah bagaimana menyihir pandangan penonton hingga tak bisa lepas dari pertunjukkan mereka. Kadang, sirkus menghadirkan trik sulap, kadang dengan satwa. Tak jarang sirkus hadir dengan kontroversi, tapi masih juga jadi pertunjukkan yang diminati.

Sekilas tentang film

Terlepas dari itu, setiap panggung punya cerita. Di depan dan di belakang, sebelum maupun sesudah. Mungkin itulah yang coba diangkat dalam film The Greatest Showman. Walau, harus aku akui kehidupan P.T. Barnum yang diangkat dalam film ini hanyalah secuil kecil saja. Yang manis-manisnya saja.

Film ini terinspirasi dari ambisi P.T. Barnum mendirikan bisnis pertunjukan yang berbeda, dan tentu saja mengumpulkan pundi-pundi emas.

Phineas Taylor Barnum, P.T. Barnum, berasal dari Connecticut. Kehidupannya sebagai anak penjahit tidak bisa dibilang mudah. Ia harus berjuang, bertahan hidup, dan mau tak mau melepaskan mimpinya. Namun, tak bisa disangkal, P.T. Barnum adalah orang gigih yang punya keyakinan dan dunia khayal yang kuat.

Dalam film The Greatest Showman, P.T. Barnum yang dalam keadaan terjepit memulai “bisnis pertunjukkan”-nya dengan sebuah museum yang berisi benda-benda aneh dan binatang-binatang yang diawetkan. Sayang, penghasilan dari museum tidak seperti yang ia harapkan. Hingga muncul sebuah ide mendirikan pertunjukkan berisi “keanehan-keanehan dunia”.

Pertunjukkan berisi wanita berjenggot, pria dengan bobot terbesar, jenderal Tom Thumb, dan orang-orang tak biasa lainnya ini lah yang mengantarkan P.T. Barnum pada kesuksesan. Dalam film, P.T. Barnum berhasil meraih kesuksesan dan tanpa disadari membentuk sebuah keluarga baru dalam bisnis pertunjukkannya.

GREATEST-SHOWMAN-1

Bagi saya, sebagai hiburan, The Greatest Showman adalah film yang manis, ringan, dan penuh semangat. Biopik ini dikemas dalam drama musikal dengan deretan lagu tema yang easy-listening dengan lirik yang menggugah minat. Namanya drama musikal, sudah pasti lagu yang ada di dalamnya pun ikut bercerita. Saya sebagai penonton merasa sangat terhibur. Bahkan hingga hari ini, sekali-dua kali, saya masih mendengarkan lagu tema The Greatest Showman.

The Greatest Showman seolah-olah ingin menceritakan semangat P.T. Barnum mengejar impiannya, membuatnya jadi nyata, mengumpulkan satu demi satu “bintang” untuk pertunjukkannya, membuat suatu keluarga baru tanpa memandang kekurangan siapa pun, diterpa keserakahan lalu dapat mengatasinya, dan seolah-olah menjadikannya “pahlawan” dalam film ini. P.T. Barnum mungkin tokoh utama, tapi rasanya untuk menjadikannya pahlawan, saya kurang rela.

P.T. Barnum di dunia nyata melalui arus hidup yang tak mudah. Ia mencapai titik terendah dan melesat ke puncak dengan rintangan yang bertubi-tubi. Terlebih reputasinya mulai menanjak ketika ia mengeksploitasi secara berlebihan salah satu “awak” dalam bisnis pertunjukkannya, tidak diceritakan dalam film. Tapi lagi-lagi, selama menonton, saya berpikir bahwa film ini mungkin hanya ditujukan sebagai hiburan. Lagi pula, untuk biopik, The Greatest Showman memang cukup ringan.

GREATEST-SHOWMAN-5

Melihat bagaimana P.T. Barnum memulai bisnisnya dengan pinjaman ilegal, merekrut pemain pertunjukkan dengan bujuk-rayu seolah-olah hidup itu mudah bersamanya, dan mencapai kesuksesan sebenarnya tidak begitu menyenangkan.

