Buku: Colorless Tzukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

Colorless-Tsukuru-Tazaki-and-his-Years-of-Pilgrimage-by-Haruki-Murakami-Nazta-Blog

Colorless Tzukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Philip Gabriel
Tebal: 386 halaman
Alfred A. Knopf
2014

“.. If something is important enough, a little mistake isn’t going to ruin it all, or make it vanish. It might not be perfect, but the first step is actually building the station. Right?”

Diceritakan seorang lelaki berusia 30-an tahun bernama Tsukuru Tazaki yang berasal dari Nagoya dan telah lama tinggal di Tokyo. Dirinya adalah seorang yang tertutup, dan dari apa yang aku baca, bisa disimpulkan bahwa Tsukuru Tazaki adalah seorang pemikir keras. Ia membangun dinding tebal dan tinggi yang sulit untuk didaki oleh orang-orang di sekitarnya akibat trauma dari masa lalu.

Trauma dan ketakutan berlebih akan ditinggalkan.

Semua berawal dari persahabatannya dalam sebuah kelompok berisi lima orang yang amat sangat dekat sejak SMA. Empat dari lima orang dalam kelompok memiliki nama dengan unsur warna. Adalah Aka (merah), Ao (biru), Shiro (putih), Kuro (hitam), dan dirinya yang tanpa warna, Tzukuru Tazaki.

Awalnya, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi Tsukuru. Ia diterima dengan sangat terbuka oleh keempat temannya. Ia bahkan menggambarkan persahabatannya dengan empat orang lainnya seperti sebuah harmoni yang indah dan saling melengkapi. Walau kelimanya memiliki karakter berbeda, persahabatan mereka begitu erat dan lekat.

Bahkan ketika lulus SMA dan Tzukuru Tazaki melanjutkan kuliah di Tokyo, kelimanya masih baik-baik saja. Sesekali, Tzukuru Tazaki akan kembali ke Nagoya dan menghubungi satu per satu sahabatnya. Mereka akan menghabiskan waktu bersama-sama seperti dulu.

Hingga suatu hari di tahun keduanya di Tokyo, Tzukuru Tazaki tidak bisa mengontak sahabat-sahabatnya. Mereka seolah-olah melarikan diri dari Tzukuru. Semua semakin jelas ketika secara terang-terangan salah seorang dari mereka menelepon Tzukuru dan berkata bahwa baiknya mereka tidak pernah bertemu lagi.

Tzukuru Tazaki tidak pernah mengerti: apa, mengapa, dan bagaimana semua bisa terjadi padanya. Ia begitu patah hati karena ditinggalkan oleh orang-orang yang begitu ia percaya. Ia menyalahkan dirinya yang dianggap tidak memiliki hal spesial. Terlebih, ia tidak tahu dan tidak pernah mencari tahu alasan mereka mengeluarkan Tzukuru Tazaki dari kelompok tersebut.

Tahun demi tahun berlalu, Tzukuru Tazaki hidup dalam kegelapan dan duka yang mendalam. Satu-satunya yang bisa ia andalkan adalah kekasihnya Sara. Namun ketika akan memantapkan hati, Sara malah meminta Tzukuru Tazaki menyusuri dan menyelesaikan masalahnya di masa lalu. Masalah yang begitu membekas dan membuat Tzukuru Tazaki tak bisa membuka hati dan melangkah ke mana-mana.

Maka, satu per satu tabir penyebab patah hatinya pun terbuka.

Setiap orang punya masalah yang berbeda. Sekali waktu, aku bahkan pernah mendengar sebuah paepatah berkata bahwa sepanjang kita masih bernapas, maka selama itu pula masalah akan menerpa (persisinya seperti apa, aku lupa. Tapi intinya seperti itu). Semua tergantung bagaimana kita menghadapinya, seberapa kuat dan tegar kita diterpa badai itu.

Bagi Tzukuru Tazaki, kehilangan jelas adalah badai yang tidak sempat ia prediksi kedatangannya. Karena tak siap, maka luka yang ditinggalkan pun semakin besar. Tapi Haruki Murakami membalut luka Tzukuru Tazaki dalam kisah yang begitu indah. Bukan tentang Tzukuru Tazaki, tapi nilai di balik luka yang tinggal di hati Tzukuru Tazaki tersebut.

Tentang bagaimana sahabat tidak pernah melupakan. Tentang bagaimana sesuatu yang berharga itu tetap tinggal walau tak pernah terucap. Tentang bagaimana kita menyayangi dan melindungi apa yang kita sayangi, yang terkadang membuat kita bahkan lupa dengan melindungi hal yang satu mungkin akan menyakiti hal lainnya. Tentang kecemburuan dan kepercayaan. Juga tentang fondasi dalam sebuah ikatan.

Haruki Murakami lagi-lagi membuat aku jatuh cinta dengan bagaimana ia membuai pembacanya dalam bingkai-bingkai kisah terpisah, untuk menjelaskan satu perkara. Mimpi-mimpi Tzukuru Tazaki, misalnya. Memang kebanyakan mimpi yang “kurang pantas”, tapi di balik mimpi itu, Haruki Murakami seolah ingin melibatkan pembaca dalam kegalauan dan emosi yang membingungkan seorang Tzukuru Tazaki.

Atau mengenai kisah lama yang diceritakan seorang pemuda bernama Haida pada Tzukuru Tazaki tentang kematian. Semua kisah-kisah dalam bingkai berbeda tadi begitu menyihirku.

Kisah-kisah itu dibungkus rapi dalam alur maju-mundur yang detail. Walaupun aku harus bilang, aku kurang terpesona dengan detail latar dalam buku ini. Tapi bagaimana aku dilibatkan dalam pikiran dan keseharian Tzukuru Tazaki yang mungkin begitu membosankan, anehnya justru begitu menarik perhatianku.

Aku telah menceritakan separuh kisah Tzukuru Tazaki pada sebagian besar orang yang aku temui. Aku begitu terpesona dengan ide cerita yang sederhana tapi begitu rumit karena terbawa emosi.

Membaca habis buku ini membuat aku setuju dengan satu hal: That overthinking might be the root of all your problems. Dan aku mengutuk diriku karena menjadi satu dari sekian banyak yang “terbunuh” karena kebanyakan berpikir.

Oh ya, seorang teman pernah memohon padaku tentang satu hal. Katanya: kalau ada masalah cerita ya, jangan jadi gila. Well, it’s true. Sometimes you just can’t hold your problems by yourself. You need someone to catch you when you feeling down. Not for every problems, but sometimes it’s okay to share something to someone you trust. Something. Not everything.

Gubahan Liszt, Le May Du Pays berikut adalah soundtrack dari buku ini. Enjoy!

Advertisements