Tasya, ingat ya..

naztasaari2

Duduk dengan nyaman, baca dengan tenang. Mari kembali ke masa lalu..

“Katanya, Allah itu suka mendengar doa umat-Nya. Makanya kalau doa kita belum dijawab, jangan putus asa”.

Aku tidak tahu, kapan dan dari mana tepatnya aku mendengar kalimat itu pertama kali. Rasanya sudah bertahun-tahun lalu. Entah dari televisi, buku yang ku baca, atau malah salah seorang teman berkata demikian. Tapi kata-kata yang sama ku dengar kembali dari salah seorang temanku, Laras.

Ketika itu kami sedang duduk di rumahnya. Berbincang tentang kehidupan yang penuh kejutan. Tidak mudah ditebak, tapi memaksa kita untuk siap.

Tahun 2016 lalu, Laras membawa aku dan patah hatiku karena kehilangan semangatku ke Yangti di Purwokerto. Ya, Yangti yang ku sebut di postingan lalu adalah nenek Laras. Beliau kehilangan penglihatannya, tapi tidak pernah bosan dan lelah menimba ilmu. Menajamkan telinga, mulai mendengar suara, dan mencari tahu.

Yangti bilang, “Allah menciptakan manusia ini sempurna, mbak Tasya. Penglihatan hilang ya memang sedih, tapi bukan berarti harus sedih terus. Masih ada telinga, masih bisa meraba”

..dan masih banyak hal lain di dunia ini yang bisa kamu syukuri, Tasya
Jangan lupa nikmat lain yang diberikan Allah kepada kamu, saat satu doa belum terjawab atau saat berhadapan dengan satu musibah. Masalahmu itu kecil, jangan dibesar-besarkan. Kamu punya pegangan, genggam erat. Allah mau kamu berusaha lebih, Allah mau mendengar doa mu lebih banyak, Allah mau kamu mendekat, lebih dekat..

Laras boleh jadi salah satu sahabat terbaik yang aku punya. Seseorang yang mungkin banyak ku sebut dalam cerita-ceritaku, meski tanpa menyertakan namanya. Seseorang yang sangat ku syukuri kehadirannya. Laras yang tidak pernah lelah mengembalikan aku ke dunia saat aku berada di atas awan, dan tidak pernah ragu menarikku ke daratan saat aku tenggelam. Yang berani mengingatkan aku bahwa aku salah, bahwa aku tidak benar, bahwa aku sudah benar, bahwa aku sebaiknya bangkit.

“Kepercayaan diriku susut, Ras. Mengecil sampai lebih kecil dari guntingan kuku”, aduku pada Laras.

“Jangan lah, Tas. Jangan minder. Nggak ada yang salah dari lu, lu percaya gue, kan?”

Aku percaya. Sepercaya Laras padaku, meski tidak perlu ku ceritakan apa masalahku.

 

 

“Siapa pun penyebabnya, nggak boleh dendam. Mesti ikhlas. Semua terjadi kan karena izin Allah”

Kata-kata itu ku dapat dari papa. Orang yang paling tegas sekaligus paling lembut yang ku kenal. Aku ingat, dulu ketika aku harus pulang malam, beliau yang sedang tidak enak badan akan menungguku di depan pagar rumah. Beliau akan menunggu aku sampai mematikan lampu dan tidur, karena tahu aku sangat takut gelap. Beliau akan memanggilku ke ruang tamu, menyalakan lampu paling terang dan menyuruhku mengaji walau terbata-bata selepas Isya.

Beliau yang mengajarkan untuk melepaskan diri dari rantai dendam. Biar saja orang lain melukai hatimu, tapi jangan sekali-kali jadi orang yang melukai hati orang lain. Biar saja idemu dicuri, cari ide lain dan jangan dongkol, jangan dendam, jangan rusak hati karena hal-hal seperti itu.

Aku merindukannya. Aku merindukannya menjemputku di malam hari selepas les bahasa Inggris. Aku rindu pa..

Tidak pernah sekali pun ada niat untuk mengecewakan papa dan mama. Kepercayaan mereka lah yang ku jaga. Karena senyum mereka adalah kebahagiaan bagi ku.

Semoga sampai saat ini, tidak ada satu pun kepercayaan mama yang luntur akibat apa pun ya, Sya.

Soal luka di hatimu, siapa pun penyebabnya, relakan. Jangan dipikirin terus, nggak ada guna, Sya. Coba senyum pada mereka, berdamai dengan mereka, berdamai dengan diri sendiri. Mereka mungkin tidak berniat jahat. Ingat kamu masih punya Allah, kamu masih punya waktu untuk menyembuhkan hati.