Sebagai catatan, orang-orang yang direkrut Barnum dalam sirkusnya adalah mereka dengan keterbatasan dan kelainan dalam isu kesehatan. Albino, orang-orang dengan tubuh sangat tinggi, sangat pendek, kembar siam, kelainan hormon pada wanita yang menyebabkan bagian tubuhnya ditumbuhi bulu lebat, obesitas, dan hal-hal tidak biasa lainnnya.

Bagi saya, The Greatest Showman seolah ingin menonjolkan keterbatasan orang-orang disabilitas. Seolah pihak dengan keterbatasan tak punya pilihan lain selain ikut menjadi objek yang dipertontonkan dalam “kereta sirkus” P.T. Barnum. Padahal, ada banyak yang bisa dilakukan.

Mengeksploitasi keterbatasan seseorang, menjadikannya tontonan, apa lagi dengan tujuan mendapatkan uang. Bagi saya adalah tindakan yang tidak seharusnya.

Tapi lagi-lagi, saya tidak mau berburuk sangka dan mencapai pada kesimpulan, The Greatest Showman bukan mengenai P.T. Barnum. Tapi mengenai ambisi mencapai mimpi (walau tentu, seperti yang saya jelaskan di atas, cara memperoleh mimpinya pun tidak begitu bagus). Film biopik tentang sifat manusia yang sangat mengerikan bisa dikemas dalam cerita ringan yang penuh makna.

Saat saya menonton film ini, yaitu pada 6 Januari 2018, ada satu keluarga yang mengaku telah menonton The Greatest Showman untuk kedua kalinya, saat itu. Sang Ibu berkata, “film-nya seru, rame”. Artinya, The Greatest Showman berhasil menjadi tontonan keluarga yang menarik. Dan harus saya akui, film-nya memang ramai. Sangat cocok dengan jadwal rilis yang masih hari-hari libur anak.

GREATEST-SHOWMAN-3

Soundtrack

Selain ramai dengan bintang ternama, pertunjukkan di dalamnya pun berhasil menghipnotis saya. Lagu, tari, dan warna-warni a la sirkus yang ditawarkan dalam film membuat saya mau tak mau menyukai film ini dan larut di dalamnya, sebagai bentuk hiburan. Ada total 10 lagu yang terdaftar dalam album lagu tema The Greatest Showman di Spotify. Di album Spotify, seluruh lagu disusun berdasarkan daftar muncul, jadilah saya mengenang setiap adegan saat saya mendengarkan satu per satu lagu tersebut.

Saya begitu terpesona dengan lagunya yang punya “warna” berbeda tapi sukses bercerita dan meninggalkan bekas baik dalam musik maupun lirik (saya amatir, saya bicara begini berdasarkan pengalaman saja). Tapi begitu film mulai saya memang berharap bisa puas dengan soundtracknya. Karena di awal sudah timbul tulisan bahwa yang menulis lirik adalah pihak yang sama dengan yang menulis soundtrack La La Land.

Awal film dimulai, lagu The Greatest Show diputar dengan adegan singkat panggung sirkus khayalan Barnum. Lagu ini memang punya tempo cepat dan lirik yang “mengundang”. Saya, yang mendengarkan sekaligus menyaksikan, langsung bersemangat dan menantikan dimulainya pertunjukkan. Ada kesan “mewah” yang saya dapatkan ketika mendengarkan lagu ini. Karena tidak hanya musik dan lirik saja yang bisa saya dengar, tapi juga efek suara lain. Suasana sirkus seperti hidup dengan suara api dan harimau yang mengaum dalam lagu. Lagu ini jadi salah satu lagu favorit untuk meningkatkan mood saya.

Lagu kedua yang menarik bagi saya adalah Never Enough yang dinyayikan oleh Loren Allred. Lagu ini berkisah tentang harapan, upaya, bercampur dengan rasa congkak dan serakah seseorang dalam menggapai mimpinya. Ini memang menjadi salah satu fokus cerita dalam film The Greatest Showman. Barnum yang telah sukses dengan sirkus-nya, selalu berusaha melebarkan bisnisnya, apa pun cara yang ditempuh. Padahal, capaian Barnum sendiri sudah lebih dari cukup. Keserakahan inilah yang nantinya malah membuat masalah baru dalam bisnis dan rumah tangganya.

