Berpangku kenang

nazta-saari-blog-untuk-hari-hari-yang-telah-berlalu

Membelai sayang, dibuang malang
Asa terajut hanya sepenggalan
Terkikis hati oleh ingatan,
Tangis dan jerit tertahan
Pada rindu yang terpenjara

Depok, 9 Juli 2017

Advertisements

Buku: Sabtu Bersama Bapak

sabtu-bersama-bapak-oleh-adhitya-mulya-nsblog

Sabtu Bersama Bapak

Penulis: Adhitya Mulya
Tebal: 278 halaman
Gagasmedia
2014

Sewaktu aku kecil, tidak pernah sekalipun terbesit dalam pikiranku, bagaimana rasanya tumbuh dalam keluarga tanpa salah satu antara ibu atau bapak. Tanpa mama atau papa. Ada seorang temanku di sekolah dasar yang tinggal hanya berdua dengan ibu nya dan tetap merasa bahagia. Tapi tentu rasanya akan berbeda, bukan? Tapi sejujurnya, aku tidak pernah sekalipun memikirkan hal ini.

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Sabtu Bersama Bapak adalah cerita tentang sebuah keluarga. Bukan hanya seorang, tapi sebuah keluarga, dengan dua anak lelaki yang tumbuh berbekal pesan-pesan dari bapak dan ibu yang membimbing dan menyertai mereka. Bapak yang mereka kenal hanya sampai usia di bawah 10 tahun meninggal akibat penyakit kanker yang beliau derita. Namun sebelum meninggal, Sang Bapak menitipkan pesan-pesannya untuk anak-anaknya dalam bentuk rekaman. Dengan harapan anak-anaknya akan tumbuh tanpa kekurangan sosok ayah di samping mereka.

Tapi Sabtu Bersama Bapak bukanlah cerita tentang proses tumbuh kedua anak ini. Bagaimana Satya dan Cakra tumbuh hanya dengan seorang ibu yang menemani mereka hingga dewasa, bukan. Tapi tentang pesan-pesan yang bapak tinggalkan, dan bagaimana pesan-pesan itu bermanfaat dalam kehidupan anak-anaknya di masa mendatang.

Cerita mengalir dengan ringan dan indah dengan alur maju dan mundur pada beberapa bagian. Bagian rekaman-rekaman Pak Gunawan yang disertakan di dalam, sungguh memikat dan bermanfaat. Bahasa yang digunakan pun ringan, mudah dimengerti, dan lucu. Lucu karena penulis menyisipkan satu dua humor pada beberapa bagian cerita.

Tadinya aku ingin membuat ulasan singkat mengenai buku Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya. Tapi aku sadar betul ini tentu tidak mungkin terjadi. Karena sebagai seorang anak yang tumbuh tanpa sosok bapak pun mau tidak mau aku jadi baper, bawa perasaan.

Tidak mudah menjadi kepala rumah tangga. Karena membina satu rumah tangga berarti bapak bertanggung jawab atas istrinya, anak-anaknya, dan dirinya. Bertanggung jawab dalam hal segala urusan yang ada. Rumah tempat mereka tinggal, pendidikan, makan. Aku hanya seorang anak, tapi aku tahu, orang tua tidak akan membiarkan anak-anaknya menderita. Segala pesan dari papa dan mama harus selalu baik-baik didengarkan. Itu prinsipku. Bukan untuk membuat mereka senang, tapi untuk kehidupan kita selanjutnya.

Semenjak awal terbit, sebenarnya aku ingin sekali membaca Sabtu Bersama Bapak. Tapi aku tidak punya cukup keberanian. Karena aku rindu. Dan sesungguhnya, rindu pada sosok yang tidak dapat kamu raih, kamu lihat lagi senyumnya, kamu rasakan lagi kehadirannya, dan bahkan kamu dengar lagi suaranya itu begitu menyakitkan. Dan benar saja, rasa rindu itu begitu terasa dalam diriku sepanjang aku membaca buku ini. Adhitya Mulya berhasil membuat aku tertawa dan menangis dengan bersamaan.

Pada beberapa bagian, aku jadi bertanya-tanya, apa yang akan papa lakukan jika melihat aku dengan keadaan seperti ini sekarang? Kalau sesuatu terjadi padaku, atas keinginanku, tapi bukan inginnya beliau, dan aku menyadari itu tidak seharusnya aku lakukan, beliau pasti akan bilang “Nggak apa-apa, Tasya mau diulang atau dilanjutkan?”. Kalau sekarang, apa yang akan papa katakan? Papa bukan orang yang mudah marah, aku rasa beliau cuma akan tersenyum dan bilang “Ini awal yang baik”.

Anyway, aku jadi kelewatan nih curhatnya. Ada satu pesan dalam buku ini yang sangat aku sukai di halaman 130

Berapa kali kamu terjatuh itu gak penting.
Yang penting berapa kali kamu bangkit lagi

Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya merupakan sebuah karya yang istimewa. Bukan, bukan karena pesan yang mau tidak mau terbawa personal dan aku rasakan dari buku ini. Tapi karena karya ini selesai bertepatan dengan 10 tahun berkaryanya Adhitya Mulya. Aku rasa, buku ini menjadi ‘hadiah’ yang manis bagi penulis dan pembaca.

Lebih istimewanya lagi, buku ini akan segera masuk layar lebar dengan judul yang sama (salah satu alasan kenapa aku harus banget baca buku ini, karena mau difilmkan!). Pemerannya pun adalah aktor dan aktris yang aku suka. Abimana Aryasatya sebagai Bapak Gunawan, Ira Wibowo sebagai Ibu Itje, Arifin Putra sebagai Satya, Deva Mahendra sebagai Cakra, tambahan Acha Septriasa sebagai Rissa. Belum ada tanggal pasti kapan dirilis dan trailernya pun aku rasa belum keluar. Tapi aku sudah pasti akan menjadi salah satu orang yang menonton film dari buku ini.