 

 

Lagi pula, untuk apa kamu memulai? Untuk siapa kamu memulai? Maka selesaikan.

Ingat, niatmu memulai dan terus berjalan bersama niatan itu ya, Sya.

Jangan lupa, senyum.

 

 

Tapi boleh nggak aku nangis sekali aja? :’)

Advertisements

2017 dan hal-hal manis yang menyertainya

NAZTASAARI-2017

Saat saya menyambut 2017, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak lagi cengeng. Untuk menyudahi “uring-uringan” dan mencoba menerima diri saya seutuhnya. Tidak ada resolusi khusus untuk tahun 2017. Pokoknya, saya harus mau belajar untuk menjadi yang lebih baik lagi. Karena sejujurnya, 2016 adalah tahun yang sulit bagi saya.

Saya ingat, bagaimana setumpuk kegalauan dan keraguan yang belum sedikit pun berkurang mengiringi kepergian saya bersama kereta malam dari Purwokerto menuju Jakarta. Yakin, mau pulang? Empat hari disapa keramahan Purwokerto bikin saya betah, ogah pulang. Tapi saya yakin. Terlebih rasa rindu saya pada mama dan rumah.

Maka saya pulang, menyambut 2017. 2017 adalah tahun yang manis dan diakhiri dengan penuh cinta. Walau mustahil rasanya melalui satu hari tanpa masalah, tapi saya bisa katakan, banyak kejadian manis yang terjadi di 2017.

Berkereta Sampai Puas

NAZTASAARI-2017-9

Gara-gara perjalanan ke Purwokerto di akhir 2016 lalu, saya jadi ketagihan jalan-jalan dan bertemu orang, khususnya berkereta. Dari yangti di Purwokerto dulu, saya belajar mengganti patah hati dengan semangat dan merelakan apa yang tidak dapat dimiliki. Sejujurnya, sosok yangti pula yang membuat saya semakin bersyukur dan semakin ingin pulang. Karena rindu mama ketika melihat yangti. Semoga yangti selalu dalam keadaan sehat.

Di 2017, saya banyak berkunjung ke beberapa tempat. Beberapa kali ke Bandung dan sekali ke Yogyakarta. Beberapa dilakukan seorang diri, beberapa dengan teman. Rasanya begitu puas dan menyenangkan.

Setiap perjalanan, tidak hanya menyisakan kenangan dan cerita. Saya banyak bertemu orang-orang lama dan baru yang sepertinya tidak habis-habis memberikan saya inspirasi. Melalui perjalanan panjang itu pula, saya dapat waktu yang cukup banyak untuk berhenti sejenak, kembali mengingat, dan bersyukur atas apa yang telah saya miliki. Ketika berangkat, kereta menjadi saksi antusiasme dan harapan saya dengan kota tujuan. Ketika pulang, kereta pula yang menjadi saksi haru perpisahan dengan kota yang penuh kenangan.

Semoga di 2018, saya berkesempatan melakukan perjalanan ke tempat dan bertemu dengan orang baru lagi.

Pernikahan Para Sahabat

NAZTASAARI-2017-8

Kabar baik itu akhirnya datang. Kabar dari dua sahabat yang sangat saya sayangi. Yang sangat saya tahu kisahnya dan saya harapkan berakhir manis. Mungkin bagi sebagian orang aneh, tapi saya merasa begitu bahagia mendengar pernikahan keduanya. Sampai berlebihan dan malah nangis sesegukan waktu melihat keduanya berjalan bersisian menuju pelaminan. AKHIRNYA. Semoga keduanya selalu dilimpahi berkah dalam keluarga kecil mereka.

Mengumpulkan Tawa

NAZTASAARI-2017-7

Suatu ketika, saya pernah mendengar sebuah kutipan. Katanya, sahabat adalah seorang yang membentuk kita. Sahabat mungkin bukan saudara sedarah, tapi sahabat adalah saudara satu hati. Mungkin kutipan itu ada benarnya. Dan entah kenapa, tahun ini saya begitu merindukan mereka yang membentuk watak konyol saya.

Ada keinginan dalam hati, untuk bertemu satu per satu dari mereka. Saya ingin kembali menghabiskan waktu bersama. Membahas apa saja yang bisa kami bahas, menertawakan setiap jengkal kebodohan tanpa tapi. Dan lagi-lagi, 2017 jadi begitu manis karena saya berhasil bertemu dengan hampir dari semua orang yang saya rindukan.

Tanpa disadari, kesibukan membuat saya lupa bahwa saya punya si A dan si B yang juga berhak ditanyai kabarnya. Saya tidak mau lupa. Dan semoga tidak ada lagi kata lupa untuk mengumpulkan tawa mereka di kemudian hari.