Setelahnya, ada lagu istimewa yang dinyanyikan oleh Keala Seattle berjudul This Is Me yang begitu menarik saya, sejak dari trailer.

Meski hubungan saya dengan film ini adalah love-hate-relationship, tapi khusus lagu ini, saya cinta. Lagu ini adalah “jantung” bagi mereka yang “berbeda” dalam film ini. Penyemangat. Lagu ini seolah ingin berkata: embrace yourself, your weirdest, all of you. Because you deserve everything, everyone gets. Saya harus mati-matian menahan nangis di bioskop waktu mendengar lagu ini. Sepanjang lagu, saya mengamini, memang kita harus berdamai dengan diri kita.

Ada juga Rewrite The Stars yang dinyanyikan oleh dua karakter fiksi, Phillip Carlyle dan Anne Wheeler. Film ini rupanya juga ingin mengangkat perbedaan ras yang begitu lekat pada masa itu. Anne Wheeler yang merupakan perempuan berkulit gelap jatuh cinta pada Phillip Carlyle. Hal tersebut sama seperti yang dirasakan Carlyle. Namun malang, perbedaan tersebut mempersulit jalan mereka bersama. Cerita mereka sedih, baiknya kalian tonton sendiri.

Terakhir, lagu berjudul Tightrope begitu memesona saya. Ceritanya mengenai keikhlasan hati seorang perempuan yang meninggalkan segala sesuatu yang ia miliki, berani melangkah tanpa mengharapkan apa pun demi bersama sang pujaan hati. Sederhananya, lagu ini bercerita tentang kodrat seorang istri. Saya jadi ingat pesan mama soal istri.. “Suami mau ke lobang semut pun harus ikut”. By the way, di film ini saya bisa mendengarkan Hugh Jackman dan Michelle Williams nyanyi, bagus.

Meski tidak begitu puas dengan cerita yang diangkat dalam film ini, tapi harus saya akui bahwa soundtracknya sangat saya suka. Maka, saya mengalami kegalauan luar biasa untuk film ini. Tapi lagi-lagi, mari menyingkirkan segala fakta buruk tentang Barnum dan menikmati film ini hanya sebatas hiburan saja. Saya suka film ini.

Semua gambar diambil dari Google, semua video di-salin-tempel dari YouTube

Advertisements

2017 dan hal-hal manis yang menyertainya

NAZTASAARI-2017

Saat saya menyambut 2017, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak lagi cengeng. Untuk menyudahi “uring-uringan” dan mencoba menerima diri saya seutuhnya. Tidak ada resolusi khusus untuk tahun 2017. Pokoknya, saya harus mau belajar untuk menjadi yang lebih baik lagi. Karena sejujurnya, 2016 adalah tahun yang sulit bagi saya.

Saya ingat, bagaimana setumpuk kegalauan dan keraguan yang belum sedikit pun berkurang mengiringi kepergian saya bersama kereta malam dari Purwokerto menuju Jakarta. Yakin, mau pulang? Empat hari disapa keramahan Purwokerto bikin saya betah, ogah pulang. Tapi saya yakin. Terlebih rasa rindu saya pada mama dan rumah.

Maka saya pulang, menyambut 2017. 2017 adalah tahun yang manis dan diakhiri dengan penuh cinta. Walau mustahil rasanya melalui satu hari tanpa masalah, tapi saya bisa katakan, banyak kejadian manis yang terjadi di 2017.

Berkereta Sampai Puas

NAZTASAARI-2017-9

Gara-gara perjalanan ke Purwokerto di akhir 2016 lalu, saya jadi ketagihan jalan-jalan dan bertemu orang, khususnya berkereta. Dari yangti di Purwokerto dulu, saya belajar mengganti patah hati dengan semangat dan merelakan apa yang tidak dapat dimiliki. Sejujurnya, sosok yangti pula yang membuat saya semakin bersyukur dan semakin ingin pulang. Karena rindu mama ketika melihat yangti. Semoga yangti selalu dalam keadaan sehat.

