Berpangku kenang

nazta-saari-blog-untuk-hari-hari-yang-telah-berlalu

Membelai sayang, dibuang malang
Asa terajut hanya sepenggalan
Terkikis hati oleh ingatan,
Tangis dan jerit tertahan
Pada rindu yang terpenjara

Depok, 9 Juli 2017

Advertisements

Tentang rindu

pic1

Pengecup rindu, hujan
yang hadirnya tak sanggup sembuhkan luka
yang cumbunya sedingin malam kelam
yang membiarkanmu tenggelam dalam kebutaan
yang mengejar dan mencari pelita
yang menemukan tapi tak terbelai
yang pada akhirnya sisakan lubang
yang memeluk hati yang terperangkap
yang menyisakan apa yang disebut kenangan
yang menghadirkan pengecup rindu, hujan.

Argya dan Lagu Layang-Layang

Beberapa malam lalu, ada kejadian lucu di rumah tempat ku tinggal di hari kerja. Sepupuku yang baru masuk Sekolah Dasar (SD), Argya, adalah tokoh utama cerita ini.

Ketika itu aku sedang bersantai sepulang kerja. Selepas sholat Isya di kantor, aku pulang dan mendapati Argya dan Ibunya sedang mengerjakan pekerjaan rumah di ruang tamu. Rumah nenek ku memang bukan rumah yang besar, tidak banyak ruang untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, adalah pemandangan yang wajar kalau aku menemukan Argya, Nayla, atau siapapun mengerjakan PR nya di sana.

Kali itu, Argya yang baru masuk SD sedang mengerjakan PR Bahasa Indonesia. Membaca dan berdiskusi. Karena topiknya terlalu berat dan Argya mulai bosan, lalu tibalah ia di PR melengkapi lirik lagu.

Sewaktu kecil dulu, aku suka sekali menyanyi lagu. Aku punya kaset rekaman suaraku dan ibuku yang ketika itu sengaja dibuat oleh mama untuk dikirim ke papa. Di kaset, aku terdengar begitu pemalu tapi sangat suka menyanyi. Lagu apapun aku nyanyikan. Mulai dari lagu anak-anak seperti Balonku Ada Lima, Du Di Dam, lalu ada jingle iklan seperti jingle Sustagen Junior, sampai soundtrack sinema televisi favorit “Anak Betawi, ketinggalan zaman, katenye~”.

Itu sudah lama sekali, tahun 1993-an. Terakhir kali aku mendengarkan lagu anak mungkin lagu Tikus Makan Sabun. Lagu itu aku dengar di akhir masa Sekolah Dasar ku. Aku tidak begitu menyukai lagu itu karena tidak masuk akal tapi anehnya lagu itu masih terngiang-ngiang di kepala ku hingga kini.

Kalau dipikir-pikir, lagu anak pada masa ku dulu dengan masa sekarang sangat berbeda. Anak-anak sekarang tidak lagi polos dan cenderung agresif. Perkembangan zaman membawa perkembangan yang pesat juga pada anak-anak. Contohnya Argya ini.

Ketimbang lagu anak-anak, dia lebih terbiasa mendengarkan lagu EXO, boy band asal Korea, atau lagu Kesempurnaan Cinta-nya Rizky. Kalau ditanya penyanyi anak, Argya akan menjawab CJR yang lagunya menurutku jauh dari kata anak-anak.

Kembali lagi ke Argya. Malam itu, ia mengeluarkan buku tulis dan buku teks-nya. Perlahan ia mulai membaca lirik yang asing bagi dirinya tapi begitu akrab ditelingaku

“Ku ambil buluh sebatang, ku potong sama panjang
Ku raut dan ku timbang dengan benang, ku jadikan layang-layang”

Karena tidak tahu lagunya, Argya hanya membaca lirik dengan nada datar. Lalu bertanya kepadaku apa yang harus ia isi di jeda kosong yang seharusnya diisi dengan kata “buluh” itu. Tapi alih-alih menjawab, aku malah menyanyikan lagu itu dengan ceria. Sudah lama sekali aku tidak mendengar lagu itu.

Argya menatapku dengan tatapan yang ragu, antara aneh tapi ia juga tersenyum. Terlihat sekali bahwa ia menikmati lagu yang sejatinya diciptakan oleh Madong Lubis itu. Ia tidak mengenal lagu itu, tapi ia jelas menikmati lagu itu, karena ia anak-anak dan itu adalah lagunya, lagu anak-anak.

Argya bahkan memintaku untuk mengulangi lagu Layang-Layang itu lagi dan lagi kemudian bernyanyi bersamaku. Katanya ia ingin menyanyikan lagu itu di depan kelas, “Tapi kalau nggak hapal, Dede mau nyanyi EXO aja” *tetep.

Malam sebelum tidur, ia menghampiriku dan mengecup pipiku sambil berkata bahwa itu adalah hadiah karena aku telah bernyanyi lagu Layang-Layang untuknya.

Kalau dipikir-pikir masa kecil ku dulu indah sekali ya. Banyak permainan dan lagu anak yang mendukung pertumbuhanku. Penyanyi anak mulai dari Trio Kwek-Kwek, Maesy, Chikita Meidy, hingga ketika itu Joshua dengan Diobok-Oboknya menjadi populer karena liriknya yang ‘bermain’ dengan dunia anak-anak. Bahkan aku ingat sekali dulu setiap akhir pekan selalu ada program khusus anak yang selalu dinanti, Tralala Trilili dan Ci Luk Ba. Bahkan dulu Susan dan Si Unyil menjadi serial favorit anak pada masa itu.

Aku jadi ingin mengenalkan banyak lagu anak ke Argya. Bukannya apa-apa, tapi bagiku sayang jika masa kecil anak-anak dihabiskan dengan konten lagu, tontonan, dan pertunjukkan yang tidak sesuai dengan usianya.