Tahun ini saya berhasil mengumpulkan dan bertemu dengan sahabat saya dari SD, SMP, SMA, dan kuliah. Walau ada beberapa yang tidak bisa saya temui. Yang paling membuat saya senang adalah berkumpulnya saya, Laras, dan Bella di suatu malam. Sudah lama sekali kami tidak menghabiskan waktu bertiga. Hanya kami bertiga.

Semoga semakin banyak tawa yang terkumpul di 2018.

2017..

Seperti Kabut

Seperti Kabut, sebuah puisi karya Sapardi Djoko Darmono

2017 akhirnya berlalu. Tidak ada pencapaian yang bisa dipamerkan, tapi entah kenapa membuat saya cukup bangga. Kisah-kisah di atas, hanya sebagian kecil, sekecil remah-remah biskuit malkis, yang entah kenapa begitu berkesan. 2017 ditutup dengan manis. Dengan hadirnya kisah yang belum bisa saya bagikan. Ada banyak sekali harapan dan cita-cita yang saya gantungkan untuk 2018. Untuk saya, dia, dan mereka yang menunggu di “pada suatu hari baik nanti”.

Terima kasih 2017, selamat datang 2018.

Apa yang saya ketahui soal Sudden Deafness?

NAZTA-SAARI-25

Beberapa hari lalu seorang teman bertanya pada saya mengenai sudden deafness. Ia berkeluh, sudah beberapa hari telinganya kedap. Selain telinga kedap, ia juga menderita flu. Kejadian yang sama pernah terjadi pada saya, Februari 2016 lalu. Satu bulan setelah berbahagia karena setelah sekian lama menganggur, akhirnya diterima kerja juga.

11 Februari 2016 jadi hari campur aduk bagi saya. Saya ingat betul, pagi hari saya sempat merasa deg-degan karena untuk pertama kalinya akan izin pulang cepat dari kantor. Hal lain yang saya rasakan hari itu adalah senang. Bagaimana tidak, teman saya membelikan tiket Jakarta-Semarang dan sebaliknya gratis dengan jadwal keberangkatan Jumat, 12 Februari 2016 malam.

Tapi saya tidak bisa terbang tanpa periksa. Pemeriksaan rutin karena saya ingin melakukan penerbangan, sedang flu, vertigo, dan telinga kanan yang mendadak tidak bisa mendengar. Tiga alasan terbelakang sebenarnya sudah saya derita sejak kurang lebih satu minggu lamanya. Saya tidak mengacuhkannya karena saya anggap itu efek flu. Telinga kanan saya punya sejarah buruk, dan itu sudah biasa.

Izin pulang cepat hari itu pun saya khususkan untuk pemeriksaan ke dokter THT langganan di rumah sakit THT di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Malam itu, lama saya menunggu dengan perasaan campur aduk hingga tiba waktu saya masuk ke ruang periksa dokter.

Prosedurnya, sudah saya hapal. Dokter menanyai keluhan saya, dan saya ceritakan maksud tujuan saya. Lalu dokter menyuruh saya untuk berbaring di meja periksa dan sama-sama melihat kondisi “mutiara” dalam telinga yang biasanya menjadi masalah. Mutiara yang dimaksudkan adalah si gendang telinga. Si mutiara begitu cantik, tak ada masalah. Bahkan kotoran telinga pun hari itu tak ada. “Boleh terbang!”, ucap dokter, mantap.

Tapi lalu saya ceritakan keluhan saya yang lain. Bahwa telinga kanan saya mendadak kedap suara sejak beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba dan tanpa rasa sakit. Dokter sedikit heran, tapi lalu kembali memeriksa telinga kanan saya. Dokter kemudian meminta suster menyiapkan ruang periksa intensif. Ruangannya seram seperti ruang bedah. Dan saya disuruhnya menunggu di sana.

Rasanya berdebar-debar sekali. Ada apa? Kenapa dokter yang biasanya bawel mendadak tak bicara apa pun ketika saya bilang keluhan lanjutan saya itu?

Dokter datang tak lama kemudian dan mulai memeriksa kuping saya. Beberapa bagian kepala saya disentuh dan saya disuruh “melacak” arah suara. Beliau kemudian berkata bahwa saya terkena stroke telinga dan dianjurkan rawat inap malam ini juga. Sebagai rujukan, dokter menulis surat rawat inap untuk RS. Bedah THT Proklamasi.

Sebelum membaca lebih lanjut, perlu diketahui bahwa postingan ini hanya berdasarkan apa yang saya alami dan ketahui dari google, dokter umum, dan dokter THT TAPI mungkin tidak rinci. Jadi jika ada kekeliruan, mohon bantuan mengoreksi ya..