Di 2017, saya banyak berkunjung ke beberapa tempat. Beberapa kali ke Bandung dan sekali ke Yogyakarta. Beberapa dilakukan seorang diri, beberapa dengan teman. Rasanya begitu puas dan menyenangkan.

Setiap perjalanan, tidak hanya menyisakan kenangan dan cerita. Saya banyak bertemu orang-orang lama dan baru yang sepertinya tidak habis-habis memberikan saya inspirasi. Melalui perjalanan panjang itu pula, saya dapat waktu yang cukup banyak untuk berhenti sejenak, kembali mengingat, dan bersyukur atas apa yang telah saya miliki. Ketika berangkat, kereta menjadi saksi antusiasme dan harapan saya dengan kota tujuan. Ketika pulang, kereta pula yang menjadi saksi haru perpisahan dengan kota yang penuh kenangan.

Semoga di 2018, saya berkesempatan melakukan perjalanan ke tempat dan bertemu dengan orang baru lagi.

Pernikahan Para Sahabat

NAZTASAARI-2017-8

Kabar baik itu akhirnya datang. Kabar dari dua sahabat yang sangat saya sayangi. Yang sangat saya tahu kisahnya dan saya harapkan berakhir manis. Mungkin bagi sebagian orang aneh, tapi saya merasa begitu bahagia mendengar pernikahan keduanya. Sampai berlebihan dan malah nangis sesegukan waktu melihat keduanya berjalan bersisian menuju pelaminan. AKHIRNYA. Semoga keduanya selalu dilimpahi berkah dalam keluarga kecil mereka.

Mengumpulkan Tawa

NAZTASAARI-2017-7

Suatu ketika, saya pernah mendengar sebuah kutipan. Katanya, sahabat adalah seorang yang membentuk kita. Sahabat mungkin bukan saudara sedarah, tapi sahabat adalah saudara satu hati. Mungkin kutipan itu ada benarnya. Dan entah kenapa, tahun ini saya begitu merindukan mereka yang membentuk watak konyol saya.

Ada keinginan dalam hati, untuk bertemu satu per satu dari mereka. Saya ingin kembali menghabiskan waktu bersama. Membahas apa saja yang bisa kami bahas, menertawakan setiap jengkal kebodohan tanpa tapi. Dan lagi-lagi, 2017 jadi begitu manis karena saya berhasil bertemu dengan hampir dari semua orang yang saya rindukan.

Tanpa disadari, kesibukan membuat saya lupa bahwa saya punya si A dan si B yang juga berhak ditanyai kabarnya. Saya tidak mau lupa. Dan semoga tidak ada lagi kata lupa untuk mengumpulkan tawa mereka di kemudian hari.

Tahun ini saya berhasil mengumpulkan dan bertemu dengan sahabat saya dari SD, SMP, SMA, dan kuliah. Walau ada beberapa yang tidak bisa saya temui. Yang paling membuat saya senang adalah berkumpulnya saya, Laras, dan Bella di suatu malam. Sudah lama sekali kami tidak menghabiskan waktu bertiga. Hanya kami bertiga.

Semoga semakin banyak tawa yang terkumpul di 2018.

2017..

Seperti Kabut

Seperti Kabut, sebuah puisi karya Sapardi Djoko Darmono

2017 akhirnya berlalu. Tidak ada pencapaian yang bisa dipamerkan, tapi entah kenapa membuat saya cukup bangga. Kisah-kisah di atas, hanya sebagian kecil, sekecil remah-remah biskuit malkis, yang entah kenapa begitu berkesan. 2017 ditutup dengan manis. Dengan hadirnya kisah yang belum bisa saya bagikan. Ada banyak sekali harapan dan cita-cita yang saya gantungkan untuk 2018. Untuk saya, dia, dan mereka yang menunggu di “pada suatu hari baik nanti”.

Terima kasih 2017, selamat datang 2018.

Apa yang saya ketahui soal Sudden Deafness?

NAZTA-SAARI-25

Beberapa hari lalu seorang teman bertanya pada saya mengenai sudden deafness. Ia berkeluh, sudah beberapa hari telinganya kedap. Selain telinga kedap, ia juga menderita flu. Kejadian yang sama pernah terjadi pada saya, Februari 2016 lalu. Satu bulan setelah berbahagia karena setelah sekian lama menganggur, akhirnya diterima kerja juga.

11 Februari 2016 jadi hari campur aduk bagi saya. Saya ingat betul, pagi hari saya sempat merasa deg-degan karena untuk pertama kalinya akan izin pulang cepat dari kantor. Hal lain yang saya rasakan hari itu adalah senang. Bagaimana tidak, teman saya membelikan tiket Jakarta-Semarang dan sebaliknya gratis dengan jadwal keberangkatan Jumat, 12 Februari 2016 malam.

Tapi saya tidak bisa terbang tanpa periksa. Pemeriksaan rutin karena saya ingin melakukan penerbangan, sedang flu, vertigo, dan telinga kanan yang mendadak tidak bisa mendengar. Tiga alasan terbelakang sebenarnya sudah saya derita sejak kurang lebih satu minggu lamanya. Saya tidak mengacuhkannya karena saya anggap itu efek flu. Telinga kanan saya punya sejarah buruk, dan itu sudah biasa.

Izin pulang cepat hari itu pun saya khususkan untuk pemeriksaan ke dokter THT langganan di rumah sakit THT di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Malam itu, lama saya menunggu dengan perasaan campur aduk hingga tiba waktu saya masuk ke ruang periksa dokter.

Prosedurnya, sudah saya hapal. Dokter menanyai keluhan saya, dan saya ceritakan maksud tujuan saya. Lalu dokter menyuruh saya untuk berbaring di meja periksa dan sama-sama melihat kondisi “mutiara” dalam telinga yang biasanya menjadi masalah. Mutiara yang dimaksudkan adalah si gendang telinga. Si mutiara begitu cantik, tak ada masalah. Bahkan kotoran telinga pun hari itu tak ada. “Boleh terbang!”, ucap dokter, mantap.

Tapi lalu saya ceritakan keluhan saya yang lain. Bahwa telinga kanan saya mendadak kedap suara sejak beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba dan tanpa rasa sakit. Dokter sedikit heran, tapi lalu kembali memeriksa telinga kanan saya. Dokter kemudian meminta suster menyiapkan ruang periksa intensif. Ruangannya seram seperti ruang bedah. Dan saya disuruhnya menunggu di sana.

Rasanya berdebar-debar sekali. Ada apa? Kenapa dokter yang biasanya bawel mendadak tak bicara apa pun ketika saya bilang keluhan lanjutan saya itu?

Dokter datang tak lama kemudian dan mulai memeriksa kuping saya. Beberapa bagian kepala saya disentuh dan saya disuruh “melacak” arah suara. Beliau kemudian berkata bahwa saya terkena stroke telinga dan dianjurkan rawat inap malam ini juga. Sebagai rujukan, dokter menulis surat rawat inap untuk RS. Bedah THT Proklamasi.

Sebelum membaca lebih lanjut, perlu diketahui bahwa postingan ini hanya berdasarkan apa yang saya alami dan ketahui dari google, dokter umum, dan dokter THT TAPI mungkin tidak rinci. Jadi jika ada kekeliruan, mohon bantuan mengoreksi ya..

Apa itu sudden deafness?

Merujuk arti katanya, sudden deafness itu ya mendadak tuli. Dari pencarian di google, sudden deafness punya nama medis sudden sensorineural hearing loss atau SSNHL. Dikatakan sudden deafness mana kala telinga yang satu atau keduanya kehilangan kemampuan mendengar lebih dari 30 desibel dalam tiga frekuensi berurutan. Ini bisa dilihat dari hasil audiogram. Tuli. Menurut Laras, kata-kata itu digunakan oleh orang awam dan dalam kedokteran, jadi jangan tersinggung dengan penyakit satu ini.

