2017 dan hal-hal manis yang menyertainya

NAZTASAARI-2017

Saat saya menyambut 2017, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak lagi cengeng. Untuk menyudahi “uring-uringan” dan mencoba menerima diri saya seutuhnya. Tidak ada resolusi khusus untuk tahun 2017. Pokoknya, saya harus mau belajar untuk menjadi yang lebih baik lagi. Karena sejujurnya, 2016 adalah tahun yang sulit bagi saya.

Saya ingat, bagaimana setumpuk kegalauan dan keraguan yang belum sedikit pun berkurang mengiringi kepergian saya bersama kereta malam dari Purwokerto menuju Jakarta. Yakin, mau pulang? Empat hari disapa keramahan Purwokerto bikin saya betah, ogah pulang. Tapi saya yakin. Terlebih rasa rindu saya pada mama dan rumah.

Maka saya pulang, menyambut 2017. 2017 adalah tahun yang manis dan diakhiri dengan penuh cinta. Walau mustahil rasanya melalui satu hari tanpa masalah, tapi saya bisa katakan, banyak kejadian manis yang terjadi di 2017.

Berkereta Sampai Puas

NAZTASAARI-2017-9

Gara-gara perjalanan ke Purwokerto di akhir 2016 lalu, saya jadi ketagihan jalan-jalan dan bertemu orang, khususnya berkereta. Dari yangti di Purwokerto dulu, saya belajar mengganti patah hati dengan semangat dan merelakan apa yang tidak dapat dimiliki. Sejujurnya, sosok yangti pula yang membuat saya semakin bersyukur dan semakin ingin pulang. Karena rindu mama ketika melihat yangti. Semoga yangti selalu dalam keadaan sehat.

Di 2017, saya banyak berkunjung ke beberapa tempat. Beberapa kali ke Bandung dan sekali ke Yogyakarta. Beberapa dilakukan seorang diri, beberapa dengan teman. Rasanya begitu puas dan menyenangkan.

Setiap perjalanan, tidak hanya menyisakan kenangan dan cerita. Saya banyak bertemu orang-orang lama dan baru yang sepertinya tidak habis-habis memberikan saya inspirasi. Melalui perjalanan panjang itu pula, saya dapat waktu yang cukup banyak untuk berhenti sejenak, kembali mengingat, dan bersyukur atas apa yang telah saya miliki. Ketika berangkat, kereta menjadi saksi antusiasme dan harapan saya dengan kota tujuan. Ketika pulang, kereta pula yang menjadi saksi haru perpisahan dengan kota yang penuh kenangan.

Semoga di 2018, saya berkesempatan melakukan perjalanan ke tempat dan bertemu dengan orang baru lagi.

Pernikahan Para Sahabat

NAZTASAARI-2017-8

Kabar baik itu akhirnya datang. Kabar dari dua sahabat yang sangat saya sayangi. Yang sangat saya tahu kisahnya dan saya harapkan berakhir manis. Mungkin bagi sebagian orang aneh, tapi saya merasa begitu bahagia mendengar pernikahan keduanya. Sampai berlebihan dan malah nangis sesegukan waktu melihat keduanya berjalan bersisian menuju pelaminan. AKHIRNYA. Semoga keduanya selalu dilimpahi berkah dalam keluarga kecil mereka.

Mengumpulkan Tawa

NAZTASAARI-2017-7

Suatu ketika, saya pernah mendengar sebuah kutipan. Katanya, sahabat adalah seorang yang membentuk kita. Sahabat mungkin bukan saudara sedarah, tapi sahabat adalah saudara satu hati. Mungkin kutipan itu ada benarnya. Dan entah kenapa, tahun ini saya begitu merindukan mereka yang membentuk watak konyol saya.

Ada keinginan dalam hati, untuk bertemu satu per satu dari mereka. Saya ingin kembali menghabiskan waktu bersama. Membahas apa saja yang bisa kami bahas, menertawakan setiap jengkal kebodohan tanpa tapi. Dan lagi-lagi, 2017 jadi begitu manis karena saya berhasil bertemu dengan hampir dari semua orang yang saya rindukan.

Tanpa disadari, kesibukan membuat saya lupa bahwa saya punya si A dan si B yang juga berhak ditanyai kabarnya. Saya tidak mau lupa. Dan semoga tidak ada lagi kata lupa untuk mengumpulkan tawa mereka di kemudian hari.