Apa itu sudden deafness?

Merujuk arti katanya, sudden deafness itu ya mendadak tuli. Dari pencarian di google, sudden deafness punya nama medis sudden sensorineural hearing loss atau SSNHL. Dikatakan sudden deafness mana kala telinga yang satu atau keduanya kehilangan kemampuan mendengar lebih dari 30 desibel dalam tiga frekuensi berurutan. Ini bisa dilihat dari hasil audiogram. Tuli. Menurut Laras, kata-kata itu digunakan oleh orang awam dan dalam kedokteran, jadi jangan tersinggung dengan penyakit satu ini.

Apa penyebabnya?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Dokter saya pun berkata, ada banyak hal yang menyebabkan sudden deafness terjadi tapi tidak pasti. Kalau googling sih, penyebabnya bisa karena tekanan darah, trauma, penyakit dalam telinga, pengaruh obat, dll. Saat terapi hiperbarik, beberapa pasien yang senasib dengan saya bercerita soal sebab mereka mendapatkan sudden deafness. Ada yang karena menyelam lalu tiba di darat malah tak bisa mendengar, ada yang oleh-oleh dari pendakian terakhir, ada yang karena demam, ada juga yang karena benturan.

Pada kasus saya, sejujurnya saya tidak tahu penyebabnya. Karena awalnya yang  saya rasakan hanya kedap suara di sebelah kanan dan hidung yang agak tersumbat. Tidak ada rasa sakit sama sekali. Maka saya kira awalnya hanya flu. Beberapa hari sebelum periksa, saya sempat merasakan vertigo maha dahsyat sampai-sampai mual dan panas-dingin. Menurut dokter, harusnya ketika vertigo itu saya buru-buru cek..

Bagaimana pengobatannnya?

Laras pernah bilang ke saya kalau sakit itu, yang diobati penyebab sakitnya. Jadi kalau pusing karena gigi berlubang yang diobati sebenarnya bukan kepalanya, tapi gigi berlubangnya. Bagaimana dengan sudden deafness? Yang saya lalui adalah terapi syaraf. Dari infus, suntik, dan obat minum. Saya dirawat selama sembilan hari, selama itu juga saya diinfus dan suntik. Selain itu, di rumah sakit saya juga tidak diperbolehkan makan makanan bergaram. Lalu terakhir, ada terapi hiperbarik.

Hiperbarik adalah terapi oksigen murni di mana saya dan beberapa pasien lainnya masuk ke dalam chamber (kamar kecil) yang di dalamnya sudah ada seperangkat alat hisap oksigen murni. Chamber itu spesial, karena selain duduk-duduk sambil bernafas, di dalam sana nantinya tekanan udara akan berbeda. Dibuat bertahap dari sedang ke dalam, seperti saat menyelam atau terbang. Jadi ketika terapi hiperbarik itu yang saya rasakan adalah telinga yang begitu sakit seperti ketika di pesawat. Tapi tentu, saya harus bisa mengendalikan rasa sakit. Makanya di dalam tersedia minuman, majalah, permen, dan teman ngobrol. Karena jika telinga kedap karena ketinggian, sebenarnya obatnya sederhana saja, membuka rongga telinga dengan cara menggerakan mulut. Saya melewati 10 kali sesi terapi hiperbarik. Terapi harus dilakukan bersambung, sekali setiap harinya, dan tidak boleh dibarengi dengan jadwal terbang di hari yang sama.

Bisakah kembali normal?

Dokter yang menangani saya mengatakan kemungkinan sembuh pasti ada, tapi berapa persen pendengaran saya yang kembali itu yang tidak bisa dipastikan. Terlebih saya sudah melewati masa emas. Masa emas yang dimaksud adalah dua-tiga hari setelah telinga mendadak tuli. Jika saya memeriksakan telinga dalam waktu paling lama tiga hari itu, maka kemungkinan pendengaran kembali semakin besar. Dari google, saya juga menemukan bahwa ada beberapa kasus sudden deafness yang mendapatkan kembali pendengarannya secara tiba-tiba, tapi ada juga yang tidak kembali.

Saya sempat berpikir lama ketika akan menulis posting ini. Buat apa? Tidak semua orang bisa menerima keadaan ini. Tapi saya teringat teman saya yang bertanya soal sudden deafness. Saat dia bertanya pada saya, jujur saya takut teman saya mengalami hal yang sama. Saya tidak mau ada “saya” yang lain, karena mengabaikan kesehatan telinga. Bagaimana pun, kesehatan telinga sama pentingnya dengan kesehatan tubuh yang lain. Jadi jika ada keluhan, ada baiknya segera diperiksakan dan tidak usah sok jadi dokter sendiri.