Apa penyebabnya?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Dokter saya pun berkata, ada banyak hal yang menyebabkan sudden deafness terjadi tapi tidak pasti. Kalau googling sih, penyebabnya bisa karena tekanan darah, trauma, penyakit dalam telinga, pengaruh obat, dll. Saat terapi hiperbarik, beberapa pasien yang senasib dengan saya bercerita soal sebab mereka mendapatkan sudden deafness. Ada yang karena menyelam lalu tiba di darat malah tak bisa mendengar, ada yang oleh-oleh dari pendakian terakhir, ada yang karena demam, ada juga yang karena benturan.

Pada kasus saya, sejujurnya saya tidak tahu penyebabnya. Karena awalnya yang  saya rasakan hanya kedap suara di sebelah kanan dan hidung yang agak tersumbat. Tidak ada rasa sakit sama sekali. Maka saya kira awalnya hanya flu. Beberapa hari sebelum periksa, saya sempat merasakan vertigo maha dahsyat sampai-sampai mual dan panas-dingin. Menurut dokter, harusnya ketika vertigo itu saya buru-buru cek..

Bagaimana pengobatannnya?

Laras pernah bilang ke saya kalau sakit itu, yang diobati penyebab sakitnya. Jadi kalau pusing karena gigi berlubang yang diobati sebenarnya bukan kepalanya, tapi gigi berlubangnya. Bagaimana dengan sudden deafness? Yang saya lalui adalah terapi syaraf. Dari infus, suntik, dan obat minum. Saya dirawat selama sembilan hari, selama itu juga saya diinfus dan suntik. Selain itu, di rumah sakit saya juga tidak diperbolehkan makan makanan bergaram. Lalu terakhir, ada terapi hiperbarik.

Hiperbarik adalah terapi oksigen murni di mana saya dan beberapa pasien lainnya masuk ke dalam chamber (kamar kecil) yang di dalamnya sudah ada seperangkat alat hisap oksigen murni. Chamber itu spesial, karena selain duduk-duduk sambil bernafas, di dalam sana nantinya tekanan udara akan berbeda. Dibuat bertahap dari sedang ke dalam, seperti saat menyelam atau terbang. Jadi ketika terapi hiperbarik itu yang saya rasakan adalah telinga yang begitu sakit seperti ketika di pesawat. Tapi tentu, saya harus bisa mengendalikan rasa sakit. Makanya di dalam tersedia minuman, majalah, permen, dan teman ngobrol. Karena jika telinga kedap karena ketinggian, sebenarnya obatnya sederhana saja, membuka rongga telinga dengan cara menggerakan mulut. Saya melewati 10 kali sesi terapi hiperbarik. Terapi harus dilakukan bersambung, sekali setiap harinya, dan tidak boleh dibarengi dengan jadwal terbang di hari yang sama.

Bisakah kembali normal?

Dokter yang menangani saya mengatakan kemungkinan sembuh pasti ada, tapi berapa persen pendengaran saya yang kembali itu yang tidak bisa dipastikan. Terlebih saya sudah melewati masa emas. Masa emas yang dimaksud adalah dua-tiga hari setelah telinga mendadak tuli. Jika saya memeriksakan telinga dalam waktu paling lama tiga hari itu, maka kemungkinan pendengaran kembali semakin besar. Dari google, saya juga menemukan bahwa ada beberapa kasus sudden deafness yang mendapatkan kembali pendengarannya secara tiba-tiba, tapi ada juga yang tidak kembali.

Saya sempat berpikir lama ketika akan menulis posting ini. Buat apa? Tidak semua orang bisa menerima keadaan ini. Tapi saya teringat teman saya yang bertanya soal sudden deafness. Saat dia bertanya pada saya, jujur saya takut teman saya mengalami hal yang sama. Saya tidak mau ada “saya” yang lain, karena mengabaikan kesehatan telinga. Bagaimana pun, kesehatan telinga sama pentingnya dengan kesehatan tubuh yang lain. Jadi jika ada keluhan, ada baiknya segera diperiksakan dan tidak usah sok jadi dokter sendiri.