Tahun ini saya berhasil mengumpulkan dan bertemu dengan sahabat saya dari SD, SMP, SMA, dan kuliah. Walau ada beberapa yang tidak bisa saya temui. Yang paling membuat saya senang adalah berkumpulnya saya, Laras, dan Bella di suatu malam. Sudah lama sekali kami tidak menghabiskan waktu bertiga. Hanya kami bertiga.

Semoga semakin banyak tawa yang terkumpul di 2018.

2017..

Seperti Kabut

Seperti Kabut, sebuah puisi karya Sapardi Djoko Darmono

2017 akhirnya berlalu. Tidak ada pencapaian yang bisa dipamerkan, tapi entah kenapa membuat saya cukup bangga. Kisah-kisah di atas, hanya sebagian kecil, sekecil remah-remah biskuit malkis, yang entah kenapa begitu berkesan. 2017 ditutup dengan manis. Dengan hadirnya kisah yang belum bisa saya bagikan. Ada banyak sekali harapan dan cita-cita yang saya gantungkan untuk 2018. Untuk saya, dia, dan mereka yang menunggu di “pada suatu hari baik nanti”.

Terima kasih 2017, selamat datang 2018.

Advertisements

If.

nazta-saari-photo

If.

If only you were here,
I would ask everything to you.
Because I know
You wont let me leave with all of these curiousity
You wont let anybody broke my heart
You wont let me feel the hardness of life.

You were leaving for good, I know
I must learn to become stronger, I will

But one thing they can’t replace with,
One thing they don’t understand,
And one thing that complete a hole in my heart.
Is you.

I love you, I miss you.

this post originally posted on my Instagram  September 12, 2016

Memiliki kehilangan

nazta-saari-blog

Aku ingat bertahun-tahun lalu, ketika masih duduk di SMP, ikut ke kantor mama papa di waktu libur sekolah adalah kegiatan wajib kami. Biasanya paling tidak ada satu hari dari libur panjang yang kami habiskan di kantor mama, dan satu hari lainnya di kantor papa. Atau aku di kantor mama, dan kiza di kantor papa, atau sebaliknya.

Sampai sekarang aku sendiri tidak tahu pastinya kenapa orang tua ku menerapkan cara itu. Tapi, marilah berbaik sangka dengan berpikir bahwa itu mereka lakukan sebagai upaya mendekatkan diri dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan kami.

Aku selalu suka ikut orang tua ku ke kantor. Aku bisa main komputer sepuasnya, saat itu permainan komputer tidak banyak. Tapi yang paling aku suka adalah pin ball. Aku juga bisa makan siang enak. Kalau ke kantor papa, aku bisa leluasa berinternet, saat itu internet termasuk dalam hal mewah yang jarang ditemui. Biasanya aku buka Friendster, masuk halaman MySpace orang, membaca blog tentang DBD (karena waktu itu aku takut sekali dengan penyakit ini), lalu download MP3

Kegiatan terakhir merupakan hal wajib yang pasti aku manfaatkan dengan maksimal. Karena tidak semua CD di rumah isinya bisa dipindahkan dalam bentuk digital dan mumpung bisa download gratis tanpa harus ke warnet.

Aku ingat, saat itu aku dan adikku menghabiskan satu hari kami berdua di kantor papa. Ruangan papa sangat besar, ketika itu karena tubuh kami kecil. Aku bisa main di kursi papa yang empuk dan sepertinya terlalu sering kosong, sementara adikku duduk dekat kulkas. Kulkas biasanya diisi penuh dengan cokelat-cokelat dan permen oleh sekretaris papa.

Duduk di bangku papa sekitar pukul dua siang, aku sudah kebingungan mau download apa lagi. Soalnya semua lagu yang mau ku download sudah masuk dalam flashdisk berkapasitas 128 mb biru metalikku. Akhirnya yang ku lakukan adalah membuka layanan chat Yahoo! Messanger. Tidak ada mIRC karena itu laptop kantor papa. Karena tidak ada yang bisa kulakukan lagi, akhirnya aku hanya bisa browsing asal.

Entah apa yang membuatku sampai pada laman YouTube video clip Letto, Memiliki Kehilangan. Video klip-nya tidak begitu menarik perhatianku saat itu, malah cenderung aneh. Tapi lagunya membuatku jatuh cinta. Apalagi liriknya yang begitu menyentuh.

Hingga saat ini, kadang aku masih mendengarkan lagu itu sambil mengenang masa-masa ketika aku menemukan lagu itu. Benar kata lagu itu, rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya.